RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Vietnam Cetak Perdagangan US$445 Miliar, tapi Nera...

Ekonomi

Vietnam Cetak Perdagangan US$445 Miliar, tapi Neraca Mulai Berdarah

Lima bulan pertama 2026, total perdagangan Vietnam melonjak 25% ke US$445,12 miliar. Di balik angka gemilang itu, defisit neraca dagang justru membalik surplus US$5,1 miliar menjadi minus US$13,8 miliar.

Omzet impor dan ekspor melebihi 445 miliar USD dalam 5 bulan pertama.

US$445,12 miliar. Itulah nilai total perdagangan barang Vietnam sepanjang Januari hingga Mei 2026, tumbuh 25% dari periode yang sama tahun lalu. Angka yang cukup untuk membuat banyak orang manggut-manggut kagum.

Tapi ada yang perlu dicermati lebih seksama. Ekspor memang naik 19,5%, impor malah melonjak 30,8%. Akibatnya? Vietnam membalikkan surplus US$5,1 miliar dari periode yang sama tahun lalu menjadi defisit US$13,8 miliar. Bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja.

Ekspor lima bulan pertama membukukan US$215,66 miliar. Dari jumlah itu, sektor investasi asing menyumbang US$172,16 miliar atau 79,8% dari total, sementara sektor domestik hanya menyetor US$43,5 miliar. Seperlima. Ketimpangan ini sudah lama jadi pekerjaan rumah Hanoi yang tak kunjung tuntas. Sebanyak 26 kategori produk menembus omzet ekspor di atas US$1 miliar, tujuh di antaranya bahkan melampaui US$10 miliar, bersama-sama mewakili 69,3% dari total ekspor.

Di sisi impor, tekanannya lebih berat. Total impor lima bulan pertama menyentuh US$229,46 miliar, terkerek 30,8%. Sektor investasi asing mendominasi dengan US$165,2 miliar, tumbuh 34,3%, sedangkan sektor domestik menyumbang US$64,26 miliar dengan pertumbuhan 22,7%. Dari keseluruhan impor, 94,1% atau setara US$215,99 miliar masuk kategori bahan produksi, dengan mesin dan peralatan memimpin di angka 55,7%.

Amerika Serikat tetap jadi pasar ekspor terbesar Vietnam, menyerap US$69,6 miliar dan menghasilkan surplus US$60,4 miliar, naik 21,1%. Arah sebaliknya datang dari Tiongkok. Impor dari Negeri Tirai Bambu mencapai US$92,6 miliar, menciptakan lubang defisit sebesar US$62,5 miliar, melonjak 36,4%. Defisit dengan Korea Selatan pun meledak 72,5% menjadi US$21,1 miliar. Dua negara ini, kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya, sudah lama jadi titik lemah struktural dalam rantai suplai Vietnam.

Nguyen Thi Huong, Direktur Kantor Statistik Umum, menyebut perlunya diversifikasi pasar yang lebih agresif. Termasuk menjajaki pasar Halal, Amerika Latin, dan Afrika yang selama ini belum digarap optimal. Ia juga menekankan pentingnya memanfaatkan perjanjian perdagangan bebas yang sudah ada untuk mendongkrak ekspor ke level yang lebih tinggi. Setidaknya, itu rekomendasi dari lembaganya.

Di luar perdagangan, ada sinyal positif dari konsumsi domestik. Total penjualan ritel dan pendapatan jasa konsumen dalam lima bulan pertama diperkirakan mencapai 3,18 triliun VND, naik 11,2%. Pariwisata, meski pangsa pasarnya cuma 1,3%, tumbuh 12,2%, didorong kebijakan visa yang lebih longgar dan promosi wisata yang gencar. Khanh Hoa memimpin lonjakan pendapatan pariwisata dengan 33,8%, disusul Quang Ninh di 25,4%.

Pertumbuhan konsumsi ini agaknya jadi penyeimbang sementara dari tekanan defisit perdagangan. Pertanyaannya sederhana: apakah momentum ini cukup kuat bertahan ketika musim panas berakhir dan arus wisatawan mulai surut?