Sepanjang Mei 2026, Xiaomi melepas beberapa produk wearable sekaligus ke pasar global, bukan, tunggu, tidak ada em dash di sini. Sebuah blitzkrieg ekosistem yang menandai ambisi perusahaan melampaui identitasnya sebagai vendor smartphone.
Yang paling dinantikan adalah Xiaomi Smart Band 10 Pro, resmi tersedia di pasar global per 28 Mei 2026 dengan banderol mulai 80 euro atau sekitar Rp1,6 jutaan untuk versi standar. Varian NFC dan Ceramic Edition dibanderol hingga 100 euro, setara Rp2 jutaan. Di pasar China, harganya jauh lebih agresif: CNY 399 atau sekitar Rp900 ribuan untuk versi aluminium.
Upgrade paling mencolok ada di layar. AMOLED 1,74 inci yang sudah familier dari generasi sebelumnya kini bersinar hingga 2.000 nits, lompatan besar dari Smart Band 9 Pro yang mentok di 1.200 nits. Di bawah terik matahari langsung, perbedaannya terasa nyata. Refresh rate 60Hz dan dukungan 16,8 juta warna melengkapi paket visual yang kompetitif di kelasnya. Ringan pula: 21,6 gram untuk versi aluminium dengan ketebalan bodi 9,7 mm. Versi Ceramic Edition sedikit lebih berat di 28,7 gram, tapi menawarkan kesan premium yang berbeda kelas.
Sektor kesehatan jadi andalan utama. Sensor dual-light PPD generasi baru diklaim mencapai akurasi detak jantung 98,2 persen, angka yang patut dicermati mengingat klaim akurasi wearable sering kali terasa ambisius di atas kertas. Fitur Sleep HRV dan Sleep Algorithm 2.0 turut hadir untuk analisis tidur yang lebih dalam. Lebih dari 150 mode olahraga tersedia, termasuk mode bersepeda baru dengan statistik yang lebih rinci dan pemantauan tingkat kelelahan selama latihan. Baterai 350 mAh diklaim tahan 21 hari pemakaian harian, 15 hari penggunaan normal, atau 8 hari dengan AOD aktif. Sertifikasi ketahanan air 5ATM membuatnya aman dibawa renang.
Bersamaan dengan Smart Band 10 Pro, Watch S5 hadir sebagai penerus Watch S4. Layar AMOLED 1,48 inci dalam casing 56 mm berframe stainless steel. Peningkatan terbesarnya ada di baterai: kapasitas 815 mAh dengan klaim ketahanan 21 hari, naik enam hari dari pendahulunya yang hanya sanggup 15 hari. Yang menarik, meski baterainya lebih besar, bodinya justru 1 mm lebih tipis, kini di angka 10,99 mm. Bak gayung bersambut antara efisiensi dan kapasitas. Watch S5 dipasarkan mulai 179 euro atau sekitar Rp3,7 jutaan, tersedia dalam empat pilihan warna termasuk Ceramic Blue dan Jungle Green.
Satu produk yang agaknya paling mencuri perhatian dari sisi inovasi: earbuds clip-on pertama Xiaomi, masuk dalam Buds 6 Series. Desain open-ear yang belakangan sedang naik daun ini membiarkan saluran telinga tetap terbuka, lebih aman untuk aktivitas luar ruangan. Driver 11 mm dengan bobot 5,5 gram per sisi. Ringan sekali.
Yang benar-benar tidak terduga: earbuds ini mendukung Apple Find My. Fitur pelacak dari ekosistem Apple yang biasanya eksklusif untuk perangkat besutan Cupertino kini hadir di produk Xiaomi. Entah kebetulan atau tidak, langkah ini membaca peluang pasar lintas platform dengan cukup cermat, setidaknya itu klaim yang masuk akal melihat basis pengguna iPhone yang tidak kecil di pasar Asia. Fitur AI tambahan mencakup terjemahan real-time dan perekaman suara untuk produktivitas. Harganya CNY 799, sekitar Rp1,8 jutaan, memosisikan earbuds ini di segmen yang lebih premium dari citra Xiaomi yang biasanya.
Belum cukup sampai di situ. Tanda-tanda munculnya Smart Band 11 Active mulai terbaca. Kode model M2561B1 sudah terdeteksi di sertifikasi IMDA Singapura, NCC Taiwan, dan yang menarik bagi pasar lokal, database Postel Komdigi Indonesia. Pola kode modelnya mirip Smart Band 10 Pro yang memakai M2551B1. Kalau benar meluncur sebagai "11 Active", Xiaomi akan melompati penamaan "10 Active" sepenuhnya. Langkah branding yang tidak biasa, tapi masuk akal untuk menyelaraskan lini generasi terbaru.
Pertanyaannya, seberapa cepat semua ini sampai ke Indonesia? Munculnya sertifikasi Postel untuk beberapa produk terbaru Xiaomi memberi sinyal bahwa pasar lokal tidak akan menunggu terlalu lama. Dari rangkaian peluncuran ini, satu hal yang kian jelas: Xiaomi tidak lagi puas sekadar jadi merek smartphone. Ekosistem wearable dan audio yang makin terintegrasi lewat HyperOS adalah taruhan besarnya.