RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Strategy Jual Bitcoin Pertama Kali Sejak 2022, Pas...

Finansial

Strategy Jual Bitcoin Pertama Kali Sejak 2022, Pasar Langsung Gaduh

Penjualan 32 BTC oleh Strategy senilai US$2,5 juta memicu gelombang FUD, sindiran Jim Cramer, dan tekanan pada saham preferen STRC. Citi menyebutnya bukan pengubah permainan, tapi pasar belum tentu setuju.

Jim Cramer Sindir Michael Saylor Telah “Membunuh Bitcoin” saat MicroStrategy Hadapi Lautan FUD

Tiga puluh dua Bitcoin. Angka yang, secara proporsional, nyaris tak kelihatan dari atas gunung 843.000 BTC yang Strategy simpan di neraca mereka. Namun cukup untuk membakar satu narasi yang selama ini dijaga ketat: Saylor tidak pernah menjual.

Perusahaan treasury kripto milik Michael Saylor itu mengungkapkan pekan ini bahwa mereka melepas 32 BTC untuk pertama kalinya sejak 2022, menghasilkan sekitar US$2,5 juta. Dana itu dipakai untuk membayar dividen atas saham preferen perusahaan. Bukan transaksi yang mengubah posisi fundamental mereka. Tapi pasar tidak selalu membaca angka dengan kepala dingin.

Citi, dalam catatannya, menyebut ini bukan peristiwa yang mengubah peta. Hanya transaksi kecil dalam konteks yang jauh lebih besar. Pandangan yang masuk akal di atas kertas, agaknya kurang memperhitungkan betapa sarat simbolisme langkah tersebut bagi komunitas yang membangun seluruh narasi mereka di atas satu prinsip sederhana. Prinsip itu kini patah. Dan kehancuran simbolis, entah kebetulan atau tidak, sering kali lebih mahal dari kehancuran finansialnya.

Jim Cramer, pembawa acara CNBC yang punya rekam jejak panjang sebagai kontrarian tidak sengaja di kalangan investor ritel, langsung menyambar momen ini. Lewat media sosial, ia melempar retorik "who murdered Bitcoin?" yang secara luas dibaca sebagai sentilan langsung ke Saylor. Komunitas kripto bereaksi keras, sebagian besar membela Saylor. Tapi reaksi itu sendiri adalah bukti bahwa FUD sudah terlanjur menyebar.

Saylor merespons dengan menyatakan penjualan terjadi karena modal berputar ke sektor AI, bukan karena keyakinannya terhadap Bitcoin goyah. Ia bahkan menegaskan model ini bisa terus berjalan secara struktural: dengan menjual instrumen kredit setara 1,4% dari aset, dividen bisa dibayar sekaligus jumlah BTC tetap bertambah dalam jangka panjang. Klaim yang masih perlu dibuktikan dalam siklus bearish yang berkepanjangan.

Yang lebih mengkhawatirkan buat investor adalah kondisi STRC, saham preferen Strategy dengan suku bunga variabel dan tanpa jatuh tempo. Instrumen ini dirancang untuk diperdagangkan mendekati nilai nominal US$100 lewat mekanisme stabilisasi, tapi pekan ini STRC amblas ke bawah US$95. Bukan kolaps, tapi cukup untuk membuat investor pemburu yield mulai menghitung ulang eksposur mereka.

Model Strategy memang elegan saat pasar sedang bergairah: terbitkan saham dan produk preferen terstruktur, gunakan hasilnya untuk mengakumulasi lebih banyak Bitcoin, ulangi. Siklus ini bekerja sempurna dalam kondisi bullish. Ketika Bitcoin diperdagangkan jauh di bawah rata-rata biaya akuisisi Strategy, siklus yang sama bisa berbalik arah dengan kejam. Bumerang yang dirancang sendiri.

Ada konteks lebih luas yang menambah berat tekanan ini. Arus keluar dari ETF Bitcoin dilaporkan mencapai sekitar US$4 miliar sejak pertengahan Mei, sinyal bahwa sentimen institusional pun sedang dalam mode hati-hati. Saham MSTR sendiri telah terkoreksi tajam dari level tertingginya, cermin retak dari betapa eratnya nasib perusahaan ini dengan harga BTC di pasar spot setiap harinya.

Para pendukung Saylor berargumen bahwa ini bukan krisis, hanya kebisingan pasar jangka pendek. Para kritikus menunjuk data lebih keras: taruhan Bitcoin Strategy dalam beberapa tahun terakhir kalah performa dibanding S&P 500, sebuah fakta yang terus diperdebatkan tapi sulit diabaikan begitu saja. Dua kubu, dua versi kenyataan yang sama-sama kokoh.

Pertanyaannya sekarang bukan soal 32 Bitcoin. Pertanyaannya adalah seberapa jauh model keyakinan tinggi ala Strategy bisa bertahan jika volatilitas ini berlanjut hingga kuartal berikutnya. Kalau data ini bisa dipercaya, jawabannya belum pernah benar-benar diuji.