Sepanjang akhir Agustus ini, Kalimantan Timur bergerak lebih agresif menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan, dengan dua pendekatan yang berjalan hampir bersamaan: uji teknologi kimia di lapangan dan pengerahan ratusan personel militer dari berbagai matra.
Kamis (27/8), Polda Kaltim menggelar uji coba metode sekat api di kawasan Perumahan Sepinggan Asri, Balikpapan. Bahan semikimia Hartindo AF31 dan F351 diaplikasikan di lahan non-gambut untuk membentuk semacam garis batas yang diharapkan mampu menghambat pergerakan api ke area yang belum terbakar. Bahan berbasis air ini bukan hal baru di dunia pengendalian kebakaran, tapi penerapannya di konteks karhutla Kaltim menjadi uji coba yang layak dicermati.
Kapolda Kaltim Irjen Pol Endar Priantoro menegaskan strategi pemadaman saja tidak lagi memadai, terutama ketika lahan kering dan angin bertiup cukup kencang. "Sekecil apa pun titik api harus segera kita antisipasi. Apalagi kondisi sekarang panas, kering dan angin cukup kuat," jelasnya. Pemadaman, kata dia, hanya satu bagian dari persoalan. "Penanganan bukan hanya memadamkan api. Kita juga perlu membatasi pergerakannya agar tidak meluas," tambahnya. Di lokasi Sepinggan Asri, lahan yang terbakar diperkirakan antara 3 sampai 4 hektare, sementara penyebabnya masih dalam penyelidikan. Total lahan terbakar di Kaltim hingga hari itu tercatat sekitar 75,6 hektare.
Dua hari berselang, giliran TNI. Ratusan personel Satgas Karhutla mendarat di Base Ops Lanud Dhomber, Balikpapan, menggunakan pesawat C-130H Hercules, Sabtu (29/8). 583 personel penyuluh. Terdiri dari 50 perwira tinggi dan 533 perwira menengah, datang dari matra Darat, Laut, Udara, dan Mabes TNI.
Setibanya di Balikpapan, pasukan langsung terbagi ke dua titik penugasan. Tim Penyuluhan Karhutla ditempatkan di Asrama Haji Balikpapan, sedangkan Tim Alpha Karhutla bergerak ke Barak Dodikjur VI/Mulawarman untuk persiapan operasi lapangan. Kepala Staf Kodam VI/Mulawarman Brigjen TNI Andy Setyawan menyebut edukasi dan keterlibatan masyarakat sebagai fondasi yang harus dibangun jauh sebelum api sempat membesar. "Pencegahan harus dilakukan bersama. Edukasi, kesadaran, dan kepedulian masyarakat adalah fondasi utama agar karhutla bisa ditekan sejak dini," ujarnya.
Kaltim bukan satu-satunya yang dapat perhatian. Personel penyuluh TNI juga digerakkan secara bertahap ke Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Riau, dan Kalimantan Utara, semuanya wilayah dengan kerentanan serupa di musim kemarau yang tidak menunggu siapa-siapa.
Kolaborasi lintas instansi terlihat cukup solid di lapangan. Dalam peninjauan uji sekat api di Sepinggan Asri, Kapolda Kaltim didampingi Pangdam VI/Mulawarman Mayjen TNI Krido Pramono, Kepala BPBD Kota Balikpapan, Basarnas, hingga komandan satuan lapangan masing-masing lembaga. Koordinasi model ini, kalau data lapangan bisa dipercaya, agaknya coba menambal titik lemah yang selama ini berulang di penanganan karhutla tahun-tahun sebelumnya.
Hasil uji coba Hartindo masih menunggu evaluasi sebelum Polda Kaltim memutuskan apakah metode ini layak diperluas. "Kalau hasilnya efektif, metode ini akan kita coba di wilayah lain yang membutuhkan," kata Endar. Pertanyaannya: seberapa cepat evaluasi itu rampung, sementara musim kemarau terus berjalan.