SELASA, 20 OKTOBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  Steam Machine Makin Mahal, Valve Akui Krisis Memor...

Tekno

Steam Machine Makin Mahal, Valve Akui Krisis Memori Belum Ada Ujungnya

Valve memperingatkan bahwa harga komponen memori terus naik dan situasinya kemungkinan memburuk dalam beberapa bulan ke depan, sementara stok Steam Machine sudah habis terjual.

Valve memperingatkan harga memori akan terus naik dan situasinya semakin buruk

Bagi yang masih menunggu harga Steam Machine turun sebelum beli, agaknya kesabaran itu belum akan berbuah manis dalam waktu dekat. Kabar dari Valve justru sebaliknya.

Dalam wawancara dengan Bloomberg, dua insinyur Valve bicara cukup terus terang soal kondisi pasokan yang kian sengkarut. Yazan Aldehayyat menyebut situasinya masih terus memburuk. "Sejujurnya, kondisinya masih semakin parah. Apa yang orang lihat di rak ritel sekarang tertinggal tiga hingga enam bulan dari apa yang kami lihat di sisi pasokan massal," ungkapnya. Rekannya, Pierre-Loup Griffais, menambahkan bahwa kapasitas produksi Valve saat ini praktis dikendalikan satu faktor: ketersediaan memori. "Kami membangun semua yang bisa kami produksi. Kami dibatasi oleh kapasitas memori, pasti," kata Griffais.

Krisis chip yang sempat dianggap mereda ternyata belum selesai. Tanda-tandanya justru mengarah ke pemburukan. Ini bukan kabar yang menyenangkan bagi konsumen yang sudah terkejut dengan banderol Steam Machine versi tanpa kontroler di angka £879 atau sekitar Rp18 juta, dan versi Eropa menembus €1.039.

Ironisnya, meski harganya bikin dahi mengernyit, unit yang tersedia habis terjual. Valve bahkan memperkenalkan sistem antrean berbasis email, di mana calon pembeli mendaftarkan minat lewat Steam Store dan menunggu giliran untuk bisa merogoh kocek lebih dari $1.000. Sistem yang tidak biasa untuk produk yang diklaim masih terkendala produksi.

Soal strategi konten, Griffais menegaskan satu hal yang tidak akan dilakukan Valve: membuat game eksklusif untuk Steam Machine. Bagi sebagian pihak, eksklusivitas adalah senjata utama konsol baru untuk menggaet pengguna. Valve memilih jalan berbeda. "Membatasi di mana orang dapat memainkan game bukan model yang kami percaya. Kami jauh lebih tertarik untuk menjadikan seluruh katalog PC sebagai eksklusif peluncuran kami," tegas Griffais.

Model terbuka ini bukan sekadar ideologi. Ada kalkulasi bisnis di baliknya. Aldehayyat menjelaskan bahwa Valve ingin ekosistem ini tetap layak bagi produsen perangkat keras lain untuk masuk dan berinovasi, tanpa terkunci soal library game. Filosofi jangka panjang yang, entah kebetulan atau tidak, juga menguntungkan Valve lewat Steam sebagai platform distribusi.

Pertanyaan yang tersisa: seberapa lama konsumen bersedia antre, dengan harga yang bisa saja naik lagi sebelum unit berikutnya tersedia?