Sudah bertahun-tahun pakai Android, tapi belum tentu kamu tahu semua yang tersembunyi di dalamnya.
Sistem operasi besutan Google ini menyimpan banyak fitur yang tidak dipromosikan secara terang-terangan, tapi dampaknya terasa langsung di keseharian. Tidak perlu root, tidak perlu unduh aplikasi pihak ketiga. Cukup masuk ke pengaturan bawaan dan tahu di mana harus mengetuk.
Berikut sepuluh fitur yang layak dicoba.
Fast App Switching bekerja persis seperti Alt-Tab di laptop. Pengguna gesture navigation cukup geser ke kanan di bilah bawah layar untuk langsung berpindah ke aplikasi terakhir yang dipakai. Pengguna tiga tombol? Ketuk dua kali ikon kotak. Sederhana, tapi efeknya terasa kalau kamu tipe yang sering bolak-balik antara WhatsApp dan browser.
App Shortcuts memotong satu langkah yang sering diabaikan. Tekan lama ikon aplikasi di home screen, dan menu konteks muncul berisi pintasan ke fungsi spesifik di dalam aplikasi itu. Di Google Drive, misalnya, kamu bisa langsung pilih "Pindai Dokumen" tanpa perlu buka aplikasinya dulu. Pintasan ini bahkan bisa diseret ke layar beranda sebagai ikon terpisah.
Live Caption agaknya jadi salah satu fitur paling underrated di Android. Ia menghasilkan teks real-time untuk semua audio yang diputar di perangkat, dari podcast, video media sosial, sampai voice note. Yang bikin penasaran: fitur ini jalan sepenuhnya offline, tanpa satu pun data dikirim ke server luar. Aktifkan lewat ikon yang muncul di slider volume.
Soal berbagi konten, Share Menu Pinning hadir sejak Android 11. Tekan lama ikon aplikasi di menu berbagi, lalu pin. Aplikasi yang sering kamu pakai untuk berbagi, WhatsApp, Telegram, atau Instagram, akan selalu nangkring di baris paling atas. Bisa sampai empat aplikasi sekaligus.
Split-Screen bukan fitur baru. Masih banyak yang belum tahu cara pakainya. Buka recent apps, ketuk ikon di pojok atas kartu aplikasi, pilih Split Screen. Layar terbagi dua, dan kamu bisa geser pembatasnya sesuai kebutuhan. Kalau digabung dengan mode Picture-in-Picture, tiga aplikasi bisa jalan bersamaan. Bukan main.
Layar makin besar, tangan tidak ikut membesar. One-Handed Mode menjawab masalah klasik ini dengan menyusutkan tampilan ke area bawah agar ibu jari bisa menjangkau semua sudut. Cek di Settings, lalu System atau Gestures, tergantung merek ponselmu.
24 jam. Segitu jendela waktu yang disimpan Notification History untuk mencatat setiap notifikasi masuk, termasuk yang sudah terlanjur kamu usap. Fitur ini nonaktif secara default, jadi perlu dinyalakan manual di Settings, Notifications, kemudian Notification History. Berguna sekali kalau kamu pernah kehilangan notifikasi penting gara-gara jempol terlalu refleks.
Quick Tap atau Back Tap tersedia di Google Pixel dan sebagian ponsel Android lain. Ketuk dua kali bagian belakang perangkat untuk memicu tindakan tertentu seperti screenshot, senter, atau membuka aplikasi. Sensor akselerometer mendeteksi ketukan ini bahkan lewat casing. Kecil, tapi berguna.
Mau Android terasa lebih ngebut tanpa ganti perangkat? Developer Options jawabannya. Masuk ke Settings, pilih About Phone, ketuk Build Number tujuh kali sampai notifikasi "You are now a developer" muncul. Dari sana, cari tiga opsi animasi: Window Animation Scale, Transition Animation Scale, dan Animator Duration Scale. Ubah semuanya dari 1x ke 0,5x. Hasilnya? Transisi antaraplikasi terasa dua kali lebih cepat, seketika.
Terakhir, Smart Lock. Fitur ini membiarkan ponsel tetap tidak terkunci saat kamu berada di kondisi yang dianggap aman: sedang dibawa (On-body Detection), di lokasi tertentu seperti rumah atau kantor (Trusted Places), atau terhubung ke perangkat Bluetooth tepercaya seperti smartwatch atau audio mobil. Begitu keluar dari zona aman, ponsel mengunci sendiri. Otomatis, tanpa drama.
Satu catatan: tidak semua fitur ini tersedia di setiap perangkat. Ketersediaannya bergantung pada merek, tipe ponsel, dan versi Android yang dipakai. Kalau tidak ketemu, coba telusuri lewat kolom pencarian di menu Settings sebelum menyerah.