RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Perbankan  ›  Tujuh Saham Bank Layak Pantau: Baca Rasionya, Baru...

Perbankan

Tujuh Saham Bank Layak Pantau: Baca Rasionya, Baru Tentukan Posisi

Dari BMRI hingga NISP, tujuh emiten perbankan ini punya profil keuangan yang layak diperbandingkan. Data FY24 bicara lebih jelas dari sekadar reputasi.

Sebelum sibuk soal dividen jumbo atau aksi korporasi, sektor perbankan sebetulnya menyodorkan sesuatu yang lebih mendasar: model bisnis yang mudah dibaca, terukur, dan relatif tahan banting lintas siklus ekonomi. Bukan tanpa risiko, tapi investor yang paham cara membaca rasio punya keunggulan nyata dibanding yang cuma ikut-ikutan.

Cara bank menghasilkan uang tidak banyak berubah dari dekade ke dekade. Dana dihimpun dari nasabah lewat tabungan, deposito, dan giro, lalu disalurkan kembali sebagai kredit dengan bunga lebih tinggi. Selisihnya, net interest income, adalah jantung profitabilitas perbankan. Di atas itu ada fee-based income dari komisi, biaya administrasi, sampai transaksi trading yang makin material di era digital.

Dari sinilah rasio keuangan mulai bicara.

Capital Adequacy Ratio (CAR) mengukur seberapa tebal bantalan modal bank menghadapi potensi kerugian. Bank Indonesia menetapkan minimum 8%, tapi bank-bank besar Indonesia rata-rata jauh melampaui ambang itu. Non-Performing Loan (NPL) nett memberi sinyal kualitas portofolio kredit, dengan batas aman 5% versi regulator. Loan-to-Deposit Ratio (LDR) idealnya sekitar 90%, mencerminkan keseimbangan antara agresivitas penyaluran kredit dan kecukupan likuiditas. Lalu ada NIM, ROA, dan ROE yang secara kolektif menggambarkan seberapa efisien modal diputar jadi laba.

Berdasarkan laporan keuangan FY24, tujuh emiten perbankan ini layak masuk watchlist.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) memimpin dari sisi total aset Rp2.427 triliun, dengan laba bersih Rp55,78 triliun. CAR 20,10%, NPL nett 0,33%, dan ROE 24,19% menjadikannya salah satu yang paling solid dari sisi manajemen risiko. Angka NPL sekecil itu, jujur saja, jarang ditemui di bank sebesar Mandiri.

Justru dari sisi laba bersih, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang memimpin. Rp60,15 triliun. Angka yang tidak main-main. NIM 6,47% tertinggi di antara ketujuh emiten ini, cerminan model bisnis yang masih berat ke segmen mikro dan UMKM dengan yield kredit lebih tinggi. ROA 3,76% juga paling tebal di kelompok ini.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membukukan laba Rp54,84 triliun dengan CAR 29,36%, angka yang agaknya terlampau nyaman untuk ukuran bank yang terus tumbuh. LDR 78,44% paling rendah di kelompok ini, sinyal bahwa bank ini sangat likuid, tapi ada yang bilang terlalu konservatif dalam menyalurkan kredit. ROA 4,86% bicara lain. Ini bank yang sangat efisien menggunakan asetnya.

Rp1.129 triliun aset dan Rp21,46 triliun laba bersih, itu pencapaian PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI). ROE 15,81% paling rendah di antara empat bank KBMI 4. Satu angka yang patut dicermati investor yang sensitif terhadap imbal hasil modal.

Turun ke KBMI 3, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) menarik perhatian dengan pertumbuhan yang konsisten. Laba Rp7,01 triliun, NIM 5,66%, dan NPL nett hanya 0,50%. Segmen syariah yang masih relatif underpenetrated di Indonesia bisa jadi katalis jangka panjang. Bisa jadi juga hanya narasi. Pertanyaannya, berapa lama tren pertumbuhan ini bertahan?

PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) dan PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) melengkapi daftar dengan profil lebih moderat. BNGA membukukan laba Rp6,83 triliun dengan ROE 14,50%. NISP mengantongi Rp4,87 triliun dengan CAR 23,39% yang cukup tebal. LDR keduanya di kisaran 81-82%, tergolong sehat.

Dari data ini, investor bisa menarik peta yang lebih jelas. BBRI dan BBCA berebut posisi favorit dengan keunggulan di parameter yang berbeda. BMRI solid hampir di semua lini. BBNI punya ruang perbaikan. Tiga bank KBMI 3 menawarkan exposure lebih terfokus dengan risiko yang lebih spesifik pula.

Satu hal tidak berubah: angka-angka di atas adalah potret masa lalu. Kualitas kredit saat siklus ekonomi melambat dan arah suku bunga dalam beberapa kuartal mendatang akan menentukan apakah rasio-rasio ini bisa dipertahankan, atau justru mulai bergeser. Pasar, seperti biasa, tidak menunggu siapa pun.