Harga saham PT RMK Energy Tbk (RMKE) resmi diperdagangkan di Rp496 per lembar mulai Jumat (17/7), setelah perseroan menuntaskan stock split dengan rasio 1:5. Angka itu dihitung dari harga penutupan cum date Rp2.480 dibagi lima, sesuai formula otomatis Jakarta Automated Trading System (JATS) yang langsung berlaku di Pasar Reguler dan Pasar Negosiasi hari ini.
Sekretaris Perusahaan RMK Energy Muhtar menyebut langkah ini ditujukan untuk meningkatkan likuiditas perdagangan saham di bursa, sekaligus memperluas akses bagi investor ritel. Kepala Divisi Pengaturan dan Operasional Perdagangan BEI Pande Made Kusuma Ari A. mengonfirmasi penyesuaian harga teoretis dan seluruh parameter saham RMKE dijalankan serentak saat pembukaan pasar pagi ini.
RMKE bukan pemain tunggal. Sepanjang 2026, sudah lima emiten masuk daftar stock split, tiga di antaranya menjadwalkan cum date berurutan di bulan Juli.
PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) lebih dulu melewati cum date pada Rabu (15/7) dengan rasio 1:5. Nilai nominal turun dari Rp25 menjadi Rp5, jumlah lembar saham melonjak dari 4,23 miliar menjadi 21,14 miliar, dan per Kamis kemarin harga RAJA sudah berdiri di Rp885 per saham. PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) menyusul dengan cum date 20 Juli 2026, rasio yang jauh lebih agresif: 1:25. Nilai nominal dipangkas dari Rp100 menjadi Rp4, dan jumlah lembar saham meledak dari 1,875 miliar menjadi 46,875 miliar.
Dua emiten yang lebih dulu selesai adalah PT Cyber Media Indonesia Tbk (CYBR) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). CYBR rampung split pada 13 Mei 2026 dengan rasio 1:2, menyesuaikan harga dari Rp1.180 ke Rp590. Hasilnya? Saham ini masih konsolidasi di kisaran harga pembukaan ex date, bahkan tertekan hampir 35 persen dari awal tahun. DSSA, pelopor stock split tahun ini, mengeksekusi pada 9 April dengan rasio jumbo 1:25, memangkas harga dari Rp63.880 ke Rp3.150. Kini sahamnya bertengger di Rp805, anjlok lebih dari 70 persen pasca-split, sempat menyentuh Rp480 di titik terburuknya.
Angka-angka itu butuh konteks yang lebih luas. Tekanan terhadap pasar modal Indonesia tahun ini bukan ringan: MSCI memperketat standar transparansi dan likuiditas, IHSG sempat trading halt dua kali, dan lebih dari 51 emiten masuk daftar High Shareholding Concentration (HSC), kondisi di mana saham tampak aktif diperdagangkan tapi kepemilikannya terkonsentrasi di segelintir pihak. Stock split, karenanya, bukan sekadar aksi kosmetik untuk membuat harga terlihat lebih murah. Ini bagian dari upaya mendorong free float yang lebih sehat, sesuai ketentuan minimal 15 persen yang diberikan masa transisi dua tahun oleh regulator.
Apakah split otomatis memperbaiki likuiditas? Belum tentu. Kalau distribusi kepemilikan belum bergeser nyata, harga lebih murah hanya mengundang lebih banyak partisipan tanpa mengubah struktur fundamental perdagangannya.
Dari sisi fundamental, lanskap kelima emiten ini cukup beragam. RMKE jadi yang paling menarik secara profitabilitas: pendapatan dan laba bersih sama-sama tumbuh positif. DSSA dan RAJA dinilai cukup tangguh karena meski pendapatan tertekan, laba masih berhasil dijaga naik. CYBR masih mencatat kerugian. MLPT? Kontraksi laba hampir separuh secara tahunan. Dari sisi valuasi, DSSA, RAJA, dan RMKE sudah berada di level yang lebih masuk akal, sedangkan CYBR dan MLPT masih terbilang mahal meski harganya sudah amblas.
Narasi ekspansi juga layak dicermati, terutama untuk DSSA dan RAJA. DSSA tengah mendiversifikasi portofolio dari batu bara ke infrastruktur digital: data center hyperscale SMX01, jaringan fiber dan 5G lewat MoraRepublic dan XLSmart, hingga investasi Rp8,54 triliun di PT Bali Media Telekomunikasi (BMT) yang menjadi salah satu pemegang saham EXCL. Kalau data ini bisa dipercaya sebagai sinyal jangka panjang, perpindahan dari komoditas ke digital bisa jadi kartu truf DSSA. RAJA memilih jalur energi, membangun ekosistem LNG melalui akuisisi proyek Floating LNG di Blok Kasuri bersama Genting Group, terminal LNG di Banten, hingga penjajakan blue ammonia dan biomassa untuk segmen EBT jangka panjang.
Stock split bukan tiket naik. Dari lima emiten yang sudah atau akan menjalankannya, semua masih berada di zona kontraksi sejak awal tahun, dengan DSSA sebagai yang terparah. Pertanyaan relevan buat investor bukan "saham mana yang paling murah pasca-split", melainkan "saham mana yang bisnisnya cukup kuat untuk membenarkan harga barunya".