SABTU, 3 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  10 Biksu Tewas Ditabrak Bocah 11 Tahun di Thailand...

Internasional

10 Biksu Tewas Ditabrak Bocah 11 Tahun di Thailand, Pelaku Bebas Pidana

Tragedi mengguncang Provinsi Mukdahan, Thailand timur laut, setelah seorang anak berkebutuhan khusus berusia 11 tahun mengemudikan pikap kakeknya tanpa izin dan menabrak rombongan biksu yang sedang berziarah. Korban tewas bertambah menjadi 10 orang.

Jumlah korban insiden mobil tabrak biksu di Thailand jadi 10 tewas

Sepuluh biksu meninggal setelah rombongan ziarah dari Wat Pho Manorom ditabrak pikap bak terbuka yang dikemudikan bocah 11 tahun berkebutuhan khusus di Jalan Raya 2034, Provinsi Mukdahan, Thailand timur laut, Kamis (2/7). Lima tewas seketika. Lima sisanya tidak tertolong setelah dirawat akibat luka parah.

Rombongan itu terdiri dari 34 biksu dan lima umat awam, semuanya hendak menuju Ubon Ratchathani saat nahas itu terjadi. Mereka berjalan kaki di tepi jalan, tak sempat menghindar dari pikap milik kakek si bocah yang melaju tanpa kendali.

Bagaimana bocah itu bisa berada di belakang kemudi? Sang nenek sudah berusaha keras menghentikannya. Anak itu mengunci diri di dalam mobil sementara neneknya panik di luar, tak berdaya. Upaya itu gagal. Tragedi pun tidak terhindarkan.

Karena usianya belum genap 12 tahun, hukum Thailand membebaskan si bocah dari pertanggungjawaban pidana, sebagaimana ditegaskan Direktur Jenderal Departemen Pelindungan Hak-hak dan Bantuan Hukum. Bukan berarti keluarga korban tak punya jalan, undang-undang setempat tetap membuka ruang untuk menuntut kompensasi finansial kepada orang tua sang pengemudi cilik. Otoritas lokal bahkan mendorong aktif agar hak gugatan itu benar-benar dijalankan.

Sisi finansial tragedi ini ditanggung asuransi wajib kendaraan, total 20 juta baht atau sekitar Rp10,84 miliar untuk seluruh korban. Tiap biksu yang meninggal mendapat santunan 500.000 baht (Rp271,2 juta). Korban luka, 80.000 baht (Rp43,3 juta) plus seluruh biaya perawatan medis. Rumah Sakit Mukdahan masih merawat sejumlah korban selamat dalam kondisi kritis akibat patah tulang dan trauma otak. Angka yang, kalau dipikir-pikir, tidak akan pernah bisa benar-benar menutup luka.

Tidak lama berselang, respons datang dari pucuk pimpinan agama Buddha Thailand. Sangharaja, pemimpin tertinggi seluruh biksu Buddha di negara itu, merestui pelaksanaan ritual pemakaman untuk semua biksu yang wafat langsung di bawah tanggung jawabnya, sekaligus memberikan santunan kepada mereka yang masih dirawat.

Pertanyaan yang kini menggantung bukan soal hukuman, tapi soal siapa yang bertanggung jawab ketika kelalaian orang dewasa membuat kunci mobil jatuh ke tangan yang salah. Entah kebetulan atau tidak, tragedi ini menghantam Thailand justru di saat negara itu tengah memperingati musim Vassa, periode suci bagi umat Buddha.