KAMIS, 8 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Survei BI: Optimisme Konsumen Mulai Goyah, Lapanga...

Ekonomi

Survei BI: Optimisme Konsumen Mulai Goyah, Lapangan Kerja Jadi Sorotan

Indeks Keyakinan Konsumen Juni 2026 turun ke 117,8 dari 120,9 di bulan sebelumnya. Optimisme masih bertahan, tapi sinyal pelemahan di pasar tenaga kerja mulai berbicara.

Survei BI: Optimisme Konsumen atas Lapangan Kerja Turun, tapi Belum Pesimistis

Angka 117,8 itu masih di atas garis optimistis. Tapi arahnya yang bikin tidak nyaman: turun dari 120,9 pada Mei 2026. Survei Konsumen Bank Indonesia edisi Juni 2026 yang dirilis Rabu (8/7) memperlihatkan keyakinan masyarakat terhadap ekonomi mulai kehilangan tenaga, dan pasar tenaga kerja jadi salah satu titik lemahnya.

Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) tergelincir ke 109,2 dari 112,2 sebulan sebelumnya. Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) ikut amblas ke 126,4 dari 129,7. Keduanya belum masuk zona berbahaya. Tapi tren penurunan dua bulan berturut-turut bukan sesuatu yang bisa dikesampingkan.

Yang paling menggelitik dari survei ini justru soal lapangan kerja. Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) untuk kondisi saat ini tercatat 101,8, turun dari 105,0 di Mei. Tipis di atas angka 100, kalau pakai koma, 1,8 poin dari zona pesimistis. Satu guncangan lagi, dan angka itu bisa tergelincir ke bawah ambang.

Siapa yang paling khawatir? Bukan yang muda. Kelompok usia di atas 41 tahun sudah mencatat indeks di bawah 100 untuk ketersediaan lapangan kerja saat ini, alias sudah masuk teritori pesimistis. Kelompok 20-40 tahun masih bertahan di atas ambang, meski juga mencatat pelemahan. Dari sisi pendidikan, lulusan sarjana paling percaya diri dengan indeks 109,0, disusul diploma di 101,2. Kelompok dengan pendidikan di bawah itu sudah pesimistis. Agaknya ini cermin kekhawatiran yang lebih struktural: semakin rendah modal manusia seseorang, semakin sempit persepsinya terhadap peluang kerja yang tersedia.

Untuk ekspektasi enam bulan mendatang, konsumen masih relatif tenang. Indeks ekspektasi ketersediaan lapangan kerja tercatat 124,4, ekspektasi penghasilan 133,6, dan ekspektasi kegiatan usaha 121,2. Ketiga angka ini menopang IEK agar tetap di zona nyaman. Hanya kelompok usia 51-60 tahun yang mencatat kenaikan ekspektasi lapangan kerja; kelompok usia lainnya justru memangkas optimisme mereka untuk paruh kedua tahun ini.

Secara geografis, Makassar, Banten, dan Medan mencatat penurunan IKE terbesar. Sebaliknya, Mataram, Padang, dan Palembang justru mencatat peningkatan, anomali yang bisa jadi mencerminkan dinamika ekonomi lokal yang bergerak di jalurnya sendiri, lepas dari tren nasional.

Dari sisi kelompok pengeluaran, konsumen dengan belanja di atas Rp5 juta per bulan masih paling optimistis dengan IKK 121,4. Dari sisi usia, kelompok 20-30 tahun memimpin dengan IKK 124,3, tertinggi di antara semua segmen.

Satu hal yang patut dicermati: penurunan ini terjadi di seluruh tingkat pendidikan dan hampir semua kelompok usia secara bersamaan. Bukan koreksi di satu segmen. Pelemahan yang merata, bak retakan halus yang muncul di seluruh permukaan sekaligus. Bisa jadi ini pantulan dari ketidakpastian eksternal yang masih menggantung, atau mulai masuknya dampak perlambatan aktivitas ekonomi ke persepsi masyarakat sehari-hari. Pertanyaannya, kalau tren ini berlanjut ke Juli, seberapa jauh IKK bisa melorot?