SENIN, 5 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Vietnam Naik Kelas, Indonesia Masih Terseok di PMI...

Bisnis

Vietnam Naik Kelas, Indonesia Masih Terseok di PMI 46,9

Bank Dunia resmi menaikkan status Vietnam menjadi negara berpendapatan menengah atas per Juli 2026, sejajar Indonesia. Ironisnya, PMI manufaktur Indonesia justru terpuruk di zona merah 46,9%.

Posisi Vietnam Kini Sejajar dengan Indonesia Jadi Negara Menengah Atas

Vietnam kini sejajar dengan Indonesia. Per 1 Juli 2026, Bank Dunia resmi menaikkan status negara itu dari lower-middle income menjadi upper-middle income, setelah GNI per kapita Vietnam mencapai 4.970 dolar AS pada 2025, melampaui ambang batas 4.516 dolar AS yang ditetapkan untuk Tahun Fiskal 2027.

Yang bikin ironis: saat Vietnam naik kelas, PMI manufaktur Indonesia justru sedang dihajar kontraksi. Data S&P Global menunjukkan PMI Indonesia terparkir di angka 46,9 pada Juni 2026, jauh di bawah garis ekspansi 50. Bukan tren sesaat.

Ekonom senior Indef Didik J. Rachbini tidak memilih kata-kata yang lembut soal ini. "Angka PMI ini merupakan indikasi sektor industri kita sakit lama dan sekarang masuk zona bahaya merah pada level indeks di bawah 50 persen," tegasnya dalam keterangan resmi, Minggu (5/7/2026). Ia menambahkan bahwa meski ekonomi nasional tumbuh 5,61 persen pada kuartal lalu, motornya bukan industri, melainkan belanja negara. Beda cerita.

Selama dua hingga tiga dekade, Vietnam konsisten menjalankan transformasi struktural berbasis ekspor dan investasi asing berkualitas. Hasilnya tidak mengejutkan bagi yang mengikuti trajektori ini: PDB tumbuh 7 persen pada 2024 dan 8 persen pada 2025, ekspor melonjak lebih dari 15 persen, dan GNI per kapita terkerek rata-rata 10 persen per tahun sepanjang 2021-2025. Bank Dunia menyebut capaian ini salah satu pertumbuhan ekonomi berkelanjutan terkuat di kawasan Asia.

Didik membandingkan pendekatan Vietnam dengan strategi outward looking yang pernah dijalankan Indonesia pada era 1980-an, saat pertumbuhan ekonomi nasional bisa menyentuh 7-8 persen dan sektor industri tumbuh 10-12 persen. "Kebijakan seperti inilah yang dijalankan oleh Vietnam sehingga sekarang sudah melompat menjadi negara industri berpendapatan menengah atas," ungkapnya. Vietnam, katanya, menarik FDI yang diarahkan ke ekspor dan memastikan transfer teknologi berjalan. Indonesia? Justru menarik investasi di sektor restoran, jasa perdagangan, dan pengemasan.

Dalam klasifikasi terbaru yang berlaku mulai 1 Juli 2026 ini, ada lima negara yang naik kelas sekaligus dari lower-middle ke upper-middle income. Filipina, yang sejak 1980-an stagnan di kelompok menengah bawah, kini masuk dengan GNI per kapita 4.850 dolar AS, ditopang rata-rata pertumbuhan 5,8 persen per tahun. Lalu Yordania (5.260 dolar AS), Federasi Mikronesia (4.760 dolar AS), dan Sri Lanka (4.670 dolar AS). Togo juga naik satu level, dari low income ke lower-middle income.

Peta pendapatan ASEAN kini semakin bergeser. Singapura dan Brunei tetap di kelompok high income. Kamboja, Laos, Myanmar, dan Timor-Leste masih tertinggal di lower-middle. Indonesia, Malaysia, Thailand, kini ditemani Vietnam dan Filipina di kelompok upper-middle. Agaknya ini seharusnya jadi alarm, bukan sekadar berita tetangga naik kelas.

Didik memperingatkan skenario yang lebih buruk jika tidak ada perombakan kebijakan. Lingkaran setan: industri mengkerut, daya beli amblas, lapangan kerja produktif tidak terbentuk. Indonesia berisiko terjebak sebagai "negara sakit" di ASEAN, sementara Vietnam sudah mulai bertransisi menuju ekonomi berbasis inovasi dan teknologi. Celah yang tadinya terasa bisa dikejar, kini semakin menganga.