Sepanjang pekan ini, pasar valas Asia menyuguhkan pemandangan yang tidak seragam. DXY memang lesu, bertahan di kisaran 99, turun dari level 101,41 sebulan lalu. Tapi pelemahan dolar ternyata tidak otomatis jadi angin surga bagi seluruh mata uang kawasan.
Won Korea Selatan keluar sebagai bintang pekan ini. Pada perdagangan Kamis (27/8), won menguat 0,54% ke KRW 1.378,80 per dolar AS, penguatan terdalam di antara seluruh mata uang Asia yang dipantau. Penguatan won bukan sekadar mengikuti arus melemahnya greenback. Bank of Korea mengejutkan pasar dengan menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3%, sekaligus merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Korea Selatan tahun ini menjadi 3,3% dari sebelumnya 2,6%. Lonjakan ekspor semikonduktor dan gelombang investasi kecerdasan buatan turut jadi bahan bakarnya. Sejak akhir 2025, won sudah menguat 4,40%, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terbaik di kawasan.
Yuan China tidak semengkilap won, tapi bergerak ke arah yang benar. CNY menguat tipis di kisaran 6,721 per dolar AS, dan sejak awal tahun sudah terapresiasi hampir 4% terhadap greenback. People's Bank of China tampak nyaman membiarkan yuan naik secara bertahap, pendekatan yang membuat CNY lebih cocok bagi investor dengan selera defensif. ING memproyeksikan USD/CNY bisa menyentuh 6,64 dalam 12 bulan ke depan.
Rupiah ceritanya berbeda. Pada Kamis, mata uang Garuda melemah 0,39% ke Rp17.765 per dolar AS, menjadi yang paling loyo di Asia. Angka ini mempertegas tren yang sudah berjalan sepanjang tahun: rupiah telah tergerus 6,16% sejak akhir 2025, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan setelah peso Filipina dan rupee India. Pada Jumat pagi (28/8), ada sedikit pemulihan dengan rupiah menguat 0,14% ke Rp17.690, tapi belum cukup untuk mengubah gambaran besar.
Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Brahmantya Himawan, analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, menyebut narasi pasar valas Asia sudah bergeser. "Jadi, sekarang menurut saya bukan hanya cerita USD melemah, tetapi pasar mulai lebih selektif mencari mata uang Asia dengan fundamental domestik yang kuat," kata Brahmantya kepada Kontan, Rabu (26/8). Investor tidak lagi memborong semua aset Asia secara buta hanya karena dolar loyo. Mereka memilah. Agaknya inilah yang membedakan siklus pelemahan dolar kali ini dari episode sebelumnya.
Bahan bakar utama yang menjaga dolar tidak runtuh sepenuhnya adalah data inflasi AS. PCE Juli mencatat kenaikan 3,7% secara tahunan, sedikit di atas ekspektasi ekonom sebesar 3,6%. Secara bulanan, PCE naik 0,2%, juga melampaui perkiraan pasar sebesar 0,1%. Data ini menjaga ekspektasi kenaikan suku bunga Fed tetap hidup. Ryan Wells dari Westpac menilai pidato Ketua Fed Kevin Warsh di simposium Jackson Hole akan menjadi ujian sesungguhnya bagi arah ekspektasi pasar.
Erik Bregar dari Silver Gold Bull menggambarkan kondisi pasar valas saat ini dengan cukup jujur. "Pasar FX, jujur saja, sedang seperti berada dalam kondisi trance," katanya, dikutip dari Reuters. Dolar sempat bangkit sekitar 0,35% sepanjang pekan ini setelah pekan sebelumnya amblas 0,83%, sebagian karena Menteri Keuangan AS Scott Bessent menggandakan pembelian kembali obligasi bertenor panjang. Pelaku pasar membaca kebijakan tersebut sebagai sinyal bahwa Washington mulai aktif menahan kenaikan biaya pinjaman. Bagi kepercayaan terhadap aset dolar, itu bukan kabar baik.
Yen Jepang? Potensinya ada, tapi belum meledak. Ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan ke 1,25% pada September sudah diperhitungkan pasar, dengan money market memperkirakan peluangnya mencapai 87%. Namun yen masih terbebani persoalan fiskal Tokyo dan risiko carry trade yang belum sepenuhnya reda. USD/JPY masih bertengger di kisaran 159.
Brahmantya memproyeksikan USD/IDR akan bergerak di kisaran Rp17.500-Rp18.200 hingga akhir 2026. Rupiah masih punya peluang bertahan di bawah Rp18.000 jika capital inflow membaik dan tren pelemahan dolar berlanjut. Tapi dengan PCE yang masih di atas target, pidato Warsh yang belum terbaca, dan sensitivitas rupiah terhadap harga minyak, jalan menuju sana tidak sepenuhnya mulus. Pertanyaannya bukan apakah dolar akan terus melemah, melainkan apakah rupiah punya cukup penopang fundamental untuk ikut naik ketika momentumnya datang.