Pasar tablet Android tahun ini menawarkan rentang pilihan yang cukup lebar, dari yang sekadar muat di satu tangan hingga yang berani diklaim bisa menggantikan laptop mahasiswa. Masalahnya, banyak calon pembeli kebingungan menentukan kebutuhan sebenarnya sebelum merogoh kocek.
Untuk segmen ringkas, tablet berlayar 8 inci atau sekitar angka tersebut tetap punya penggemarnya sendiri. Kelas ini didominasi chipset MediaTek: ada yang mengandalkan Helio G99 dengan layar 8,7 inci untuk aktivitas sehari-hari seperti streaming dan browsing, ada pula yang mengandalkan Helio G85 dengan baterai 6.650 mAh. Samsung Galaxy Tab A9 masuk kategori ini dengan layar TFT 8,7 inci beresolusi 1.340 x 800 piksel, RAM 4 GB, penyimpanan 64 GB, dan slot microSD hingga 1 TB. Harga terjangkau, ekspansi storage luas. Cukup untuk konsumsi konten harian.
Satu tingkat di atasnya, tablet berbasis Snapdragon 680 membawa baterai 7.020 mAh, agaknya ditujukan bagi pengguna yang lebih sering mobile dan tidak mau repot charging setiap malam. Kalau soal performa murni di kelas 8-an inci, Lenovo Legion Tab Gen 5 jelas berada di liga berbeda. Layar 8,8 inci, Snapdragon 8 Elite, baterai 9.000 mAh. Spesifikasi yang biasanya baru ditemukan di tablet gaming papan atas.
Satu hal yang perlu diketahui: pilihan tablet Android yang benar-benar tepat 8 inci sekarang makin terbatas. Kebanyakan produsen bergerak ke 8,7 hingga 8,8 inci, dan itu de facto menjadi "kelas 8 inci" di pasaran saat ini.
Segmen mahasiswa urusan lain. Lebih ribet, karena menyangkut total biaya kepemilikan, bukan sekadar harga stiker di etalase. Lenovo Idea Tab muncul sebagai kandidat kuat berkat paket bundling yang menyertakan keyboard dan stylus sekaligus di harga peluncuran Rp4.299.000, untuk konfigurasi RAM 8 GB dan penyimpanan 128 GB. Layar 11 inci resolusi 2,5K, refresh rate 90Hz. Lenovo juga berkomitmen dua kali upgrade OS dan empat tahun pembaruan keamanan, sesuatu yang sering diabaikan pembeli tapi krusial untuk pemakaian empat tahun di bangku kuliah.
Samsung Galaxy Tab A11+, dibanderol Rp4.499.000, menawarkan argumen berbeda: komitmen tujuh generasi pembaruan OS dan tujuh tahun patch keamanan. Dihitung per tahun, perangkat ini ibarat investasi software jangka panjang. Layar 11 inci 1.920 x 1.200 piksel, refresh rate 90Hz, Android 16 dengan One UI 8, plus Trifold Book Cover di paket peluncuran, meski konsumen perlu cek ulang apakah bundling itu masih berlaku.
Xiaomi Pad 6 tampil dengan spesifikasi paling menggoda di kelas harga ini. Layar 2,8K, refresh rate 144Hz, Snapdragon 870, storage 256 GB, semua itu Rp4.899.000. Ada jebakannya. Keyboard dan stylus masing-masing dijual Rp999.000 terpisah, sehingga total dengan dua aksesori sudah tembus sekitar Rp6,9 juta, jauh dari asumsi awal. Mahasiswa yang belum butuh stylus dari hari pertama bisa mempertimbangkan ini, tapi yang ingin paket lengkap sejak transaksi pertama sebaiknya lirik opsi lain.
HUAWEI MatePad SE 11 hadir dengan entry point paling terjangkau, mulai Rp3.599.000, layar IPS 11 inci resolusi 1.920 x 1.200 piksel, dan baterai 7.700 mAh yang cukup tebal untuk satu hari penuh perkuliahan. Catatannya, dan ini klaim yang tetap perlu diverifikasi per kampus masing-masing: ekosistem HUAWEI tidak menggunakan layanan Google bawaan. Artinya, Google Docs, Google Meet, atau aplikasi absensi berbasis Play Store perlu dicek kompatibilitasnya sebelum transaksi.
POCO Pad M1 punya spesifikasi paling besar di daftar ini. Layar 12,1 inci resolusi 2,5K, refresh rate hingga 120Hz, Snapdragon 7s Gen 4, RAM 8 GB, storage 256 GB, baterai 12.000 mAh, di harga Rp4.999.000. Angka yang tidak main-main. Tapi keyboard terpisah Rp699.000 dan tanpa stylus bawaan, sehingga bagi mahasiswa dengan anggaran ketat yang butuh perangkat lengkap sejak hari pertama, perhitungannya tidak semenarik kelihatannya di atas kertas.
Beli tablet itu mudah. Beli yang tepat untuk kebutuhan dan budget total yang ada, itu urusan lain. Hitung dulu aksesorinya sebelum tap "beli sekarang".