Stok beras di gudang Perum Bulog kini menyentuh 5,3 juta ton hingga pekan ketiga Mei 2026, level tertinggi sepanjang sejarah lembaga itu berdiri. Yang bikin angka ini menarik bukan besarannya, tapi konteksnya: luas baku sawah Indonesia justru menyusut 79.607 hektar dalam lima tahun terakhir, dari 7,46 juta hektar di 2019 menjadi 7,38 juta hektar di 2024.
Kontradiksi itu disebut Wakil Menteri Pertanian Sudaryono bukan anomali. Baginya, ini bukti bahwa produktivitas bisa menggantikan luas. Berbicara dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah di Balai Kartini, Jakarta, ia menyodorkan satu prinsip yang menurutnya kerap diabaikan para pengkritik target swasembada. "Rahasianya sederhana, menanam lebih banyak supaya panennya lebih banyak," katanya.
Pernyataan itu bukan tanpa konteks. Pada 2023, Indonesia masih mengimpor sekitar tiga juta ton beras, naik menjadi sekitar empat juta ton di 2024. Tahun ini keran impor beras konsumsi medium ditutup rapat. Tidak ada impor beras sepanjang 2025, klaim yang masih perlu dibuktikan konsistensinya hingga tutup tahun, tapi stok Bulog setidaknya memberi landasan yang cukup kuat untuk membela angka itu.
Kuncinya ada di pompanisasi. Kementerian Pertanian telah mendistribusikan sekitar 70 ribu unit pompa air ke sejumlah daerah, dikombinasikan dengan pipanisasi, perbaikan jaringan irigasi, dan pengeboran sumur. Targetnya satu: mengubah lahan tadah hujan yang selama ini hanya bisa tanam sekali setahun menjadi lahan yang bisa panen dua hingga tiga kali. "Ada sungai, di atasnya lahan tidak ada air, maka kita pompa," jelas Sudaryono.
Hasilnya mulai kelihatan. Di Kalimantan Tengah, sekitar 51 ribu hektar lahan rawa sudah mulai digarap untuk pertanian setelah melalui beberapa siklus pengembangan. Di Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, sawah yang beberapa tahun lalu masih dibuka kini sudah bisa dipanen hingga tiga kali setahun.
Sudaryono menekankan bahwa tantangan terbesar program cetak sawah bukan pupuk atau benih. "Bibit bisa kita ciptakan, pupuk bisa kita siapkan, tetapi air tidak bisa diciptakan. Air hanya bisa dikelola," tegasnya. Karena itu pemerintah memilih lokasi pengembangan berdasarkan ketersediaan sumber air, bukan semata luasan lahan yang bisa digarap.
Dari sisi ekonomi makro, pergeseran dari impor ke produksi domestik agaknya memberi efek yang lebih dalam dari sekadar neraca perdagangan. Berdasarkan data BPS yang dikutip Sudaryono, nilai ekspor sektor pertanian Januari-Desember 2025 mencapai Rp756,59 triliun, naik sekitar Rp166 triliun dibanding tahun sebelumnya. Impor pertanian di periode yang sama turun Rp41 triliun. Angka yang tidak main-main.
"Dulu uang kita dipakai memperkaya negara lain lewat impor. Sekarang uang yang sama berputar di petani kita sendiri. Ini yang membuat ekonomi daerah bergerak," ungkap Sudaryono. Swasembada jagung dan gula konsumsi yang diklaim telah tercapai juga membuka ruang produksi domestik yang sebelumnya diisi produk luar, setidaknya itu klaim manajemen yang perlu dicermati lebih jauh.
Program Makan Bergizi Gratis ikut disebut sebagai katalis. Permintaan susu, sayur, telur, dan ayam yang melonjak karena program itu menciptakan pasar tertutup bagi komoditas pertanian dan peternakan dalam negeri. Investasi peternakan sapi perah dilaporkan mulai tumbuh di sejumlah daerah seiring naiknya kebutuhan susu nasional.
Soal jangka panjang, cetak sawah baru di luar Jawa diposisikan bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan pangan hari ini. "Penduduk kita terus bertambah. Ini cadangan pangan untuk 50 sampai 100 tahun ke depan," tegas Sudaryono. Ia mengakui terus terang bahwa lahan rawa yang baru dibuka butuh beberapa siklus tanam sebelum optimal, berbeda dari janji-janji infrastruktur yang kerap terkesan instan.
Pertanyaannya tinggal satu: apakah momentum produksi ini bisa dijaga ketika El Nino kembali datang, entah dalam skala biasa atau yang sudah mulai disebut-sebut sebagai Godzilla.