MINGGU, 11 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Wall Street Pecah Rekor Lagi, Tapi Saham Chip Mula...

Finansial

Wall Street Pecah Rekor Lagi, Tapi Saham Chip Mulai Ngos-ngosan

Dow Jones cetak rekor penutupan baru di 50.644, ditopang pelemahan harga minyak. Sementara Micron yang sehari sebelumnya meledak 19 persen, hari ini cuma naik 3,6 persen.

Nasdaq dan S&P menguat, didorong reli saham teknologi

Rabu kemarin bukan hari yang sederhana buat Wall Street. Dow Jones Industrial Average mencetak rekor penutupan baru di level 50.644,28, naik 182,60 poin atau 0,36 persen, setelah sempat menyentuh rekor intraday di sesi yang sama. S&P 500 juga tutup di level baru: 7.520,36, meski kenaikannya hanya 0,02 persen, tipis sekali. Nasdaq Composite ikut menguat 0,07 persen ke 26.674,73.

Dua hari berturut-turut bursa AS cetak rekor. Bagus di atas kertas. Tapi kalau dilihat lebih dalam, ada retakan yang mulai kelihatan.

Pendorong utama Dow hari ini bukan teknologi, melainkan minyak, atau lebih tepatnya, rontoknya minyak. Harga WTI amblas 5,55 persen ke US$88,68 per barel setelah media pemerintah Iran mengklaim negara itu berkomitmen memulihkan lalu lintas pelayaran Selat Hormuz dalam satu bulan. Kabar itu, kalau terbukti, berarti pasokan minyak global bisa normal kembali. Gedung Putih langsung membantah, menyebut klaim Iran itu sebagai "rekayasa total." Pasar, seperti biasa, sudah terlanjur bergerak sebelum klarifikasi datang.

Reli saham chip yang begitu perkasa sehari sebelumnya? Mulai kehabisan bensin. Micron Technology, bintang utama Selasa lalu yang melesat lebih dari 19 persen hingga kapitalisasi pasarnya menembus US$1 triliun untuk pertama kalinya, hari ini hanya bisa naik 3,6 persen. Intel dan Qualcomm bahkan masuk zona merah, masing-masing terkoreksi 1 persen dan 6 persen, setelah keduanya sempat melesat kencang di sesi sebelumnya.

Konteks kenaikan Micron sehari sebelumnya perlu disebut: laporan UBS yang optimistis menyebut saham ini masih berpotensi naik lebih dari dua kali lipat, didorong kontrak jangka panjang dari pemasok memori untuk mendukung infrastruktur AI. Narasi yang kuat. Pasar merespons luar biasa, sampai-sampai mitra Micron dari Korea Selatan, SK Hynix, juga ikut menyentuh valuasi US$1 triliun.

Tapi ada suara yang patut didengar. Eric Parnell, Kepala Strategi Pasar Great Valley Advisor Group, menyebut dampak transformatif AI dalam beberapa tahun dan dekade mendatang memang tidak bisa diremehkan, hanya saja valuasi banyak saham semikonduktor kini sudah sangat panas dan melaju terlalu jauh. Parnell juga mengingatkan bahwa sepanjang sejarah, fase booming saham chip selalu diikuti fase bust. Sepanjang 2026 ini, Micron dan Intel masing-masing sudah melonjak lebih dari tiga kali lipat. Bukan angka kecil, dan agaknya investor mulai mikir dua kali.

JPMorgan Chase ikut jadi beban tersendiri. Saham bank terbesar AS itu tergerus 2 persen setelah CEO Jamie Dimon menyebut JPMorgan siap menggelontorkan hingga US$20 miliar untuk akuisisi dalam beberapa tahun mendatang. Pasar merespons dengan skeptis, entah karena khawatir soal alokasi modal atau karena memang timing-nya terasa off.

Dari sisi makro, kepercayaan konsumen AS melemah pada Mei, tertekan kekhawatiran inflasi yang belum juga reda. Data ini bukan sinyal yang menyenangkan, mengingat konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 70 persen dari ekonomi AS. Sam Stovall, Kepala Strategi Investasi CFRA Research, menyebut kondisi pasar saat ini tidak seragam, dengan berbagai aset bergerak berlawanan arah secara bersamaan sebagai sinyal bahwa investor belum benar-benar yakin ke mana arah selanjutnya.

Di Eropa, sentimen berbeda jauh. STOXX 600 dan FTSEurofirst 300 kompak melemah, masing-masing 0,57 persen dan 0,62 persen, tertekan kekhawatiran bahwa ketegangan Timur Tengah bisa memperpanjang gangguan Selat Hormuz dan memperburuk inflasi. Pejabat ECB pun disebut-sebut masih mempertimbangkan kenaikan suku bunga Juni meski situasi geopolitik belum jelas.

Buat investor yang sudah riding the chip wave sejak awal tahun, dua sesi ini mungkin terasa seperti naik roller coaster. Pertanyaannya: apakah koreksi kemarin hanya jeda napas sebelum reli lanjut, atau justru tanda awal rotasi keluar dari sektor yang sudah terlalu mahal?