Sepanjang tahun ini, langkah Beijing mendorong yuan ke panggung global terasa lebih sistematis dari sebelumnya. Pekan lalu, Gubernur Bank Rakyat China (People's Bank of China/PBOC), Pan Gongsheng, tampil di hadapan peserta pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia, menyampaikan pesan yang cukup tegas: investor asing akan mendapat akses lebih luas ke pasar keuangan China, dan aset berdenominasi renminbi siap menjadi alternatif diversifikasi yang serius.
"Pertumbuhan ekonomi China yang stabil serta pesatnya perkembangan industri teknologi tinggi memberikan dukungan kuat bagi aset renminbi," kata Pan dalam pidatonya Kamis (15/10). Bukan sekadar retorika. PBOC sekaligus mengumumkan rencana memperluas instrumen pengelolaan risiko, memperkuat konektivitas infrastruktur keuangan lintas negara, dan mendorong penggunaan obligasi yuan sebagai agunan dalam transaksi keuangan global.
Timing pernyataan Pan agaknya bukan kebetulan. Kepercayaan investor global pada aset berdenominasi dolar AS sedang tergerus, dipicu kebijakan dagang Presiden AS Donald Trump yang susah ditebak arahnya. Pasar keuangan global makin bergejolak seiring kekhawatiran soal kemampuan perusahaan teknologi menghasilkan laba memadai dari investasi jumbo di sektor AI. China melihat celah ini. Mereka bergerak.
Bukti lapangan mulai bermunculan. Dari Afrika, Zambia mengonfirmasi bahwa pembeli tembaga dari China akan mulai membayar sebagian pesanan mereka dalam yuan mulai 2027. Gubernur Bank Sentral Zambia Denny Kalyalya menyebut perjanjian ini awalnya berlaku untuk bisnis-bisnis China yang telah membayar pajak di Zambia dalam RMB, mekanisme yang memangkas satu lapis konversi mata uang sekaligus.
Ini bukan preseden pertama. Maret lalu, China merampungkan pembelian gas alam cair (LNG) pertamanya lewat mekanisme pembayaran lintas batas berbasis yuan. China National Offshore Oil Corporation (CNOOC) membeli pengiriman LNG dari TotalEnergies melalui Bursa Minyak Shanghai, dengan transaksi yang diselesaikan penuh dalam RMB. Dua komoditas strategis, tembaga dan LNG, kini masuk orbit yuan.
Data makro mendukung narasi ini. Menurut Laporan Internasionalisasi RMB 2026 yang diterbitkan PBOC, yuan kini menduduki posisi mata uang terbesar kedua di dunia untuk pembiayaan perdagangan, ketiga untuk pembayaran, dan kelima untuk transaksi valuta asing. Dibandingkan posisi satu dekade lalu, lompatan yang tidak main-main.
Pertanyaannya, apa yang bikin yuan makin dilirik negara berkembang? Para analis menunjuk kombinasi yang cukup pragmatis: nilai tukar yang relatif lebih stabil ketimbang dolar atau euro dalam beberapa periode terakhir, hilangnya biaya konversi bagi negara yang porsi dagang dengan China-nya besar, dan kemampuan langsung memakai yuan untuk belanja barang serta jasa dari China tanpa harus mampir ke dolar terlebih dahulu. Ibarat jalan tol, kalau bisa langsung kenapa harus muter?
Klaim bahwa yuan akan menggeser dolar sebagai mata uang dominan komoditas global masih jauh dari terbukti. Dolar AS masih sangat kokoh di infrastruktur keuangan global, dari SWIFT hingga kontrak berjangka komoditas di bursa-bursa besar. Yang bergeser bukan dominasi dolar, melainkan kehadiran alternatif yang kian nyata dan kian banyak dipakai. Buat investor yang portofolionya terlalu terkonsentrasi di aset dolar, perkembangan ini layak dicermati lebih serius dari sebelumnya.