Pangsa 12 persen di pasar smartphone global terdengar lumayan, tapi di balik angka itu ada realita yang kurang menyenangkan bagi Xiaomi: pengiriman perangkat mereka amblas 19 persen secara tahunan di kuartal pertama 2026. Bukan penurunan kecil yang bisa diabaikan.
Data Counterpoint Research untuk periode Januari hingga Maret 2026 menempatkan Xiaomi di posisi ketiga dunia, persis di bawah Apple dan Samsung yang masing-masing menguasai 21 persen pangsa pasar. Xiaomi mengekori dengan 12 persen, diikuti OPPO di 10 persen dan vivo di 7 persen. Dilihat dari pertumbuhan, gambarannya jauh lebih suram: OPPO terkoreksi sekitar 4 persen, vivo melemah 2 persen. Xiaomi? Paling dalam.
Biaya produksi yang membengkak jadi tekanan utama. Krisis pasokan chip memori, khususnya DRAM dan NAND, kini menjadi hambatan struktural bagi hampir seluruh produsen smartphone. Produsen semikonduktor memilih mengalihkan kapasitas ke kebutuhan pusat data kecerdasan buatan, yang marjinnya lebih tebal dan permintaannya sedang meledak. Ponsel? Antri belakang. Dampaknya langsung terasa di neraca laba produsen yang tak punya posisi tawar sekuat Apple dalam rantai pasokan global.
Apple, agaknya, memang bermain di liga berbeda soal ini. Ekosistem tertutupnya, hubungan jangka panjang dengan pemasok, dan kemampuan menjual di harga premium membuat mereka lebih tahan banting saat komponen langka dan mahal. Xiaomi, dengan proposisi nilai yang berbasis segmen menengah-bawah, tidak punya kemewahan itu.
Keseluruhan pasar smartphone global susut 3 persen di Q1 2026. Jadi ini bukan semata masalah Xiaomi. Tapi penurunan 19 persen jauh melampaui rata-rata industri, dan itulah yang patut dicermati lebih jauh. Counterpoint memperkirakan tekanan dari krisis memori belum mereda dalam waktu dekat dan bisa berlanjut hingga akhir 2027. Dua hingga tiga kuartal ke depan masih akan berat, kalau prediksi itu tepat.
Basis pengguna Xiaomi yang besar di Asia dan negara berkembang memang jadi bantalan, tapi sekaligus mencerminkan kerentanan yang nyata: segmen pasar yang mereka andalkan paling sensitif terhadap kenaikan harga. Kalau biaya produksi terus naik tapi harga jual tidak bisa ikut naik karena daya beli konsumen terbatas, margin diperas dari mana?
Pertanyaan itulah yang kini sedang dijawab manajemen Xiaomi, entah lewat efisiensi operasional, negosiasi ulang kontrak pemasok, atau inovasi produk yang mendongkrak nilai jual rata-rata per unit. Jawabannya baru terlihat di kuartal berikutnya.