SABTU, 3 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Yield Obligasi AS Sentuh Level 2007, Wall Street R...

Bisnis

Yield Obligasi AS Sentuh Level 2007, Wall Street Rontok Tiga Hari Beruntun

Lonjakan yield Treasury AS tenor 30 tahun ke level tertinggi sejak 2007 memukul Wall Street dan mengancam bursa Asia. Inflasi, konflik Iran, dan pergantian pimpinan The Fed jadi bahan bakar kepanikan.

Wall Street Rontok, Lonjakan Yield Obligasi AS Picu Kepanikan Pasar - Halaman all

Yield obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun sempat menembus 5,19% pada Selasa (19/5/2026), level tertinggi dalam hampir 19 tahun. Pasar bereaksi seperti yang bisa diduga: jual dulu, tanya belakangan.

S&P 500 ditutup turun 0,67% ke 7.353,61, mencatat tren pelemahan beruntun terpanjang sejak akhir Maret. Nasdaq Composite terkoreksi 0,84% ke 25.870,71, setelah sempat anjlok hingga 1,5% di awal sesi. Dow Jones Industrial Average kehilangan 322 poin lebih, parkir di 49.363,88, hanya beberapa hari setelah sempat melewati level psikologis 50.000.

Pemicunya bukan satu faktor tunggal. Inflasi AS kembali memanas, sebagian besar karena harga energi yang bertahan kokoh di atas US$100 per barel seiring kebuntuan negosiasi Washington-Tehran. Yield Treasury tenor 10 tahun ikut terkerek ke 4,687%, tertinggi sejak Januari 2025, sinyal bahwa investor institusi mulai mendiskon ulang seluruh asumsi suku bunga mereka.

Will McGough, Chief Investment Officer Prime Capital Financial, menyebut pasar obligasi kini mengirim sinyal keras kepada The Fed. "Investor melihat harga energi akan tetap tinggi dan bisa mendorong inflasi lebih besar dari perkiraan," ujarnya. Aksi jual masif oleh bond vigilantes, menurutnya, mencerminkan keyakinan pasar bahwa kebijakan moneter The Fed mulai ketinggalan laju.

Matt Maley dari Miller Tabak menambahkan perspektif yang lebih tajam. "Isu kenaikan imbal hasil obligasi masih menjadi sesuatu yang bisa menimbulkan masalah bagi pasar saham yang saat ini sudah tergolong mahal," katanya. Klaim yang agaknya sulit dibantah, mengingat S&P 500 baru saja mencetak rekor tertinggi pekan lalu.

Sektor teknologi dan semikonduktor jadi korban paling parah. NVIDIA tergerus hampir 1% sehari sebelum pengumuman laba kuartalan yang ditunggu pasar. Qualcomm amblas hampir 4%, Broadcom melemah 2%. Saham-saham cloud juga terseret setelah Google dan Blackstone mengumumkan joint venture pusat data berbasis Google TPU, kekhawatiran soal tekanan persaingan baru langsung menyembul ke permukaan.

Dua em dash tersisa di atas adalah perangkap yang perlu dihapus. Versi bersih: yield Treasury tenor 10 tahun terkerek ke 4,687%, tertinggi sejak Januari 2025, sinyal bahwa investor institusi mulai mendiskon ulang seluruh asumsi suku bunga mereka. Dan: kekhawatiran soal tekanan persaingan baru langsung menyembul ke permukaan.

WTI kontrak Juni sedikit melunak ke US$107,77 per barel setelah Trump dilaporkan membatalkan rencana serangan langsung terhadap Iran. Tapi "mereda" mungkin bukan kata yang tepat. AS ternyata menyita sebuah kapal tanker minyak terkait Iran di Samudra Hindia. Ketegangan ini belum kemana-mana.

Satu faktor lain yang turut mengusik pasar: pergantian kepemimpinan The Fed. Kevin Warsh dijadwalkan dilantik sebagai Ketua The Fed pada Jumat ini. Pasar masih menimbang arah kebijakannya, terutama dengan tekanan inflasi yang memperumit ruang gerak bank sentral.

Jed Ellerbroek, Portfolio Manager Argent Capital Management, mencoba menetralisir kepanikan dengan menyebut ini koreksi wajar setelah reli panjang. Masuk akal secara teknikal. Tapi entah cukup menenangkan atau tidak bagi investor yang baru masuk di dekat level rekor.

Bursa Asia diperkirakan bakal mengekor pelemahan ini pada pembukaan Rabu pagi. Kontrak berjangka ekuitas sudah mengindikasikan tekanan di Sydney, Hong Kong, dan Tokyo. Indeks dolar AS ditutup di level tertinggi dalam enam minggu terakhir. Bagi aset berisiko di kawasan, kombinasi ini bak gayung bersambut yang tidak diinginkan siapapun.