MINGGU, 18 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Transaksi Emas Digital Nyaris Rp 300 T, Industri B...

Finansial

Transaksi Emas Digital Nyaris Rp 300 T, Industri Berjangka Pacu Literasi

Nilai transaksi emas digital Indonesia tembus Rp 299,49 triliun dalam delapan bulan pertama 2026, melonjak 641% dari tahun lalu. Di balik angka yang menggiurkan itu, regulator dan pelaku industri kompak: pertumbuhan tanpa literasi adalah bom waktu.

Transaksi Emas Digital RI Nyaris Rp 300 Triliun!

Rp 299,49 triliun. Angka itu bukan proyeksi akhir tahun, melainkan realisasi transaksi emas digital Indonesia hanya dalam delapan bulan, Januari hingga Agustus 2026. Bappebti mencatat lonjakan 641,1 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang baru menyentuh Rp 40,41 triliun. Dari sisi volume, 115,86 ton emas berpindah tangan secara digital, naik 382,6 persen dari 24 ton setahun sebelumnya. Masif, bukan?

Agaknya, pertumbuhan sekencang itu justru memunculkan kekhawatiran tersendiri bagi regulator.

Kepala Bappebti Tirta Karma Senjaya menegaskan lonjakan transaksi ini membuka peluang lebih besar, tapi harus dibarengi pemahaman masyarakat yang memadai soal mekanisme, legalitas, dan risiko. "Peningkatan transaksi harus diiringi dengan pemahaman masyarakat mengenai regulasi, ekosistem, mekanisme, peluang, dan risiko perdagangan emas digital. Masyarakat pun dapat mengambil keputusan transaksi secara lebih bijak," kata Tirta, dikutip dari laman resmi Kementerian Perdagangan, Minggu (18/10/2026).

Sentimen serupa datang dari sisi kliring. PT Kliring Berjangka Indonesia (KBI) mencatat volume transaksi perdagangan berjangka komoditi yang dikliringkan melonjak 109,4 persen secara tahunan hingga September 2026. Dua lonjakan besar dari dua titik ekosistem yang berbeda, tapi bermuara pada satu kesimpulan yang sama: industri ini sedang tancap gas.

Pelaksana Tugas Direktur Utama KBI Adiyasa Suhadibroto menilai pertumbuhan aktivitas transaksi harus diikuti kemampuan pelaku pasar dalam mengambil keputusan berdasarkan informasi yang memadai. "Sejalan dengan semangat Bulan Literasi PBK 2026, kami meyakini bahwa industri yang kuat tidak hanya ditopang oleh kinerja yang baik, tetapi juga oleh pemahaman masyarakat yang memadai mengenai mekanisme perdagangan dan risiko yang menyertainya," ujar Adiyasa dalam keterangan tertulis, Jumat (16/10/2026).

Momentum ini dikemas dalam Bulan Literasi Perdagangan Berjangka Komoditi 2026 bertema Smart Traders, Wise Choices: Navigating Commodity Futures in the Digital Era, yang melibatkan regulator, bursa, kliring, hingga pedagang fisik emas digital.

Soal keamanan ekosistem, Bappebti mewajibkan seluruh pemain, mulai bursa berjangka, pedagang fisik emas digital, pengelola tempat penyimpanan, hingga depository, untuk mengantongi sertifikasi ISO 27001 yang mencakup keamanan cloud dan privasi data. Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme pun diwajibkan. Sinyal bahwa regulator tak ingin pasar yang tumbuh pesat ini jadi celah aktivitas ilegal.

Struktur emas digital Indonesia mempertahankan rasio kepemilikan 1:1, setiap gram yang tercatat secara digital wajib didukung emas fisik di pihak ketiga. Ketua PPEDI Anang Samsudin menegaskan kesesuaian jumlah emas nasabah dengan emas yang tersimpan harus dipastikan lewat pemeriksaan dan pengawasan berkala. "Transaksinya tercatat secara digital, tetapi tetap berbasis emas fisik yang disimpan pihak ketiga (kustodian). Kesesuaian jumlah emas yang dimiliki nasabah dengan emas yang tersimpan pun harus dipastikan melalui pemeriksaan dan pengawasan secara berkala. Ini penting untuk menjaga keamanan aset dan kepercayaan masyarakat terhadap perdagangan emas digital," sebut Anang.

KBI sendiri menutup semester dengan catatan tambahan yang tidak buruk: tiga penghargaan sekaligus di ajang The Asian Post Best State-owned Enterprise 2026, mencakup kinerja lima tahun berturut-turut, efisiensi perusahaan, dan kinerja keuangan 2025.

Pertanyaannya bukan lagi apakah emas digital akan terus tumbuh. Dengan harga emas global yang masih di level tinggi dan penetrasi digital yang kian dalam, trennya sudah cukup jelas. Yang lebih relevan buat investor ritel: apakah mereka cukup paham produk yang mereka beli, atau sekadar ikut arus karena angkanya terlihat menggoda?