SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  X Rombak Algoritma: Balasan dari Mutual Kini Naik...

Tekno

X Rombak Algoritma: Balasan dari Mutual Kini Naik Pangkat

Head of Product X Nikita Bier mengakui ada data yang selama ini "hilang" dari algoritma, membuat kolom balasan terasa seperti medan pertempuran dengan orang asing. Kini X memprioritaskan suara dari mutual.

Booth Hachette di Frankfurt Book Fair 2025 dengan rak buku putih dan kursi hijau limau

Kolom balasan X selama ini terasa seperti pasar malam yang gaduh, penuh suara dari akun-akun asing yang entah dari mana datangnya. X kini mengakui itu bukan sekadar kesan, melainkan cacat desain yang nyata dalam algoritmanya.

Head of Product X, Nikita Bier, mengumumkan pada Senin (16/6/2026) bahwa platform meluncurkan penyesuaian algoritma yang akan memprioritaskan postingan dan balasan dari mutuals, yakni pengguna yang saling mengikuti satu sama lain. Pembaruan ini terdengar sederhana, tapi implikasinya cukup dalam bagi cara orang berinteraksi di platform.

Bier mengakui terang-terangan bahwa data tentang siapa yang saling mengikuti sebelumnya tidak dimasukkan ke dalam sistem rekomendasi X sama sekali. Akibatnya, teman-teman yang justru paling relevan bagi seorang pengguna nyaris tidak pernah muncul di kolom balasan. "Kami meluncurkan penyesuaian kecil untuk meningkatkan visibilitas unggahan Anda ke mutuals. Kami melihat data ini hilang dari algoritma dan itu membuat teman-teman Anda lebih jarang muncul di balasan Anda. Bagian balasan terasa seperti medan pertempuran dengan orang-orang yang tidak Anda kenal," tulis Bier dalam unggahannya.

Bukan angka kecil yang jadi taruhannya. Kualitas percakapan di platform dengan ratusan juta pengguna aktif ini selama ini menjadi salah satu kritik paling konsisten yang diarahkan ke X, terutama sejak platform berganti nama dari Twitter pasca-akuisisi Elon Musk.

Perubahan algoritma ini hadir dalam konteks yang lebih luas. April 2026, X menutup fitur Communities. Fitur yang dirancang untuk menghubungkan pengguna berdasarkan minat serupa itu ternyata gagal total secara adopsi. Bier menyebut Communities hanya digunakan oleh kurang dari 0,4 persen pengguna aktif, namun justru berkontribusi pada 80 persen laporan spam, penipuan finansial, dan penyebaran malware di platform. Fitur itu memakan terlalu banyak sumber daya tim, sementara pengembangan fitur utama aplikasi jadi terbengkalai. Mematikan Communities dan memilih memperbaiki algoritma inti agaknya lebih masuk akal secara strategis.

Bier juga menyebut bahwa penyesuaian ini akan membantu "klaster terbentuk di sekitar minat dengan lebih mudah," sesuatu yang sudah lama diminta pengguna. Sebelumnya, ia menyatakan bahwa akun yang memposting konten orisinal akan "naik lebih cepat" di algoritma, sebagai respons atas dominasi konten daur ulang dari akun-akun teratas platform.

Pertanyaannya, apakah X satu-satunya yang bergeser arah? Tidak. Threads, platform milik Meta yang kini mengklaim 500 juta pengguna aktif bulanan, menegaskan bahwa pertumbuhannya didorong oleh komunitas. Bluesky pun bergeser dari model "town square" ala Twitter lama, dengan CEO Toni Schneider menyatakan fokus pada ruang yang lebih kecil dan komunitas yang lebih privat. Ketiga platform tampaknya sepakat: era media sosial sebagai panggung debat publik tanpa tepi mulai kehilangan daya tariknya.

Bagi kreator konten, perubahan ini ibarat pedang bermata dua. Interaksi dengan basis pengikut setia bisa menguat secara kualitas, tapi jangkauan organik ke pengguna baru yang belum terhubung bisa tergerus. Pengguna biasa yang selama ini lelah menggulir kolom balasan penuh provokasi, setidaknya punya alasan untuk sedikit bernafas lega.

Pembaruan berlaku otomatis untuk semua pengguna tanpa perlu pengaturan tambahan. Dampaknya diperkirakan mulai terasa dalam beberapa minggu.