Delapan pekan. Itulah rentetan kenaikan mingguan S&P 500 yang ditutup Wall Street pada Jumat (23/5/2026), reli terpanjang indeks acuan Amerika Serikat sejak akhir 2023. Dow Jones Industrial Average menutup sesi dengan kenaikan 294,04 poin atau 0,58% ke level 50.579,70, sekaligus mencetak rekor penutupan tertinggi baru. Bagi banyak pelaku pasar, angka itu terasa mengejutkan, mengingat konflik geopolitik yang belum juga tuntas.
S&P 500 menguat 0,37% ke 7.473,47, sementara Nasdaq Composite bertambah 0,19% ke 26.343,97. Penguatan sempat tergerus menjelang penutupan, tapi arahnya jelas. Sembilan dari 11 sektor S&P 500 ditutup hijau, dipimpin kesehatan, utilitas, dan teknologi.
Dua katalis menggerakkan pasar. Musim laporan keuangan yang, jujur saja, lebih solid dari yang banyak dikhawatirkan. Dan sinyal kemajuan dalam negosiasi damai AS-Iran yang mulai menetes ke permukaan. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut Washington sudah membuat sejumlah kemajuan menuju kesepakatan dengan Teheran, kendati ia sendiri mengakui masih banyak pekerjaan yang tersisa. Teheran pun belum beranjak jauh: juru bicara Kemenlu Iran menyatakan perbedaan dua negara masih sangat besar.
"Musim laporan keuangan terlihat sangat bagus dan data ekonomi, kecuali beberapa anomali, terlihat cukup solid, jadi secara fundamental gambaran keseluruhannya terlihat sangat solid," kata James St Aubin, Kepala Investasi Ocean Park Asset Management. Soal perdamaian, St Aubin menambahkan, berita hari itu terlihat menggembirakan dan agaknya ikut mengangkat sentimen pasar.
Saham semikonduktor kembali jadi cerita tersendiri. Qualcomm melesat hampir 12% dan mencatatkan kenaikan mingguan 18,2%. Nvidia justru terkoreksi 1,9%, sehari setelah sahamnya turun 1,7% meski merilis outlook kuartalan yang kuat. Pasar mulai rewel soal valuasi chip AI. Entah kebetulan atau tidak, ini bertepatan dengan pelantikan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve menggantikan Jerome Powell.
Saham komputer ikut terbang. Lenovo melaporkan pendapatan kuartalan yang melesat 27%, dan efeknya menular: Dell Technologies menguat 17% dan mencetak rekor tertinggi, HP Inc naik 15%. Bukan kenaikan kecil.
Dari pasar obligasi datang penopang tambahan. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun sekitar 2,6 basis poin ke 4,558%, melandai dari puncaknya awal pekan yang sempat menekan saham. Yield tenor 30 tahun surut lebih dari 4 basis poin ke sekitar 5,06%, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak 2007. "Pasar obligasi tampaknya sedang mendingin dan imbal hasil turun dari titik puncaknya awal pekan ini, dan saya pikir itu juga sangat menggembirakan," kata St Aubin. Biaya pinjaman tidak lagi bergerak setajam sebelumnya. Napas ekuitas pun lebih longgar.
UBS Global Wealth Management menaikkan target akhir tahun untuk S&P 500 menjadi 7.900 dari sebelumnya 7.500, dengan alasan pengeluaran konsumen yang masih kuat dan permintaan infrastruktur pusat data yang tampaknya tidak kenal titik jenuh.
Sentimen itu terbang menyeberangi Pasifik pada Senin (25/5/2026). Nikkei 225 jebol level 64.000 untuk pertama kalinya, melesat 1,48% ke rekor baru 64.278,49. Topix ikut menguat 0,65%. Bursa Hong Kong dan Korea Selatan absen karena libur nasional. ASX 200 Australia bergerak relatif datar.
Pendorong utama di Asia: harga minyak yang amblas lebih dari 5% di awal sesi. Masif. Kontrak berjangka WTI untuk pengiriman Juli turun 4,52% ke US$92,23 per barel, sementara Brent melemah 4,51% ke US$98,87, menembus ke bawah level psikologis US$100. Pemicunya adalah pernyataan Presiden Donald Trump di Truth Social yang menyebut negosiasi dengan Iran berjalan "tertib dan konstruktif", sekaligus memberi sinyal bahwa Selat Hormuz berpotensi kembali dibuka. Jalur itu sempat efektif ditutup Teheran menyusul blokade yang diberlakukan Washington terhadap pelabuhan Iran, dan lonjakan harga minyak akibat penutupan itu menjadi hantu inflasi yang menghantui pasar berminggu-minggu.
Pertanyaannya sederhana: titik balik, atau sekadar jeda? Pasar obligasi mulai mendingin, saham chip menunjukkan tanda-tanda kelelahan, dan pemimpin baru The Fed baru saja dilantik di tengah tekanan inflasi yang belum padam. Investor yang sudah duduk nyaman di atas reli delapan pekan ini, bisa jadi, perlu sesekali lirik ke belakang.