JUMAT, 9 OKTOBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  Xbox Balik Haluan: Eksklusif Kembali, Game Pass Me...

Tekno

Xbox Balik Haluan: Eksklusif Kembali, Game Pass Meleset dari Target

Di bawah CEO baru Asha Sharma, Microsoft membalik strategi multiplatform era Phil Spencer. Game single player akan dikunci di Xbox, sementara Game Pass terkuak tidak tumbuh sesuai harapan.

Laporan: Microsoft ingin lebih banyak game pemain tunggal menjadi eksklusif Xbox

Dua keputusan besar keluar dari Microsoft dalam waktu berdekatan, dan keduanya menggambarkan satu hal yang sama: Xbox sedang dalam mode reset total.

Kepala Xbox yang baru, Asha Sharma, dilaporkan tengah menyusun strategi yang secara terang-terangan membalik arah pendahulunya. Berdasarkan laporan Bloomberg yang dikutip jurnalis Jason Schreier, Sharma ingin game multiplayer tetap dirilis lintas platform, tapi game single player terbaik Microsoft akan dikunci eksklusif untuk PC dan Xbox Series S/X. Bukan sekadar penyesuaian taktis. Ini pembatalan bertahap dari strategi multiplatform yang selama beberapa tahun terakhir jadi andalan Phil Spencer.

Sinyal paling nyata sudah muncul saat Xbox Games Showcase bulan lalu, ketika Gears of War: E-Day dan Clockwork Revolution dikonfirmasi sebagai eksklusif Xbox tanpa batasan waktu. Framing yang dipakai pun tegas: bukan "eksklusif sementara", bukan "timed exclusive". Permanen. The Coalition sendiri secara blak-blakan menyatakan bahwa versi PlayStation 5 dari E-Day tidak pernah ada dalam rencana, terlepas dari sejumlah indikasi yang sebelumnya mengisyaratkan sebaliknya.

Dengan logika ini, judul seperti The Elder Scrolls VI agaknya bakal mengikuti jalur yang sama. Belum ada konfirmasi resmi, tapi kalau framework Sharma konsisten, spekulasi itu bukan tanpa dasar.

Lantas kenapa pivot ini terjadi? Jawabannya ada di sebuah memo internal yang bocor ke publik. Sharma mengakui secara gamblang bahwa bisnis Xbox saat ini "tidak sehat", dengan margin keuntungan yang kalah jauh dari pesaing. Xbox Game Pass, layanan yang selama bertahun-tahun dijual sebagai masa depan industri, ternyata tumbuh jauh di bawah target internal. Salah satu angka yang mencuat: Microsoft memasang target 77 juta pelanggan pada 2026, tapi jumlah aktual dilaporkan masih jauh dari sana. Angka yang patut dicermati, mengingat betapa besarnya taruhan yang dipasang Microsoft pada layanan ini.

Dalam wawancara dengan Fortune, Sharma bahkan tidak sungkan mengkritik era Spencer secara tidak langsung. "Untuk tumbuh, kami membuat banyak taruhan. Dan saat kami melakukan itu, kami secara inheren tidak fokus pada bisnis inti. Ukuran nomor satu dari strategi Anda adalah apa yang Anda tempatkan sumber daya Anda, dan kami menyebarkan diri kami terlalu tipis," tegasnya. Kalimat yang terdengar seperti diagnosis, bukan sekadar refleksi.

Menyebut Game Pass gagal terlalu dini dan terlalu keras. Puluhan juta pelanggan aktif bukan angka sembarangan, dan layanan ini tetap jadi subscription gaming terbesar di luar Nintendo. Tapi konteks di baliknya yang bikin gambar jadi lebih suram: akuisisi bernilai puluhan miliar dolar, restrukturisasi yang memangkas ribuan karyawan, penyesuaian harga di sejumlah wilayah, semuanya konsekuensi dari kalkulasi yang meleset.

Satu ironi yang sulit diabaikan. Xbox justru mulai agresif melepas game first party ke PlayStation di saat angka Game Pass stagnan, tapi sekarang Sharma ingin menarik rem itu kembali untuk game single player. Entah kebetulan atau tidak, pivot ini datang tepat ketika PlayStation 5 sudah punya fondasi yang sangat kokoh dan Xbox Series S/X masih berjuang mengejar. Bak pedang bermata dua: eksklusivitas bisa menarik pembeli konsol, tapi juga menutup pintu pendapatan dari platform lain yang selama ini ikut menambal defisit.

Apakah eksklusivitas bisa jadi obat yang tepat untuk Xbox yang sedang dihajar tekanan dari segala arah? Pertanyaan itu baru bisa dijawab beberapa tahun dari sekarang, ketika proyek-proyek besar seperti E-Day akhirnya mendarat di tangan konsumen.