Lampung Financial Festival 2026 bukan panggung yang biasanya dipakai Menteri Koordinator Bidang Pangan untuk bicara. Tapi Sabtu lalu (5/9), Zulkifli Hasan berdiri di depan para pemuda dan melontarkan sentilan yang cukup keras, bukan soal harga beras atau rantai pasok pangan, melainkan soal mentalitas keuangan generasi muda yang ia nilai makin mengkhawatirkan.
Zulhas, sapaan akrabnya, menyoroti dua fenomena yang ia sebut sebagai jebakan kekayaan instan: judi online dan spekulasi aset kripto. Keduanya, menurut dia, adalah ilusi. "Anak-anakku, Adik-adik, tidak ada kesuksesan, tanya Pak CT. Pak CT itu waduh juga perjuangannya luar biasa. Tidak ada kesuksesan itu tanpa proses, nggak ada. Nggak ada sulap tuh nggak ada. Kayak kita mau kaya ikut judi online tuh nggak ada. Kaya tiba-tiba main kripto tuh nggak ada. Nggak ada. Semua mesti proses, semua mesti ditempa," tegasnya di hadapan peserta festival.
Nama Chairul Tanjung, pendiri CT Corp, ia sebut bukan sebagai hiasan. Perjuangan panjang CT, kata Zulhas, adalah bukti paling gamblang bahwa tidak ada taipan yang lahir dari semalam.
Yang bikin pesannya tidak mudah dilupakan bukan sekadar imbauan normatifnya, tapi analogi yang ia pakai. Perjalanan hidup diibaratkannya seperti proses penempaan pedang, semakin panjang dan berat tempaan, semakin tajam hasil akhirnya. "Untuk dapat satu pedang yang tajam, itu tempaannya panjang. Semakin bagus tempaannya, dia akan semakin baik hasilnya. Jadi, semua proses," ungkap Ketua Umum PAN itu.
Pesan finansialnya sebetulnya terselip di sana. Bukan soal instrumen investasi mana yang layak atau tidak secara teknikal, tapi serangan langsung ke akar masalahnya: pola pikir yang mengutamakan hasil cepat di atas proses yang solid. Bagi generasi yang tumbuh bersama aplikasi pinjol, trading kripto satu klik, dan konten "cuan dari rumah", pesan semacam ini agaknya memang perlu diulang berkali-kali, kalau perlu ditatokan.
Zulhas juga menyinggung soal kegagalan karier dan keuangan. Ia meminta para pemuda tidak langsung angkat tangan ketika menghadapi jalan buntu. Kesulitan, kata dia, justru berfungsi sebagai pencetak karakter. "Semakin berat, semakin sulit, ya nggak usah khawatir, itu akan membuat kamu semakin kuat. Maka rencanakan masa depanmu. Harus direncanakan," pesannya.
Pernyataan ini muncul bukan dari ruang hampa. Kerugian masyarakat akibat judi online sudah lama jadi kekhawatiran regulator dan industri keuangan, dan angkanya tidak main-main. Volatilitas pasar kripto yang ekstrem kerap menjebak investor ritel yang masuk tanpa bekal analisis memadai. Sebagian besar korbannya? Anak muda.
Apakah imbauan pejabat setingkat menteri cukup untuk mengubah perilaku ini? Pertanyaan yang belum ada jawaban pastinya. Tapi setidaknya ada yang mau repot-repot bicara blak-blakan di forum finansial, bukan sekadar potong pita lalu pergi.