Dari pabrik perakitan di Hai Phong, Vietnam, Vinfast memperlihatkan tiga amunisi yang akan mereka bawa ke pasar Indonesia dalam waktu dekat. Tiga skuter listrik: Neo, Feliz II, dan Viper. Masing-masing dengan posisi berbeda, masing-masing menyasar selera yang berbeda pula.
Neo paling terang-terangan mengambil inspirasi dari Italia. Desainnya mengingatkan langsung pada Vespa Primavera, dari guratan bodi sampai jok coklat dan behel belakang krom-nya. Apakah itu masalah? Bergantung sudut pandang. Yang jelas, hasilnya cukup harmonis untuk disebut punya karakter sendiri, bukan sekadar jiplakan murahan.
Feliz II tampil lebih dewasa. Masih ada nuansa Piaggio di sana-sini, tapi keseluruhan desainnya lebih orisinil dibanding Neo. Proyektor kotak dengan alis krom, jok bertingkat, behel belakang yang bisa dipasang box. Agaknya Vinfast menempatkan Feliz II sebagai skuter urban yang ingin membedakan diri dari serbuan produk listrik asal Tiongkok yang belakangan makin ramai mengisi jalanan Indonesia.
Viper lain lagi ceritanya. Lampu depan mengotak, tebeng stang mengingatkan pada Honda Vario, postur sporty khas skuter Jepang. Familier, bak gayung bersambut dengan selera pasar lokal yang sudah terbiasa dengan pakem desain Asia. Justru karena itu, Viper bisa jadi yang paling mudah diterima secara massal.
Soal performa, ketiga model ini menggunakan motor listrik berkapasitas 1.500 hingga 1.890 watt dengan baterai 1,5 kWh untuk spesifikasi Vietnam. Versi Indonesia akan hadir dengan dua baterai sekaligus. Jarak tempuhnya? Melompat. Versi satu baterai di Vietnam mencatat rata-rata 82-85 km. Dengan dua baterai, angkanya merangkak ke kisaran 145-150 km. Untuk mobilitas perkotaan Indonesia, itu sudah lebih dari cukup.
Satu detail yang patut dicermati, kalau data lapangan ini bisa dipercaya sepenuhnya: Vinfast sudah menyetel ulang suspensi untuk versi Indonesia. Versi Vietnam terasa keras, sesuai kondisi jalan Ho Chi Minh yang relatif mulus. Versi kita dirancang lebih lunak untuk mengakomodasi aspal yang, jujur saja, masih jauh dari sempurna. Dengan bobot dua baterai, tarikan dan stabilitas di tikungan terasa lebih meyakinkan dibanding versi Vietnam yang ringan tapi agak gugup.
Battery swap juga masuk daftar opsi untuk versi Indonesia. Fleksibilitas tambahan yang membuat argumen soal jarak tempuh makin tipis.
Spesifikasi final dan harga belum diumumkan. Tapi dari apa yang sudah terlihat, Vinfast tidak datang untuk sekadar ikut-ikutan ramai. Pertanyaannya, apakah pasar Indonesia akan menyambut? Itu baru terjawab setelah peluncuran resminya.