Dua masalah besar sekaligus tengah menghantui kalangan konglomerat Asia Pasifik: ancaman resesi global yang makin terasa nyata, dan lubang menganga bernama perencanaan suksesi yang terus diabaikan.
Survei yang dirilis Banque Lombard Odier & Cie SA dari Swiss mengungkap bahwa 55% individu berpenghasilan tinggi di kawasan ini khawatir ekonomi global akan jatuh ke jurang resesi dalam tiga tahun ke depan. Hampir separuh lainnya bahkan memperkirakan kejatuhan pasar saham. Ketakutan itu bukannya tanpa dasar: tekanan inflasi masih menggerogoti daya beli, perang di Timur Tengah mendorong lonjakan harga energi, dan kebijakan tarif Amerika Serikat terus menciptakan ketidakpastian rantai pasok global.
Responden survei ini bukan sembarangan. Seluruh 390-an peserta yang disurvei antara Desember 2025 hingga Februari 2026 adalah individu dengan aset investasi bersih minimal US$1 juta, tersebar di sembilan pasar: Australia, Tiongkok, Hong Kong, Jepang, Malaysia, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Filipina.
Tapi di balik kecemasan itu, ada ironi yang lebih mengkhawatirkan.
Hanya 26,9% responden yang mengaku memiliki rencana suksesi lengkap, sementara 39,4% lainnya sama sekali belum menyiapkan apa-apa soal pengalihan kekayaan. Kelompok yang paling bermasalah? Baby boomer, generasi yang lahir antara 1946 hingga 1964, dan justru yang paling banyak memegang kendali aset.
Angkanya cukup bikin dahi berkerut. Hanya 13,6% dari generasi baby boomer yang benar-benar memikirkan kelancaran transisi kepemilikan, berbanding terbalik dengan milenial di angka 37,4%, bahkan generasi Z pun lebih siap di posisi 30%. Yang lebih menggelitik: cuma 5% baby boomer yang melihat kurangnya komunikasi terbuka sebagai masalah, sementara lebih dari 30% generasi Z, milenial, dan X justru menyebut itu hambatan utama. Bak cermin retak, dua generasi melihat realitas yang sama dari sudut pandang yang sama sekali berbeda.
Laporan Lombard Odier menyebut kondisi ini sebagai "tingkat kepuasan diri" yang mengkhawatirkan. Generasi pendiri bisnis masih menggenggam kendali, belum cukup melibatkan penerus, sementara sang penerus sudah punya jalur karier atau minat tersendiri.
"Generasi berikutnya sudah memiliki jalur karier atau minat bisnis sendiri, sehingga mereka belum siap, atau bahkan tidak tertarik mengambil alih bisnis keluarga," kata Louisa Loo, Head of Wealth Planning Lombard Odier untuk kawasan Asia, dalam diskusi media di Singapura, Kamis (28/5).
Secara geografis, Jepang, Filipina, Malaysia, dan Hong Kong tercatat sebagai pasar dengan kesiapan suksesi paling rendah. Sekitar separuh responden dari negara-negara itu mengaku tidak punya rencana, atau menganggap suksesi belum relevan bagi mereka. Sikap yang, agaknya, cukup berani mengingat skala kekayaan yang mereka kelola.
Konteksnya lebih besar dari sekadar urusan domestik. Keluarga-keluarga kaya di seluruh dunia sedang bersiap mewarisi triliunan dolar ke generasi berikutnya, dan para taipan Asia yang menua kini berhadapan dengan dilema klasik: menyerahkan bisnis kepada anak yang mungkin tidak tertarik, atau ke profesional luar yang tidak punya ikatan emosional. Tidak ada pilihan yang mudah.
Pertanyaannya, berapa lama para pendiri bisnis ini bisa terus menunda percakapan yang tidak nyaman itu? Kalau data survei ini bisa dipercaya, jawabannya: tidak terlalu lama lagi.