Angka US$88 miliar bukan proyeksi sembarangan. Itulah estimasi ukuran pasar tokenisasi aset atau Real World Assets (RWA) di Indonesia pada 2030, berdasarkan riset Tiger Research yang memetakan laju pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 31,7 persen hingga akhir dekade ini. Pertumbuhan itu ditopang oleh satu megatren yang sedang berjalan kencang: investor Indonesia mulai melirik saham-saham Amerika Serikat bukan lewat broker konvensional, melainkan melalui token berbasis blockchain.
Globalnya, McKinsey & Company memperkirakan nilai aset keuangan yang ditokenisasi bisa mendekati US$2 triliun pada 2030, dengan skenario optimistis hingga US$4 triliun. Data on-chain awal 2026 menunjukkan angkanya sudah puluhan miliar dolar, dan momentumnya belum menunjukkan tanda-tanda melambat. Dari saham teknologi hingga ETF, kini semuanya bisa dibungkus jadi token yang bisa diperdagangkan 24 jam sehari.
Bittime, salah satu platform kripto lokal yang aktif di segmen ini, mencatat lonjakan kepemilikan Tokenized US Stocks sebesar 106 persen hanya dalam 48 jam setelah meluncurkan fitur Flexible Staking dengan imbal hasil hingga 7 persen APR. Sekitar 96 persen dana baru yang masuk mengarah ke aset bertema kecerdasan buatan, terutama NVIDIA, Meta, dan Microsoft. Lima kepemilikan terbesar pekan lalu: SpaceX (SPCXX), NVIDIA (NVDAX), Tesla (TSLAX), MicroStrategy (MSTRX), dan Apple (AAPLX).
Direktur Operasional Bittime Ryan Lymn menyebut tren ini mencerminkan investor Indonesia yang semakin terbuka terhadap diversifikasi ke aset global. "Tokenisasi membuka akses yang lebih mudah bagi investor Indonesia untuk memiliki eksposur ke perusahaan-perusahaan global. Kami melihat minat terhadap aset ini terus meningkat seiring berkembangnya ekosistem aset digital," ujar Ryan.
Tapi di balik semua euforia itu, ada pertanyaan yang agaknya belum cukup keras ditanyakan: apakah aset yang diklaim benar-benar ada?
CEO Bitget Gracy Chen tidak segan menyebut ini sebagai blind spot industri. Banyak platform berlomba menawarkan saham tokenisasi, tapi melewatkan hal yang paling fundamental. "Setiap exchange ingin berfokus pada penyediaan saham yang ditokenisasi, tetapi mereka mengabaikan pentingnya keamanan dan stabilitas, terutama terkait Proof of Reserves yang transparan," tegasnya.
Sebagai respons, Reality, platform penerbitan RWA teregulasi yang didukung Bitget, merilis laporan Proof of Reserves yang mencakup seluruh portofolio rToken-nya. Terverifikasi secara independen oleh The Network Firm. Sekuritas dasarnya disimpan lewat Alpaca Securities LLC, broker-dealer terdaftar FINRA yang dilindungi SIPC. Hingga kini, Reality telah menerbitkan lebih dari 500 saham dan ETF AS, termasuk SpaceX, Tesla, dan NVIDIA, dengan total AUM melampaui US$100 juta.
Gracy mengklaim rToken saat ini memiliki likuiditas terbesar untuk saham berbentuk token di industri kripto yang terhubung dengan NASDAQ-NYSE, setidaknya itu klaim manajemen yang perlu dibuktikan pasar. Tapi langkah verifikasi independen ini sudah satu langkah di depan kebanyakan kompetitor.
Bagi investor ritel Indonesia yang mulai melirik Tokenized US Stocks sebagai jalan pintas diversifikasi portofolio, dua pertanyaan ini sebaiknya jadi checklist sebelum masuk: siapa yang menyimpan aset dasarnya, dan siapa yang memverifikasinya? Kalau dua pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan jelas oleh platform pilihan kamu, angka proyeksi sebesar apapun tidak ada artinya.