Belum genap tiga minggu setelah serah terima, Theodorus Herutomo Theo sudah berhadapan dengan tagihan perbaikan Rp195,5 juta untuk Jaecoo J5 EV miliknya. Angka yang agaknya tidak pernah masuk kalkulasi saat ia memutuskan membeli SUV listrik premium itu.
Semua bermula dari suara kecil. "Pletak." Dari bawah mobil, saat Theo sedang dalam perjalanan menuju Semarang. Tak lama setelah itu, ikon kura-kura hijau muncul di panel instrumen, tanda bahwa sistem otomatis memangkas kecepatan maksimum menjadi 30 km/jam. Customer service menyarankan mematikan mesin 30 menit hingga satu jam. Theo menunggu 40 menit, mobil kembali normal, perjalanan dilanjutkan.
Tapi masalah tidak selesai di situ. Sehari kemudian di Semarang, kura-kura hijau itu kembali menyapa begitu mesin dinyalakan. Bengkel resmi Jaecoo Semarang menjatuhkan diagnosis yang mengejutkan: "nepel" atau pipa pendingin baterai patah, menyebabkan cairan coolant bocor dari sistem termal baterai. Satu-satunya solusi, ganti battery pack. Estimasinya, Rp195,5 juta.
Dari sudut teknis, sistemnya sebetulnya bekerja sebagaimana mestinya. Begitu cairan pendingin bocor, sistem manajemen termal kehilangan kemampuan mendinginkan sel baterai. Kura-kura hijau itu bukan bug, melainkan fitur keselamatan yang aktif mencegah overheat. Foto inspeksi menunjukkan battery cover standar memang terpasang, tapi tetap jebol dihantam benturan keras. Pipa pendingin yang patah di titik bracket, menurut analisis bengkel, adalah bagian struktural yang kaku dan rentan saat kena hantaman dari bawah. Titik lemah yang, bisa jadi, belum banyak disadari calon pembeli EV di Indonesia.
Ada soal yang lebih mengganggu dari sekadar biaya perbaikan. Theo mengirim email ke customer service Chery: balasan pertama datang meminta data diri, dua email berikutnya sunyi. Tidak dibalas sama sekali. Respons cepat baru datang setelah ia mengunggah keluhannya ke grup Facebook Jaecoo J5 Indonesia. Siang hari setelah posting itu, seseorang bernama Andy menghubungi via WhatsApp, mengaku dari ATPM. Sore harinya, Theo sudah diminta hadir ke showroom Jaecoo Karawaci. Di pertemuan itu, pihak ATPM meminta maaf berkali-kali atas dua email yang tidak direspons. Entah kebetulan atau tidak, kecepatan respons purnajual ternyata berbanding lurus dengan seberapa ramai suara konsumen di media sosial.
Perbaikan akhirnya berjalan lewat jalur asuransi. Surat Perintah Kerja terbit 5 Agustus 2026, suku cadang tiba di dealer 15 Agustus 2026, pemasangan battery pack pengganti rampung 18 Agustus 2026. Tiga setengah minggu sejak kejadian pertama dilaporkan.
Jim Ma, Business Unit Director Omoda & Jaecoo Indonesia, bergeming soal narasi ini. "Sebenarnya, kami sudah berbicara dengan konsumen tersebut," katanya saat ditemui di Tangerang, Rabu (19/8/2026). "Menurut saya, akan lebih baik jika konsumen tersebut yang memberikan update mengenai kejadian ini. Sehingga, dia bisa memberikan cerita yang lengkap, dibandingkan kami memberikan penjelasan, yang membuatnya malah kami seperti mengarangnya," tambah Jim Ma. Soal biaya, ia menegaskan: "Ini adalah kecelakaan mobil. Sehingga, semua kerugian akan ditanggung oleh pihak asuransi."
Pernyataan resmi Omoda Jaecoo Indonesia mengonfirmasi pemeriksaan langsung pada 23 Juli 2026 di diler Semarang menunjukkan kebocoran coolant pada sistem baterai akibat insiden tersebut. Secara teknis, J5 EV dibekali ground clearance 200 mm dan kemampuan melewati genangan hingga kedalaman 450 mm, plus battery cover sebagai pelindung standar. Ternyata kombinasi itu tetap punya batas.
Kasus ini semacam cermin retak dari tantangan nyata segmen EV di Indonesia: infrastruktur jalan yang jauh dari ideal bertemu arsitektur baterai yang paling rentan di bagian bawah kendaraan. Bukan soal cacat pabrik. Risiko fisik yang melekat. Yang jadi catatan justru bukan kerusakannya, melainkan fakta bahwa dua email konsumen dibiarkan tidak terjawab sampai keluhannya ramai diperbincangkan. Pertanyaannya, berapa banyak konsumen lain yang tidak sempat viral?