Sepanjang 7 hingga 21 Mei 2026, harga saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) bergerak bak batu yang dilempar ke jurang, dari Rp6.375 melorot ke Rp2.270 tanpa tanda-tanda mau berhenti. Lima hari terakhir, saham ini mencatat Auto-Rejection Bawah (ARB) berturut-turut, termasuk pada sesi Kamis (21/5) yang amblas 14,66 persen atau setara 390 poin.
Angka-angkanya bikin dahi berkerut. Dalam sepekan, TPIA sudah tergerus 47,21 persen. Dalam sebulan, 62,63 persen. Sejak Januari 2026, saham ini terjun sedalam 67,57 persen, menguapkan 4.730 poin dari harga pembukaan tahun di Rp7.000. Bursa Efek Indonesia pun menyematkan status Unusual Market Activity (UMA) pada TPIA, sekaligus pada saham-saham satu grup seperti PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA).
Satu isu yang paling ramai berputar di linimasa: margin call. Dugaan publik mengarah pada penjaminan saham TPIA oleh induk usahanya, PT Barito Pacific Tbk (BRPT), kepada sejumlah bank, termasuk Bangkok Bank Public Company Limited yang tercatat memegang 2,8 miliar lembar saham berdasarkan Akta Fidusia tertanggal 13 Desember 2022.
BRPT akhirnya angkat bicara lewat pernyataan resmi Kamis (21/5/2026). Manajemen menegaskan bahwa seluruh fasilitas pembiayaan dan penjaminan saham dikelola secara prudent, dengan mekanisme mitigasi yang sudah memperhitungkan skenario volatilitas pasar. "Perseroan terus menjaga rasio margin dan posisi likuiditas secara disiplin sesuai prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang baik," bunyi pernyataan BRPT.
Agus Pangestu, yang mewakili manajemen grup, berbicara lebih gamblang. Soal spekulasi margin call yang berseliweran di media sosial, ia bilang posisi kas dan rasio utang perusahaan cukup kuat, dan informasi itu sudah tersedia dalam disclosure keuangan. "Kalaupun ada kolateral saham yang dijaminkan atas keperluan perusahaan, saya yakin tidak lebih dari 10%," ungkap Agus. Klaim yang, agaknya, masih perlu dibuktikan oleh pasar.
Satu faktor lain yang menghajar saham-saham grup Barito: rebalancing MSCI. Pada 12 Mei 2026, MSCI Inc. mengumumkan hasil tinjauan indeks ekuitas global periode Mei 2026, dan TPIA masuk daftar enam emiten Indonesia yang dicoret dari MSCI Global Standard Index. Lima nama lainnya: PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT). Perubahan komposisi ini efektif berlaku saat penutupan perdagangan 29 Mei 2026. Artinya, tekanan jual dari fund manager yang tracking MSCI belum sepenuhnya selesai.
Manajemen justru memilih sorot ekspansi. Agus menyebut proyek Chlor Alkali-Ethylene Dichloride (CA-EDC) milik TPIA kini sudah mencapai progres sekitar 70%, dibangun bersama Danantara sebagai bagian dari agenda hilirisasi industri, dan diklaim akan menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja. Grup Barito juga sedang merampungkan peningkatan kapasitas energi terbarukan hingga 1 Gigawatt, ditargetkan kelar akhir 2026.
Soal eksklusi MSCI, Agus berdalih itu di luar kendali perusahaan karena sepenuhnya mengikuti metodologi penyedia indeks. "Fokus kami tetap pada penguatan fundamental bisnis dan strategi pertumbuhan jangka panjang," ujarnya, lalu mengutip pernyataan Ketua OJK: "short-term pain for long-term gain."
Bagi investor yang sudah nyangkut di harga Rp6.000-an, framing jangka panjang itu terasa kurang menghibur. Portofolio sudah menyusut dua pertiga dalam lima bulan. Cukup untuk bikin siapa pun kehilangan selera makan.