Selisihnya bukan sedikit. Survei gaji terbaru Adecco Indonesia untuk tahun 2026 memperlihatkan bahwa dua manajer dengan masa kerja setara bisa pulang dengan slip gaji yang beda enam kali lipat, tergantung di industri mana mereka bekerja.
Berdasarkan data yang dikompilasi Adecco dari klien korporat dan kandidat pekerja, gaji kotor bulanan posisi manajer dengan pengalaman 3 hingga 7 tahun paling rendah ada di angka Rp15 juta, yakni di sektor perbankan, jasa keuangan dan asuransi (BFSI), ritel, serta F&B. Di ujung lain spektrum, manajer di industri pertambangan bisa meraup lebih dari Rp100 juta sebulan untuk level jabatan yang sama. Kesenjangannya bukan main.
Sektor teknologi informasi sudah kompetitif bahkan di level junior. Untuk posisi dengan pengalaman 0 hingga 3 tahun, AI Developer ditawarkan di kisaran Rp8 juta hingga Rp10 juta, sementara Financial Analyst di ranah IT bisa menyentuh Rp15 juta. Minyak dan gas secara historis juga konsisten di atas rata-rata, meski data detailnya tidak selengkap sektor lain dalam survei ini.
Kontrasnya paling terasa di segmen entry-level. Barista di sektor F&B dibatasi di angka maksimal Rp6,5 juta. Staf toko ritel? Mentok di Rp10 juta. Di kelompok menengah, posisi Sales Engineer di FMCG dan manufaktur bisa mencapai Rp16 juta, dan Translator Bahasa Mandarin dihargai Rp12 juta hingga Rp15 juta, segmen yang agaknya mulai naik daun seiring derasnya investasi dari Tiongkok.
Adecco sendiri mengingatkan bahwa angka-angka ini mencerminkan gaji kotor bulanan berdasarkan pengalaman, kualifikasi, dan pertimbangan lain yang relevan, bukan patokan baku yang berlaku seragam. Skala bisnis dan lokasi penempatan turut berpengaruh pada realisasi aktualnya.
Bagi investor yang mencermati emiten-emiten terdaftar, peta gaji ini layak jadi salah satu input analisis. Perusahaan di sektor IT dan pertambangan yang membayar mahal untuk talentanya perlu dilihat lebih dalam: apakah mereka punya pricing power yang cukup untuk mengalihkan kenaikan beban tenaga kerja ke konsumen, atau justru tergerus marginnya dari dalam. Sebaliknya, sektor F&B dan ritel yang menawarkan gaji rendah berisiko dihajar turnover tinggi dan kesulitan menarik SDM berkualitas, dua hal yang bisa mengganggu konsistensi operasional jangka menengah.
Satu konteks yang patut dicermati: survei ini dirilis saat rupiah bertengger di kisaran Rp17.995 per dolar AS. Kenaikan gaji nominal yang tertera belum tentu otomatis mendongkrak kesejahteraan riil pekerja, bisa jadi daya beli mereka justru stagnan meski angka di slip gaji bertambah. Pertanyaannya sederhana tapi tajam: kenaikan gaji dalam angka, atau kenaikan gaji yang sesungguhnya?