Senin malam waktu New York, sektor teknologi kembali jadi penggerak tunggal yang menentukan arah Wall Street. S&P 500 ditutup menguat 0,26 persen ke level 7.599,96 dan Nasdaq Composite naik 0,42 persen ke 27.086,81, keduanya mencetak rekor penutupan baru. Dow Jones cuma bergerak tipis, naik 46 poin atau 0,09 persen ke 51.078,88, karena delapan dari sebelas sektor S&P 500 masih bertengger di zona merah.
Pendorong utamanya sudah ketahuan: Nvidia. Saham perusahaan chip itu melonjak 6,3 persen setelah CEO Jensen Huang mengumumkan chip terbaru yang dirancang khusus untuk menjalankan kemampuan AI langsung di komputer pribadi. Chip ini merupakan hasil kolaborasi tiga tahun bersama Microsoft, dengan ambisi besar untuk, kata Huang, "menciptakan kembali PC" di era kecerdasan buatan. Microsoft ikut ketiban berkah, sahamnya naik 2,3 persen.
Respons pasar semikonduktor, jujur saja, sama sekali tidak seragam. Kabar baik buat Nvidia ternyata kabar buruk buat tetangganya. Qualcomm amblas 8,8 persen dan Intel terkoreksi 4,7 persen, bisa jadi karena chip Nvidia yang baru ini berpotensi makan porsi pasar keduanya di segmen PC. Micron justru melesat 6,6 persen dan untuk pertama kalinya menembus level 1.000 dolar AS per saham. Indeks Semikonduktor Philadelphia SE masih menguat 1,1 persen.
Yang lebih menarik lagi: segmen perangkat lunak yang sempat dihajar aksi jual awal tahun ini karena kekhawatiran disrupsi AI kini justru ikut memantul. ServiceNow melonjak 9,2 persen, IBM menguat 7,6 persen, dan indeks layanan software naik 4,3 persen. Thomas Martin, Senior Portfolio Manager di GLOBALT Atlanta, melihat rotasi ini bukan kebetulan. "Di sisi perangkat lunak, perusahaan yang sebelumnya tidak berkinerja baik kini mulai berkinerja baik," katanya. "Sebagian dari itu dikaitkan dengan komentar Nvidia bahwa perangkat lunak bagian dari solusi, sehingga pasar kembali masuk ke saham-saham ini," tambah Martin.
Di luar teknologi, pasar masih was-was soal Iran. Trump mengklaim negosiasi masih berjalan, namun kantor berita Iran melaporkan Teheran menghentikan pembicaraan tidak langsung dengan Washington setelah serangkaian serangan baru. Konflik yang kini memasuki bulan keempat itu mendorong harga minyak melonjak dan memunculkan kekhawatiran inflasi. "Kita sebenarnya tidak tahu bagaimana situasinya," kata Martin. "Pasar tampaknya berpikir bahwa sesuatu akan diselesaikan pada suatu saat, tetapi kita tidak memiliki informasi yang cukup baik untuk dijadikan acuan, seperti apa yang sebenarnya diinginkan Iran dan apa yang bersedia diterima Trump," lanjutnya.
Sedikit angin segar datang ketika Trump menyatakan tidak ada pasukan Israel yang akan memasuki Beirut, pernyataan yang disampaikan usai percakapan telepon dengan PM Netanyahu dan sempat mendorong penguatan lebih lanjut.
Pasar Asia? Beragam, dan agaknya tidak mampu mempertahankan momentum rekornya. Nikkei dan KOSPI, yang sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi, keduanya berbalik terkoreksi dihajar ketidakpastian geopolitik yang sama.
Dua katalis besar menanti investor pekan ini. Pertama, laporan keuangan Broadcom yang dirilis Rabu, dinilai penting untuk mengukur seberapa kuat permintaan server AI setelah Dell memberikan sinyal positif pekan lalu. Kedua, data ketenagakerjaan AS pada Jumat. Angka nonfarm payrolls itu akan jadi ujian pertama bagi Ketua The Fed baru Kevin Warsh sebelum rapat kebijakan pertamanya. Kalau data tenaga kerja panas di tengah eskalasi Iran yang mendorong inflasi, jalan bagi pemangkasan suku bunga bisa makin sempit. Pertanyaannya, berapa lama reli ini bertahan?