MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Whoosh di Persimpangan: Utang Menggunung, Ekspansi...

Bisnis

Whoosh di Persimpangan: Utang Menggunung, Ekspansi ke Surabaya Menunggu

Beban rugi investasi Kereta Cepat Whoosh terus menggerogoti neraca KAI, sementara pemerintah menegaskan restrukturisasi keuangan KCJB harus tuntas sebelum ekspansi jalur ke Surabaya dan Banyuwangi bisa dibicarakan lebih jauh.

Makin Terjepit KAI di Proyek Kereta Cepat - Market

Saldo investasi PT Kereta Api Indonesia (KAI) di proyek Kereta Cepat Whoosh tinggal Rp3,24 triliun per akhir 2025, menyusut drastis dari posisi Rp7,72 triliun yang sempat tercatat setelah perusahaan menyetor tambahan modal Rp2,7 triliun pada 2024. Artinya, dalam dua tahun terakhir, nilai investasi KAI di proyek ini tergerus hampir Rp4,48 triliun, bukan karena kerugian operasional biasa, melainkan karena KAI menanggung bagian rugi dari PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), konsorsium pengendali Whoosh yang sahamnya dikuasai KAI sebesar 58,53%.

Angka yang membuat dahi mengernyit. Pada 2024, KAI menelan rugi investasi dari PSBI sebesar Rp2,22 triliun. Tahun berikutnya, cifra itu membengkak jadi Rp2,92 triliun. Manajemen KAI bahkan sudah membentuk cadangan penurunan nilai investasi alias impairment senilai sekitar Rp1,55 triliun, sinyal bahwa mereka sendiri meragukan pemulihan nilai aset ini dalam waktu dekat.

PSBI berfungsi sebagai kendaraan investasi Danantara yang menyalurkan pinjaman ke PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), operator Whoosh. Struktur berlapis ini membuat beban utang KCIC mengalir balik ke neraca KAI lewat mekanisme ekuitas. Sampai saat ini, belum ada tanda-tanda tekanan itu mereda.

Di sinilah pemerintah mengambil posisi. Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Allan Tandiono menegaskan bahwa restrukturisasi keuangan KCJB adalah agenda yang tidak bisa dilewati begitu saja. "Saat ini pemerintah fokus terhadap restrukturisasi keuangan kereta cepat Jakarta-Bandung," kata Allan di Jakarta, Sabtu (27/6/2026). Pernyataan itu sekaligus menutup spekulasi bahwa pemerintah bisa berlari dua kaki: mengejar ekspansi ke Surabaya sambil membiarkan masalah finansial operator berjalan sendiri.

Rencana perpanjangan jalur Whoosh hingga Surabaya, bahkan Banyuwangi, memang sudah lama beredar. Menko Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono, yang kini menjabat Ketua Komite Kereta Cepat Jakarta-Bandung berdasarkan Perpres Nomor 29 Tahun 2026, sempat menyebut pengembangan ke Jawa Timur dilakukan secara "paralel" dengan proses restrukturisasi. AHY juga mengaku sudah berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan dan Danantara untuk membahas peta jalan ekspansi ini.

Tapi "paralel" agaknya tidak berarti setara prioritasnya. AHY sendiri memberikan catatan yang cukup tegas: "Sebaiknya kita pastikan dulu KCJB-nya tuntas, artinya solusinya sudah bisa diambil dengan baik, baru setelah itu kita kembangkan berikutnya." Kalimat itu lebih tepat dibaca sebagai rem, bukan lampu hijau. Pertanyaannya, berapa lama proses restrukturisasi ini butuh waktu?

Hasil restrukturisasi keuangan KCJB akan menjadi tolok ukur pemerintah dalam mengevaluasi kelayakan pengembangan jaringan ke Jawa Timur. Selama laporan keuangan KCIC masih berwarna merah dan KAI terus menanggung rugi ratusan miliar per kuartal, wacana kereta cepat Jakarta-Surabaya hanya akan tetap menjadi wacana. Bukan main.

Bagi investor yang memegang saham emiten terkait, pertanyaan yang lebih relevan mungkin bukan kapan Whoosh sampai Surabaya, tapi kapan arus kas KAI berhenti bocor ke lubang bernama PSBI.