Volume transaksi kartu kredit nasional pada Oktober 2025 tercatat 45,226 juta kali, tumbuh 11,75% secara tahunan. Dari sisi nilai, angkanya menembus Rp41,25 triliun, naik 11,05% dibanding periode yang sama tahun lalu. Bukan angka kecil, terutama kalau diingat bahwa banyak pihak sudah lama memprediksi kartu kredit bakal digilas paylater dan sejenisnya.
Prediksi itu agaknya terlalu cepat.
Bank Mandiri (BMRI) menjadi salah satu yang paling terbuka soal kinerja ini. Hingga akhir Desember 2025, baki debet kartu kredit BMRI tumbuh 12% YoY dengan total 2,3 juta kartu beredar di masyarakat. Volume transaksi ikut terkerek 11% YoY, sebagian besar ditopang momentum belanja akhir tahun selama libur Natal dan Tahun Baru.
"Momentum belanja masyarakat yang meningkat di akhir tahun menjadi salah satu pendorong utama kenaikan transaksi kartu kredit," kata Senior Vice President Credit Cards Group Bank Mandiri, Agus Hendra Purnama, kepada Kontan, Senin (19/1).
Tapi Mandiri tidak sepenuhnya bergantung pada faktor musiman. Fitur digital di aplikasi Livin' by Mandiri ikut bekerja keras: digital onboarding untuk akuisisi nasabah baru, virtual card untuk QRIS dan e-commerce, tarik tunai tanpa kartu, hingga Tap to Pay lewat ponsel Android. Satu lagi yang terbaru, pembayaran via virtual account di Livin', menambah lapisan fleksibilitas yang kelihatannya cukup diapresiasi nasabah.
Kualitas aset? NPL kartu kredit BMRI diklaim berada di bawah rata-rata industri. Mandiri juga menjalankan Debt Restructure Program (DRP) bagi nasabah yang kesulitan membayar. Langkah standar, tapi penting untuk menjaga rasio tetap bersih saat portofolio tumbuh agresif. "Program restrukturisasi ini menjadi bagian dari komitmen kami untuk menjaga kualitas portofolio kartu kredit agar tetap sehat dan berkelanjutan," ujar Agus.
Bank Permata (BNLI) tampil dengan klaim yang lebih berani. Haryanto, Division Head Consumer Lending Permata Bank, menyebut transaksi kartu kredit perseroan tumbuh di atas 20% secara tahunan. Target tahun ini pun dipatok di angka yang sama, yakni 20%. Tidak ada nominal spesifik yang dibuka ke publik, tapi arahnya jelas.
Untuk mendorong transaksi, Permata menggandeng Japan Airlines lewat Permata Bank x JAL Travel Fair 2026. Pilihan yang terasa pas, mengingat nasabah kelas menengah Indonesia sedang getol wisata ke Jepang. "Khusus untuk behavior yang orang Indonesia lakukan misalnya di Jepang, mostly digunakan untuk dining dan shopping," jelas Haryanto.
Danamon lain cerita. Sampai September 2025, volume transaksi penjualan kartu kredit PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) sudah melesat sekitar 15% YoY. Rata-rata outstanding loan naik hampir 10% dibanding periode yang sama tahun lalu. Bukan main. Consumer Lending Business Head Danamon, Enriko Sutarto, memastikan NPL masih terjaga di level rendah sesuai target. Pertumbuhan ke depan, kata Enriko, akan bersandar pada sinergi dalam ekosistem MUFG Group.
Tiga bank, tiga angka dobel digit. Ketiganya juga kompak melaporkan kualitas aset bersih. Entah kebetulan atau tidak, polanya terlalu rapi untuk diabaikan.
Pertanyaannya sederhana: apakah paylater benar-benar mengancam kartu kredit? Setidaknya data kuartal ini belum membuktikannya. Yang lebih tepat digambarkan bukan persaingan, melainkan koeksistensi. Paylater menyasar segmen yang lebih luas dan cenderung impulsif; kartu kredit bertahan di kelas menengah atas yang aktivitas belanjanya tetap tinggi, apalagi saat musim liburan. Selama daya beli segmen ini tidak ambruk, bisnis kartu plastik tampaknya belum akan kehabisan napas.