Harga terendahnya setara cicilan rumah di pinggiran Jakarta, dan itu baru versi "standar"-nya. Vertu AlphaFold, perangkat lipat pertama dari merek ultra-premium asal Inggris itu, resmi dibanderol mulai USD 6.880 atau sekitar Rp110 jutaan, sebuah angka yang, bagi sebagian orang, sudah cukup untuk menutup DP apartemen.
Yang berbeda kali ini bukan soal kulit buaya atau bingkai titaniumnya. Vertu memasang taruhan pada sesuatu yang lebih abstrak: asisten AI bernama Hermes, yang dirancang khusus untuk eksekutif korporasi, bukan untuk pengguna yang sekadar butuh scrolling Instagram. Hermes mampu membaca sinyal data bisnis dari sistem ERP, merangkumnya ke satu dasbor, lalu mengeksekusi alur kerja lintas aplikasi mulai dari kalender, email, sampai platform komunikasi internal. Semuanya tanpa perlu berpindah-pindah layar.
Soal privasi, Vertu memilih pendekatan yang agaknya paling masuk akal untuk segmen ini: pemrosesan data dilakukan sepenuhnya di perangkat, tanpa menyentuh server eksternal. Untuk perintah berisiko tinggi seperti transfer dana atau pendelegasian wewenang, Hermes tidak bisa bertindak sendiri, konfirmasi manual dari pengguna wajib. Bukan fitur yang glamor, tapi untuk eksekutif yang data hariannya bernilai miliaran, ini bukan detail kecil.
Bagi yang sudah bosan dengan AI, ada fallback yang lebih manusiawi: layanan concierge Vertu yang legendaris. Satu ketukan, manajer sungguhan langsung aktif, dari menyewa jet pribadi hingga mengamankan kursi di acara yang tidak ada di daftar umum.
Spesifikasinya? Di beberapa titik, impresif. Di titik lain, aneh. Layar dalam berukuran 8,05 inci dengan panel LTPO OLED 120Hz menggunakan desain lipatan teardrop untuk meminimalkan bekas tekukan. Layar luar 6,53 inci melengkapi pengalaman multitasking. Baterai 6.500mAh berbasis silikon-karbon dengan pengisian 68W termasuk yang paling kompetitif di kelas folding phone saat ini. Engsel titanium dan serat karbonnya diklaim sanggup bertahan 650.000 kali lipatan, angka yang sama dengan klaim pada Ironflip, dengan bantalan baja 316L berstandar Swiss.
Dua anomali sulit diabaikan. Chipset yang dipasang adalah Snapdragon 8 Elite, bukan varian Elite Gen 5 terbaru yang menawarkan kapabilitas AI lebih tinggi. Di ponsel yang justru menjual kecerdasan buatan sebagai nilai utama, pilihan ini terasa kontradiktif, kalau data ini bisa dipercaya sebagai sinyal roadmap Vertu, artinya upgrade generasi berikutnya sudah di depan mata. Anomali kedua: kamera. Utama 50MP dan ultrawide 50MP masih oke, tapi telefoto 5MP adalah angka yang benar-benar tidak lazim untuk segmen ini. Sebagai perbandingan, Vertu Agent Q yang dijual eksklusif di Harrods London sudah memakai telefoto 64MP.
Rp750 juta. Itu bukan salah ketik.
Vertu memang tidak pernah merancang produk untuk mereka yang mendewakan rasio harga-ke-performa. Varian kulit sapi standar dibanderol USD 6.880. Naik ke kulit buaya Italia, harganya menjadi USD 8.800 atau sekitar Rp142 jutaan. Puncaknya adalah edisi dengan embos "Cloud de Paris", lapisan Himalaya Gold IV, dan berlian murni yang dihargai USD 46.800, hampir Rp750 juta untuk sebuah ponsel.
Vertu berdiri sejak 1998 sebagai divisi Nokia, lalu diakuisisi ekuitas swasta pada 2012 dan sejak itu konsisten membangun identitas sebagai simbol status, bukan sekadar alat komunikasi. AlphaFold adalah evolusi logis dari perjalanan itu: kemewahan material yang kini dipadukan dengan produktivitas berbasis AI. Pertanyaannya, berapa lama tren ini bertahan sebelum AI di perangkat lain yang sepersepuluh harganya menyusul? Setidaknya itu pertanyaan yang mungkin tidak terlalu mengganggu tidur para pembelinya.