Biaya belanja yang dulu cukup Rp100.000 kini harus Rp200.000. Dian (45), pemilik rumah makan di Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara, tidak sedang melebih-lebihkan. Itulah realita yang ia hadapi tiap pagi sebelum kompor dinyalakan.
Ikan kembung yang bulan-bulan lalu bisa ia beli Rp5.000 per ekor kini bertengger di Rp8.000. Kentang dari Rp18.000 merayap ke Rp20.000 per kilogram. Cabai, bumbu, plastik kemasan, semua ikut naik beriringan. Tekanan bukan dari satu titik, tapi dari setiap lini rantai belanja.
Dian tidak punya pilihan untuk sekadar menaikkan harga jual. Logikanya sederhana dan getir: kalau mahal, pelanggan kabur. Maka margin yang sudah tipis dipaksa lebih tipis lagi. Pendapatannya yang biasanya minimal Rp2 juta per hari kini sering mentok di Rp1,5 juta. Turun 25 persen. Bukan angka yang bisa diabaikan.
Tren serupa terjadi di warteg milik Ayu (50) di Rawabadak Utara, Koja. Sepi mulai terasa sejak setelah Lebaran, dan belum ada tanda membaik. "Parah banget kalau naik semua," kata dia, menyebut cabai, bumbu, hingga plastik buat sayur yang kini Rp15.000 per bungkus.
BPS tidak membantah. Data inflasi Mei 2026 menunjukkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi motor utama tekanan harga bulan lalu, mencatatkan inflasi 0,39 persen dan menyumbang sekitar 0,28 persen terhadap inflasi nasional secara bulanan. Komponen volatile food, termasuk sayuran, berbalik ke inflasi 0,22 persen setelah April lalu justru deflasi cukup dalam di angka 0,88 persen.
Deputi BPS Pudji Ismartini menyebut kombinasi faktor musiman dan produksi sebagai biang keladinya. Lonjakan permintaan menjelang Idul Adha jadi katalisator. Di sisi pasokan, sejumlah sentra produksi sayuran melaporkan penurunan panen akibat cuaca ekstrem dan serangan hama. Cabai merah tercatat sebagai komoditas dengan andil inflasi terbesar di kelompok ini. Entah kebetulan atau tidak, itu juga komoditas pertama yang disebut Ayu saat mengeluh.
Dampaknya tidak berhenti di dapur warteg. Di kawasan Senen, Jakarta Pusat, pedagang bernama Amirah mengamati pelanggannya kini aktif berburu menu di bawah Rp15.000, maksimal Rp20.000. Tempe, tahu, telur balado, gorengan naik daun. Ayam goreng, rendang, cumi, udang? Sepi peminat.
Amirah sudah memutuskan berhenti menyediakan lauk di atas Rp20.000 karena tidak ada yang melirik. Pedagang lain, Kusuma, bercerita bahwa paket nasi udang yang mendekati Rp20.000 kini kalah pamor dari kombinasi sayur-tempe-perkedel yang bisa dijaga di angka Rp10.000. Rendang dan kikil yang biasanya ludes siang hari kini sering masih tersisa sampai sore.
Surono, pedagang warteg lainnya, mencatat perilaku yang agaknya sudah jadi pola baru: pembeli sekarang lebih memilih tambah porsi nasi ketimbang tambah lauk. Kenyang dulu, soal gizi urusan nanti.
Ini bukan sekadar cerita susah pedagang kecil. Ini sinyal bahwa daya beli di segmen bawah sedang tergerus, dan warteg, yang selama ini jadi barometer konsumsi paling akar rumput, sedang membaca tanda-tanda itu lebih keras dari data statistik mana pun.