SELASA, 29 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  SUV Diesel Bekas Lesu: Fortuner dan Pajero Mulai S...

Bisnis

SUV Diesel Bekas Lesu: Fortuner dan Pajero Mulai Susah Laku

Harga Pertamina Dex yang tembus Rp 24.800 per liter membuat pasar mobil bekas diesel berguncang. Fortuner dan Pajero Sport mengalami depresiasi tajam, sementara calon pembeli malah tanya soal barcode Biosolar.

Harga Pertamina Dex Naik, Barcode BBM Jadi Pertanyaan Pembeli Mobil Diesel Bekas

Selisih harga BBM diesel yang menganga kini mengubah peta pasar mobil bekas secara nyata. Pertamina Dex dijual Rp 24.800 per liter, Dexlite Rp 23.000 per liter, sementara Biosolar bersubsidi bertahan di Rp 6.800 per liter. Perbedaan hampir empat kali lipat itu bukan lagi sekadar angka di SPBU, tapi sudah menggeser perilaku pembeli di showroom. Maaf, em dash tadi harus diganti: Perbedaan hampir empat kali lipat itu bukan lagi sekadar angka di SPBU. Pergeserannya sudah terasa sampai ke lantai showroom.

Dampaknya paling keras di segmen SUV diesel bekas. Toyota Fortuner, yang bertahun-tahun jadi primadona bursa mobkas, kini mulai sulit dilepas. Sekretaris Jenderal Asosiasi Mobil Bekas Indonesia (AMBI) Ricky Prawiro menyebut depresiasi Fortuner diesel sudah melampaui apa yang pernah terjadi sebelumnya, kecuali saat pandemi Covid-19. Fortuner yang baru dibeli seharga sekitar Rp 663 juta pada 2024 kini hanya dihargai sekitar Rp 485 juta di pasar bekas, alias tergerus 26 persen.

"Kalau harga pasaran saya jual Fortuner, bakal lebih lama laku," akui Ricky. Ia masih menggenggam stok lima hingga enam unit Fortuner diesel yang belum berhasil dilepas.

Nasib Mitsubishi Pajero Sport lebih berat lagi. Pajero Sport Dakar Ultimate yang baru dibanderol Rp 733 juta kini beredar di pasar bekas sekitar Rp 490 juta, depresiasi 33 persen. Bukan soal kualitas produk, kata Ricky, melainkan kombinasi harga BBM dan karakter pasar: konsumen luar Jawa cenderung setia ke Fortuner, sehingga Pajero Sport jarang bergerak ke daerah. Harga bekasnya kini berkisar Rp 320 juta hingga Rp 700 juta tergantung tipe dan tahun produksi.

Yang agaknya mengejutkan pelaku pasar: pertanyaan soal barcode Pertamina untuk mengakses Biosolar bersubsidi justru banyak datang dari segmen menengah ke atas. "Mobil-mobil di atas Rp 500 juta, pasti nanyanya 'Kalau ini mobil ada barcode-nya enggak?'," ungkap Ricky. Sebagian calon pembeli rupanya berasumsi barcode itu melekat permanen pada kendaraan dan bisa langsung dipakai setelah transaksi. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Barcode bisa nonaktif kapan saja dan tidak otomatis berpindah bersama kendaraan, sementara diler pun tidak bisa mengurusnya karena harus langsung melibatkan pemilik.

Penurunan minat terkonfirmasi pula dari kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Irwan, penjaga showroom di sana, menyebut penjualan diesel terkoreksi 40 hingga 50 persen, sementara Toyota Avanza dan Innova berbahan bakar bensin justru naik daun. Avanza keluaran 2020 ke atas di bawah Rp 150 juta dan Innova di bawah Rp 300 juta kini jadi incaran utama. Innova diesel sendiri kena sedikit tekanan harga karena reputasinya yang boros.

Pertanyaannya, berapa lama tren ini bertahan?

Dari sisi pabrikan, Auto2000 mengakui ada penurunan tapi menegaskan belum parah. Pangsa pasar diesel nasional memang melorot dari 20,4 persen menjadi 19,3 persen sepanjang Januari-Mei 2026, dari total penjualan ritel yang justru tumbuh 8,8 persen secara tahunan menjadi 359.490 unit. Chief Marketing Auto2000 Yagimin menyebut sebagian konsumen sekadar menunda pembelian sambil menunggu harga BBM stabil, bukan benar-benar berpaling dari diesel. "Pembeli mobil diesel Toyota itu, mereka juga bukan hanya semata-mata karena masalah bahan bakar, tapi lebih ke karena memang secara behavior, keyakinan dan juga kebutuhan. Mereka merasa mobil diesel ini enak, fun to drive," tegasnya.

Poin Yagimin ada benarnya, setidaknya untuk segmen kendaraan niaga. Truk dan pikap komersial masih bisa mengakses Biosolar bersubsidi, sehingga tekanan harga relatif kecil di sana. Perlambatan lebih banyak menyasar kendaraan penumpang seperti Fortuner dan Innova Reborn yang terpaksa minum solar nonsubsidi.

Satu hal yang kerap luput dari diskusi soal diesel: perawatan mesin jadi semakin krusial ketika pemilik tergoda pakai solar kualitas rendah demi menekan biaya. Mulianto, Senior Analyst PCO & Specialties PT Pertamina Lubricants, mengingatkan bahwa musuh utama mesin diesel adalah jelaga di ruang bakar. Solar dengan Cetane Number rendah seperti CN51 mempercepat penumpukan kerak, memicu knocking, dan ujung-ujungnya merusak komponen lebih cepat. Bahan bakar murah hari ini, tagihan bengkel tidak murah bulan depan.

Tren ini belum satu arah penuh, kalau data ini bisa dipercaya. Fortuner SRZ bensin keluaran 2017 dengan kilometer 130.000 justru terjual lebih cepat dari diesel. Selera pasar sedang bergeser, bukan menghilang. Apakah harga BBM nonsubsidi akan koreksi, atau pasar mobil diesel bekas harus berdamai dengan realita baru ini untuk waktu yang lebih lama?