RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Zandi: Trump Punya Waktu Sepekan Sebelum Ekonomi A...

Ekonomi

Zandi: Trump Punya Waktu Sepekan Sebelum Ekonomi AS Benar-Benar Tergelincir

Kepala Ekonom Moody's Analytics Mark Zandi memperingatkan bahwa Amerika Serikat hanya punya waktu sekitar satu minggu untuk mengamankan kesepakatan damai dengan Iran sebelum ekonomi benar-benar tergelincir ke resesi.

Ekonomi AS Terancam Resesi, Mark Zandi Trump Punya Waktu Maksimal Sepekan

Kepala Ekonom Moody's Analytics Mark Zandi memperingatkan bahwa Amerika Serikat hanya punya waktu sekitar satu minggu untuk mengamankan kesepakatan damai dengan Iran sebelum ekonomi benar-benar tergelincir ke resesi. Peringatan itu bukan datang dari kondisi yang tiba-tiba memburuk, melainkan dari fondasi yang memang sudah retak jauh sebelum peluru pertama ditembakkan.

Harga minyak Brent dan AS kompak melonjak 7% dalam satu sesi pada Senin (1/6) setelah Iran mengancam menghentikan negosiasi sekaligus memblokade Selat Hormuz sampai tuntutan utama mereka dipenuhi. Bukan sekadar noise pasar harian.

"Ini harus terjadi dengan sangat cepat, dalam satu, dua, tiga hari ke depan, atau setidaknya minggu depan," kata Zandi dalam wawancara dengan Bloomberg. "Lebih dari itu, saya pikir kita menghadapi masalah yang sangat nyata."

Ekonomi AS, kata Zandi, datang ke titik ini dalam kondisi yang sudah tidak prima. PDB masih tumbuh, tapi lajunya konsisten berada di bawah potensi. "Situasinya rapuh," ungkap Zandi. "Kecuali pertumbuhan meningkat, pengangguran akan naik dan pada titik tertentu merusak pertumbuhan secara keseluruhan." Ekonomi yang terus berjalan di bawah kapasitas bukan kondisi yang bisa bertahan selamanya.

Dua tekanan kini menjepit bersamaan: pasar tenaga kerja yang mulai lesu dan inflasi yang kembali merangsek. Pertumbuhan upah nominal melambat, sementara harga yang terkerek oleh tarif impor dan lonjakan energi menggerus daya beli riil. Pendapatan riil yang bisa dibelanjakan nyaris stagnan selama setahun terakhir. Konsumsi rumah tangga, tulang punggung ekonomi AS selama ini, kini kena tampar.

Buku Beige Federal Reserve edisi Juni 2026 memperkuat gambaran itu: inflasi naik secara moderat hingga kuat di berbagai distrik, dipicu langsung oleh eskalasi konflik Timur Tengah dan dampaknya ke harga energi. Posisi The Fed pun makin sulit.

Zandi mengakui bahwa secara logika, ekonomi yang tumbuh di bawah potensi seharusnya mendapat respons berupa pemangkasan suku bunga. Tapi inflasi yang kini mendekati 4%, dua kali lipat target The Fed, menutup ruang itu rapat-rapat. "Tarif dan perang melawan Iran telah mendorong inflasi hingga jauh di atas 3% dan mendekati 4%, dua kali lipat target inflasi The Fed," kata Zandi. Jika ekspektasi inflasi terus menguat, bank sentral justru bisa terpaksa menaikkan suku bunga. Langkah yang, dalam kondisi ini, bisa menjadi dorongan terakhir menuju resesi.

Angka resmi probabilitas resesi dari New York Fed per akhir April masih tercatat 17% dalam 12 bulan ke depan. Angka yang, kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya, agaknya belum memperhitungkan dinamika terbaru dari front Timur Tengah.

Lembaga riset energi HFI Research bahkan lebih blak-blakan: jika Selat Hormuz tetap tertutup hingga akhir Juni, inventaris minyak global bisa mencapai titik minimum operasional. Waktu bagi pemerintahan Trump memang kian menipis.

Zandi menyebut dua hal yang harus berjalan bersamaan agar ekonomi AS tidak terpuruk: perang Iran harus segera berakhir untuk menormalkan produksi dan harga minyak global, dan pengembangan kecerdasan buatan harus terus melaju sebagai penopang produktivitas jangka menengah. Keduanya, entah kebetulan atau tidak, sama-sama berada di luar jangkauan The Fed.

Pertanyaannya bukan lagi apakah ekonomi AS rentan. Sudah jelas. Pertanyaannya: seberapa cepat Washington bergerak, sebelum pasar yang menjawab duluan.