SENIN, 12 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Utang AS Tembus Rp707 Kuadriliun, Defisit RI Catat...

Ekonomi

Utang AS Tembus Rp707 Kuadriliun, Defisit RI Catat Rekor Sejak 2004

Utang nasional Amerika Serikat menembus rekor US$40 triliun sementara Indonesia menghadapi defisit transaksi berjalan terlebar sejak 2004, memaksa pemerintah memutar otak antara utang baru dan pemangkasan subsidi BBM.

Ini Proyeksi 20 Negara dengan Ekonomi Terbesar Dunia pada 2030, Indonesia Nomor Berapa?

Dua rekor fiskal yang tidak menyenangkan datang hampir bersamaan. Di Washington, utang nasional Amerika Serikat menembus US$40 triliun, setara sekitar Rp707,64 kuadriliun. Di Jakarta, defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II-2026 mencatat US$12,5 miliar, atau 3,3 persen dari PDB. Angka itu tertinggi sejak kuartal I-2004.

US$40 triliun. Angka yang hampir mustahil divisualisasikan. Menurut Peter G. Peterson Foundation, beban itu bertambah sekitar US$7 miliar setiap hari, lebih dari Rp123 triliun sehari. Kalau pemerintah AS mencicil US$1 miliar per hari, butuh hampir 110 tahun untuk lunas. Presiden Committee for a Responsible Federal Budget Maya MacGuineas menyebut pinjaman dalam skala ini "tidak berkelanjutan" dan berpotensi memicu spiral utang berbahaya jika pembuat kebijakan tidak segera bertindak. Rasio utang terhadap PDB AS kini sekitar 123 persen, menempatkan negara itu dalam jajaran 10 besar beban utang tertinggi di dunia versi IMF.

Dari semua presiden yang pernah menghuni Gedung Putih, Donald Trump tercatat sebagai penambah utang terbanyak. Akumulasi dua masa jabatannya mencapai US$11,63 triliun, melampaui Obama dengan US$9,32 triliun dan Biden dengan US$8,45 triliun. Dalam satu dekade terakhir, utang AS berlipat ganda: dari sedikit di bawah US$20 triliun pada Agustus 2016 menjadi US$40 triliun kini. Meski ekonomi AS di kuartal II-2026 tumbuh 1,5 persen secara tahunan dengan konsumsi rumah tangga melonjak 3,4 persen, angka ini tetap lebih lambat dibanding pertumbuhan 2,1 persen di kuartal sebelumnya.

Problem di sisi Indonesia punya wajah berbeda. Defisit transaksi berjalan yang melesat hampir 3,5 kali lipat dibanding kuartal I-2026 yang hanya US$3,6 miliar memunculkan tekanan nyata pada rupiah. Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menyebut dua jalan yang bisa ditempuh pemerintah: menambah utang baru atau memangkas subsidi BBM. Keduanya tidak gratis dari risiko.

"Nah, salah satunya adalah mencari utang baru. Tapi porsi utang kita kan sudah besar. Tahun ini saja, utang jatuh tempo sekitar Rp900 triliun. Berarti pemerintah harus mencari utang baru minimal tiga kali. Untuk menambal defisit transaksi berjalan agar tidak melebar," ujar Ibrahim kepada Inilah.com. Adapun opsi pemangkasan subsidi BBM berpotensi membentur stabilitas sosial. Kuota BBM bersubsidi dalam RAPBN 2027 sudah dipangkas 58,51 persen dibanding realisasi 2026. Bank Indonesia merespons tekanan ini dengan memperluas kebijakan insentif likuiditas dan memperkenalkan instrumen hedging vastra untuk menarik modal asing. Penjabat Gubernur Sementara BI Destry Damayanti, yang sedang menjalani uji kelayakan di Komisi XI DPR, menegaskan pentingnya sinergi antarlembaga agar langkah satu institusi tidak berjalan sendiri.

Di pasar modal, IHSG rebound 0,70 persen ke level 6.450,59 di sesi pertama Kamis (27/8), setelah tergerus hampir 1,5 persen sehari sebelumnya. Tapi asing masih net sell Rp264,31 miliar. BBRI dan GOTO menjadi dua saham yang paling banyak dilepas. Bukan sinyal yang meyakinkan.

Cabai rawit merah menjadi bintang yang salah kostum. Harganya melonjak hingga Rp81.800 per kilogram berdasarkan data PIHPS Bank Indonesia pada Kamis pagi, naik lebih dari 18 persen hanya dalam sehari. Cabai merah keriting bahkan terkerek hampir 20 persen dalam periode yang sama. Beras justru bergerak terbalik, sebagian didukung klaim Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bahwa stok beras nasional kini di angka 5,2 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah. Pemerintah membidik ekspor beras ke Timor Leste, Filipina, Papua Nugini, hingga Arab Saudi.

Gambar berbeda datang dari distribusi Minyakita. Rata-rata harga nasional produk ini masih bertahan di Rp16.344 per liter, di atas HET Rp15.700. Kenaikan indeks perkembangan harga Minyakita kini terjadi di 90 kabupaten/kota, naik dari 87 pada pekan sebelumnya. Pemerintah tengah membahas kenaikan porsi distribusi melalui BUMN dari 35 persen menjadi 60 persen, bahkan ada usulan 100 persen. Peneliti Celios Isnawati Hidayah justru mengingatkan bahwa persoalannya bukan pada siapa distributornya. "Menaikkan porsi distribusi melalui BUMN itu belum tentu otomatis membuat Minyakita lebih murah," tegasnya kepada Bisnis. Masalahnya ada di tata kelola rantai pasok yang, kalau data ini bisa dipercaya, belum beres dari hulu ke hilir.

Agenda pembangunan tetap berjalan di tengah semua kerumitan itu. Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan APBN 2025 berhasil menjaga pertumbuhan ekonomi di 5,11 persen, tingkat kemiskinan turun ke 8,25 persen, dan laporan keuangan pemerintah pusat kembali meraih opini WTP kesepuluh kalinya dari BPK. Belanja negara dalam RAPBN 2027 untuk pertama kalinya menembus Rp4.097 triliun, dengan defisit ditargetkan 2,40 persen dari PDB. Ketua Banggar DPR Said Abdullah meminta pemerintah disiplin menjaga angka ini agar debt service ratio tidak makin mengkhawatirkan.

Proyeksi IMF dalam World Economic Outlook menempatkan Indonesia di posisi yang agaknya melegakan secara jangka panjang. Total PDB global pada 2030 diperkirakan mencapai US$150,3 triliun, dengan Indonesia diproyeksikan masuk kelompok 20 ekonomi terbesar dunia. Tapi antara proyeksi dan kenyataan jangka pendek, selisihnya bisa terasa sangat jauh. Terutama bagi yang hari ini sedang nyangkut di lonjakan harga cabai dan Minyakita yang tak kunjung turun ke level HET.