SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  The Fed Tahan Sikap, Inflasi AI Jadi Variabel Baru...

Ekonomi

The Fed Tahan Sikap, Inflasi AI Jadi Variabel Baru yang Sulit Diabaikan

Wakil Ketua Fed Philip Jefferson menegaskan fokus pada pengendalian inflasi di tengah pasar tenaga kerja AS yang dinilai tangguh. Di sisi lain, pejabat Fed lain mulai menyoroti lonjakan investasi AI sebagai sumber tekanan inflasi struktural baru.

Pasar Tenaga Kerja AS Sangat Tangguh, The Fed Fokus Kendalikan Inflasi

Pasar tenaga kerja Amerika Serikat agaknya cukup kokoh untuk memberi Federal Reserve ruang bernapas. Wakil Ketua Fed Philip Jefferson, berbicara di konferensi yang digelar Bank of Japan di Tokyo, Kamis (28/5), menyatakan bahwa ketahanan pasar tenaga kerja terhadap guncangan energi yang sedang berlangsung membuat fokus pada pengembalian inflasi ke target 2% menjadi langkah yang tepat.

Pernyataan Jefferson adalah yang pertama sejak Kevin Warsh resmi dilantik sebagai Ketua Fed yang baru pada pekan lalu. Nadanya jelas: kebijakan moneter belum akan bergeser. Jefferson mengakui bahwa memproyeksikan arah suku bunga secara pasti memang sulit, mengingat ketidakpastian soal durasi dan besarnya dampak guncangan energi akibat perang. "Yang diperhatikan semua segmen masyarakat adalah kenaikan harga energi dan khususnya bensin. Kami peka terhadap bagaimana hal itu berdampak pada kehidupan masyarakat sehari-hari," kata Jefferson.

Ada ironi di sini. Justru saat guncangan energi menjadi hambatan nyata bagi pertumbuhan, Jefferson menyebut ekspansi investasi di sektor kecerdasan buatan sebagai faktor yang membuat ekonomi AS tetap tumbuh positif. "Guncangan energi merupakan hambatan bagi pertumbuhan, tetapi kita masih mengalami pertumbuhan selama episode ini," ujarnya.

Narasi di sini makin menarik. Kalangan pejabat Fed mulai terang-terangan menyebut booming investasi AI sebagai sumber inflasi struktural tersendiri, sesuatu yang berbeda dari inflasi rantai pasok atau lonjakan permintaan konsumen pascapandemi yang selama ini mendominasi diskusi. Bayangkan: pabrikan chip kebanjiran pesanan, pusat data butuh daya listrik dan sistem pendinginan dalam skala masif, sementara talenta AI diperebutkan dengan harga yang tidak murah. Biaya produksi dan operasional di ekosistem pendukung AI merambat ke harga akhir, perlahan tapi pasti.

Bukan angka kecil dampaknya. Pejabat Fed Thomas Barkin bahkan menyebut fenomena ini menekan apa yang dikenal sebagai "tingkat netral" suku bunga, yakni level teoritis di mana suku bunga tidak menstimulasi maupun mendinginkan ekonomi. Jika investasi AI membuat ekonomi cenderung memanas lebih cepat dari baseline, tingkat netral yang dibutuhkan pun lebih tinggi dari estimasi semula. Sinyal yang tidak bisa dianggap remeh: jalur penurunan suku bunga Fed bisa jauh lebih berliku dari ekspektasi mayoritas pelaku pasar.

Implikasinya bagi portofolio cukup nyata. Skenario "higher for longer" yang kembali menguat akan menopang Dolar AS, menggerus aset-aset pasar berkembang termasuk Rupiah, dan mempersulit kalkulasi nilai wajar saham-saham bervaluasi tinggi yang selama ini dimanjakan oleh ekspektasi penurunan bunga. Emas berdiri di posisi lebih ambigu: tekanan inflasi secara teori menguntungkan logam mulia, tapi suku bunga tinggi yang berkepanjangan memotong daya tarik aset tanpa yield. Bisa jadi keduanya benar sekaligus, tergantung sentimen mana yang lebih dulu pecah.

Jefferson memastikan ia belum mengambil sikap terlebih dahulu soal pertemuan FOMC berikutnya pada 16-17 Juni, dan ingin berdiskusi lebih dahulu dengan para koleganya. Kalimat standar, sudah sangat familiar di telinga pelaku pasar. Tapi konteksnya kali ini sedikit berbeda: dengan variabel inflasi AI yang mulai masuk ke kalkulasi resmi pejabat Fed, pertanyaan soal kapan siklus pelonggaran benar-benar bergulir kembali semakin terbuka jawabannya.