Stok beras nasional sedang dalam kondisi terkuat yang pernah ada. Begitu klaim pemerintah, yang coba dibuktikan lewat kunjungan langsung Presiden Prabowo Subianto bersama Wakil Menteri Pertanian Sudaryono ke gudang-gudang Perum Bulog. Gudang terisi optimal, distribusi terpantau, cadangan beras pemerintah disebut salah satu yang terbesar sepanjang sejarah.
Klaim ini muncul di saat ancaman El Nino kembali membayangi 2026 dan tekanan krisis energi global belum reda. Timing-nya tepat secara politik, meski pembuktian di lapangan masih jadi pekerjaan rumah.
Ketua Harian Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bachtiar Utomo merespons polemik yang belakangan mengemuka, termasuk kritik pakar hukum tata negara Feri Amsari soal swasembada pangan. Bachtiar tegas: keraguan itu tidak mencerminkan kondisi riil di lapangan. "Pemerintah tidak bekerja berdasarkan asumsi. Fakta di lapangan menunjukkan cadangan beras pemerintah dalam kondisi sangat kuat," katanya.
Produktivitas nasional memang tercatat melonjak dalam setahun terakhir, didorong perluasan area tanam, perbaikan infrastruktur irigasi, dan kebijakan yang diklaim lebih berpihak pada petani. Tiga faktor yang, kalau benar berjalan bersamaan, bisa menggerakkan angka produksi secara berarti.
Tapi di level lapangan, ceritanya lebih bernuansa.
Bulog Sulawesi Tengah sedang berpacu. Target serapan satu tahun sebesar 11.300 ton setara beras dikejar tuntas sebelum pertengahan tahun, tepatnya Juli. Per April 2026, realisasi baru menyentuh 2.879 ton atau sekitar 25 persen dari target. Rinciannya: 1.600 ton terserap hingga awal Maret, bertambah sekitar 1.200 ton sepanjang April.
Pimpinan Wilayah Bulog Sulteng Jusri mengaku seluruh jajarannya sudah turun ke lapangan, menjalin komitmen dengan mitra di sentra-sentra produksi. Penguatan jaringan kini meluas ke Morowali, Morowali Utara, Parigi Moutong, hingga Tolitoli. Puncak panen raya yang diperkirakan berlangsung akhir April hingga awal Mei jadi momentum krusial.
Satu hambatan diakui terus terang: petani Sulteng cenderung menjual hasil panen dalam bentuk beras, bukan gabah. Padahal pola penyerapan Bulog lebih optimal lewat gabah. "Kami mengintensifkan sosialisasi karena penyerapan gabah belum berjalan optimal," sebut Jusri.
Mengubah kebiasaan petani bukan perkara gampang. Butuh waktu, butuh insentif yang pas. Musim panen ini jadi ujiannya.
Jusri bahkan memasang target melampaui angka 11.300 ton. "Semakin banyak produksi petani yang diserap, semakin cepat pula realisasi swasembada pangan Indonesia," tegasnya.
Swasembada. Kata itu kembali bergaung setelah lama jadi bahan perdebatan. Pertanyaannya, seberapa solid fondasi di balik klaim ini? Pasar beras, jujur saja, tidak pernah sesederhana angka di gudang Bulog.