Rp3,6 miliar. Itu angka yang dibawa pulang Universitas Muslim Indonesia dari meja penandatanganan di Menara BSN, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026).
Yayasan Wakaf UMI resmi mengikat Perjanjian Kerja Sama dengan Bank Syariah Nasional dalam seremoni yang dihadiri langsung jajaran pimpinan kedua institusi. Bukan formalitas birokrasi kampus belaka. Kolaborasi ini datang dengan manfaat konkret: paket umroh platinum untuk dosen dan karyawan, plus beasiswa bagi mahasiswa berprestasi, seluruhnya dikemas dalam Giro Program Penghargaan Operasional senilai Rp3,6 miliar.
Tidak main-main.
Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI, Prof. Mansyur Ramly, menyebut langkah ini bagian dari perjalanan hijrah institusi menuju sistem yang lebih selaras dengan nilai-nilai syariah. Baginya, ini bukan kemitraan bisnis biasa. "Kami ingin setiap langkah UMI selalu berada dalam cahaya kebaikan. Kerja sama ini bukan sekadar kemitraan, tetapi bagian dari ikhtiar menghadirkan keberkahan dan memperkuat ekonomi syariah untuk masa depan umat," ungkapnya.
Dari kursi pengurus, Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI Prof. Masrurah Mokhtar menegaskan kerja sama ini sebagai amanah yang harus dijaga, bukan agenda seremonial. "Kami berharap kolaborasi ini terus tumbuh dan memberikan manfaat yang luas, tidak hanya bagi institusi, tetapi juga bagi masyarakat," katanya.
Dari sisi perbankan, Direktur Utama BSN Alex Sofjan Noor menekankan komitmen pihaknya menghadirkan layanan yang aman, terjangkau, dan berbasis teknologi tanpa mengorbankan kemurnian prinsip syariah. Edukasi keuangan syariah, kata Alex, jadi komponen penting dalam membangun masyarakat yang lebih mandiri secara ekonomi. Pertanyaannya: berapa besar ekosistem ini bisa tumbuh kalau kampus-kampus lain ikut terlibat?
Rektor UMI Prof. Hambali Thalib melihat perjanjian ini sebagai ruang terbuka bagi pengembangan sivitas akademika. "Kami memandang ini sebagai awal yang baik untuk memperluas akses pendidikan, memperkuat karakter, serta menyiapkan generasi yang lebih siap menghadapi masa depan dengan nilai dan kompetensi," tuturnya.
Cukup ambisius untuk selembar PKS. Ruang lingkup kemitraan dirancang meluas: penguatan pembiayaan pendidikan, peningkatan kesejahteraan internal kampus, hingga pembangunan ekosistem institusi yang adaptif. Agaknya, bagi UMI, inilah salah satu momen di mana ikhtiar bertemu hasil yang langsung bisa dirasakan, bukan janji di atas kertas yang menguap setelah seremoni bubar.