Micron Technology menembus kapitalisasi pasar US$1 triliun dalam sehari. Bukan angka kecil.
Pada penutupan perdagangan Selasa waktu New York, S&P 500 melesat 0,61% ke level 7.519,12 dan Nasdaq melonjak 1,19% ke 26.656,18. Keduanya ditutup di rekor tertinggi, terseret gelombang optimisme soal prospek kesepakatan damai AS-Iran. Dow Jones? Lain cerita. Indeks yang sarat saham-saham nilai ini ambles 118,02 poin atau 0,23% ke 50.461,68, memperlihatkan bahwa reli kali ini jauh dari inklusif.
Sektor semikonduktor memimpin penguatan. Micron Technology meroket 19%, mendorong kapitalisasi perusahaan melampaui US$1 triliun untuk pertama kalinya. Seagate Technology ikut terkerek 4%, Western Digital melesat 8%, dan ETF Roundhill Memory (DRAM) naik lebih dari 14% sekaligus mencetak rekor baru. Investor kini memburu saham-saham terkait CPU dan memori yang dibutuhkan untuk menjalankan beban kerja AI agentic, arena yang selama ini identik dengan dominasi Nvidia.
Katalis utama lonjakan Micron: revisi target harga oleh UBS yang bisa dibilang brutal. Analis UBS menaikkan target dari US$535 menjadi US$1.625 per saham, hampir tiga kali lipat, dengan alasan kontrak jangka panjang berstruktur harga sebagian tetap yang mengunci pendapatan Micron dari booming permintaan AI. "Kami percaya pasar akan mulai memberikan valuasi yang lebih 'normal' pada saham ini dan MU akan terus mengalami re-rating lebih tinggi seiring semakin jelasnya perubahan struktural yang didorong AI terhadap seluruh industri memori," tulis UBS. Target baru itu mengisyaratkan saham Micron masih punya ruang naik lebih dari dua kali lipat dari posisi penutupan pekan lalu.
Permintaan AI yang meledak sudah menciptakan kelangkaan memori global yang tidak mudah diselesaikan dalam waktu singkat. Kondisi ini memberi Micron, SK Hynix, dan Samsung ruang untuk mendongkrak harga tanpa kehilangan pembeli. Saham Micron sendiri sudah naik lebih dari tiga kali lipat sejak awal tahun, angka yang membuat proyeksi analis awal tahun terlihat terlalu jinak.
Intel pun terseret dalam narasi ini. Sempat dihajar di fase awal reli AI, saham Intel kini sudah melonjak lebih dari enam kali lipat dan diperdagangkan mendekati rekor sepanjang masa, setelah menerima investasi signifikan dari pemerintah AS dan menjalani transformasi bisnis yang cukup dramatis.
Di sisi geopolitik, situasinya tidak sesederhana kelihatannya. Presiden Trump menyebut pembicaraan dengan Iran berjalan baik, tapi di hari yang sama, Komando Pusat AS mengonfirmasi serangan defensif di Iran selatan, menyasar lokasi peluncuran rudal dan kapal yang diduga hendak memasang ranjau. Pasar minyak mencerminkan kebingungan ini: WTI untuk pengiriman Juli turun 2,81% ke US$93,89 per barel, sementara Brent justru naik 3,58% ke US$99,58 per barel. Dua kontrak, dua arah. Pasar sendiri agaknya belum tahu mau percaya yang mana.
Chief Investment Officer LNW Ron Albahary menyebut kondisi ini sebagai tarik-menarik yang belum selesai. Investor masih percaya pada gelombang capex besar yang menopang pasar naik, sementara fondasi ekonomi AS tetap rapuh, dengan inflasi yang berpotensi menjadi sistemik kalau harga energi tidak mereda. "Investor terlalu optimistis bahwa perang akan segera berakhir dan semuanya akan kembali seperti sebelum perang," kata Albahary kepada CNBC International.
Bagi investor yang melirik saham teknologi global, cerita Micron patut dicermati. Ini bukan sekadar lonjakan satu hari. Babak berikutnya persaingan AI, kalau data ini bisa dipercaya, bukan lagi soal siapa yang punya chip terbaik, tapi siapa yang menguasai memorinya.