Tahun 2026 agaknya jadi titik balik bagi pasar tablet di Indonesia. Perangkat yang dulu identik dengan scroll media sosial dan maraton Netflix kini bergeser fungsi, baik sebagai mesin gaming serius maupun pengganti laptop bagi jutaan pekerja mobile dan mahasiswa yang ogah repot bawa notebook berat ke mana-mana.
Di segmen gaming, Lenovo Legion Tab masih jadi nama yang disebut pertama. Tablet ringkas berukuran 8,8 inci ini dibekali chipset kelas flagship dan RAM hingga 16 GB, angka yang, jujur saja, sudah lebih dari cukup untuk game-game berat sekalipun. Refresh rate tinggi di layarnya memastikan pengalaman bermain tetap responsif, bukan sekadar angka di atas kertas. Xiaomi Pad 8 Pro menyodorkan proposisi berbeda: RAM hingga 12 GB dipadu penyimpanan 512 GB, menjadikannya bukan hanya mesin gaming, tapi juga pusat multimedia yang layak.
Tapi bagi sebagian besar pengguna, kebutuhan bukan soal nge-raid dungeon atau grinding ranking. Di sinilah segmen mid-range masuk dengan tawaran yang semakin menggiurkan, dan pilihannya cukup beragam untuk membuat kepala pusing.
Motorola Moto Pad 60 Neo membawa fitur Smart Connect yang memungkinkan tablet difungsikan sebagai layar kedua untuk laptop Windows. Bagi freelancer yang sering kerja dari kafe atau co-working space, ini bukan fitur receh. Infinix Xpad 20 Pro LTE memilih jalur berbeda dengan menyematkan teknologi AI berbasis DeepSeek, yang diklaim mampu merangkum dokumen panjang dan mempercepat penyusunan ide. Premisnya menarik, terutama buat kreator konten dan pelajar, meski kinerjanya dalam penggunaan nyata masih perlu dibuktikan sendiri.
Samsung Galaxy Tab A11 Plus bermain di ranah produktivitas dengan mengandalkan Samsung DeX, fitur yang mengubah antarmuka tablet menjadi mode desktop. Multitasking terasa berbeda ketika browser, dokumen, dan aplikasi chat bisa dibuka bersamaan dalam satu layar yang tertata. HUAWEI MatePad 11.5R PaperMatte datang dengan solusi lain: layar anti-silau yang diklaim nyaman untuk sesi kerja panjang, dilengkapi WPS Office berkemampuan mendekati versi desktop untuk mengolah dokumen, presentasi, maupun spreadsheet.
Redmi Pad 2 Pro menutup daftar dengan keunggulan paling pragmatis. Daya tahan baterai. Kapasitas besar plus dukungan HyperOS Interconnect untuk berbagi file antarperangkat menjadikannya pilihan yang membumi, terutama bagi pengguna yang sudah dalam ekosistem Xiaomi.
Ada benang merah yang menghubungkan semua ini: chipset mid-range 2026 jauh lebih efisien dari generasi sebelumnya, kualitas layar meningkat pesat, dan fitur ekosistem lintas perangkat kini bukan lagi privilege tablet flagship. Harga lebih terjangkau dibanding laptop, bobot lebih ringan dari mayoritas notebook, kemampuan lebih luas dari smartphone. Kombinasi itu sulit ditolak.
Pertanyaannya bukan lagi apakah tablet layak dibeli. Tapi mana yang paling cocok dengan kebiasaan kerjamu sehari-hari.