Tiga serangkai Vivo V80 Series tampaknya tidak akan cuma mampir ke India dan Malaysia saja. Vivo V80, V80 Lite, dan V80 FE sudah tercatat di situs TKDN Kementerian Perindustrian sekaligus e-Sertifikasi Postel Kementerian Komunikasi dan Digital. Dua syarat wajib sebelum ponsel bisa dijual resmi di Indonesia. Formalitas regulasinya, singkatnya, sudah beres.
Dari data TKDN, V80 terdaftar dengan kode V2648 dan nilai TKDN 35,10 persen. V80 Lite (V2626) berbagi nilai yang sama. V80 FE sedikit berbeda: kode V2624 dengan TKDN 35,80 persen. Ketiganya tercatat mendukung jaringan 5G. Vivo Indonesia sendiri masih tutup mulut soal tanggal peluncuran maupun harga.
Di antara ketiganya, V80 paling banyak diketahui jeroannya. Ponsel ini debut di India dengan sejumlah klaim yang cukup serius, termasuk kolaborasi kamera dengan Zeiss dan bodi setebal 7,69 mm meski menggendong baterai 7.200 mAh. Bobot 203 gram untuk kelas ini terbilang masuk akal. Rangka aluminium, punggung kaca, tiga pilihan warna: Horizon Blue, Stellar Black, dan Sunrise Anthem.
Layar AMOLED 6,59 inci beresolusi 1,5K (2.750 x 1.260 piksel) hadir datar, sama persis seperti V70. Yang bergerak maju adalah refresh rate, naik ke 144Hz, ditambah in-display fingerprint ultrasonic. Kecerahan puncak tetap di 5.000 nits, HBM 1.800 nits.
Dapur pacunya? Masih Snapdragon 7 Gen 4. Identik dengan V70. Bagi sebagian orang ini terasa jalan di tempat, tapi Vivo agaknya memilih mendongkrak pengalaman di bagian lain. RAM seragam 8 GB, penyimpanan tersedia 128 GB, 256 GB, sampai 512 GB berbasis UFS 3.1. Satu poin menarik: V80 masuk jajaran ponsel pertama yang langsung berjalan di OriginOS 7 berbasis Android 17.
Kamera jadi jualan utama. Sensor Sony LYT-700V 50 MP dengan OIS jadi tulang punggung, sanggup merekam video sinematik 4K hingga 60 fps. Di sampingnya, periscope telephoto 50 MP Sony IMX882 dengan OIS dan optical zoom 3x. Pelengkapnya ultrawide 8 MP. Kamera depan 50 MP, sudut pandang 92 derajat, autofocus. Semua lensa diklaim dikembangkan bersama Zeiss. Kalau klaim ini terbukti di lapangan, ini bisa jadi paket yang susah ditolak di rentang harganya.
Baterai 7.200 mAh didukung fast charging 90W. Sertifikasi IP68 dan IP69 bikin ponsel ini tahan debu sekaligus tahan semprotan air bertekanan tinggi. Konektivitas lengkap: Wi-Fi dual-band, Bluetooth 5.4, NFC, GPS, dan eSIM. Di India, harga mulai INR 62.999, sekitar Rp11,6 juta untuk varian 8 GB/128 GB, lalu Rp12,9 juta (256 GB) dan Rp14,8 juta (512 GB).
Satu tingkat di bawahnya ada V80 Lite, yang sudah lebih dulu meluncur di Malaysia. Kalau V80 jualan kolaborasi Zeiss, V80 Lite main di daya tahan: baterai 10.000 mAh. Angka yang langsung menempatkannya sebagai pesaing Redmi Note 17 Pro Max dan Oppo A7 Pro Max. Fast charging-nya 44W, dan Vivo mengklaim baterai ini masih mempertahankan lebih dari 80 persen kapasitas setelah 1.400 siklus pengisian. Layar AMOLED 6,83 inci resolusi 1,5K, refresh rate 120Hz, kecerahan HBM 2.000 nits. Chipset turun ke MediaTek Dimensity 7300e, RAM 6 GB atau 8 GB. Kamera belakang 50 MP plus depth sensor 2 MP, kamera depan 32 MP. OriginOS 6 berbasis Android 16. IP68 dan IP69.
Anggota ketiga, V80 FE, masih gelap total. Sertifikasi hanya mengungkap kode model, nama pemasaran, dan dukungan 5G. Tidak ada bocoran layar, chipset, kamera, atau baterai. Apakah ketiganya meluncur serentak atau bertahap di Indonesia, itu pun belum jelas. Pertanyaannya, berapa lama lagi Vivo Indonesia akan diam?