Dua tahun lalu, ekspektasi terhadap ponsel seharga Rp2 jutaan masih sangat sederhana: asal bisa buka WhatsApp dan scrolling medsos tanpa hang terlalu sering. Standar itu kini sudah gugur, dan gantinya bukan sekadar upgrade kecil-kecilan.
Sepanjang pertengahan 2026, pasar smartphone Indonesia kebanjiran perangkat yang spesifikasinya agak sulit dipercaya jika dikaitkan dengan label harganya. Baterai 7.000 sampai 8.000 mAh, layar AMOLED dengan kecerahan puncak 5.000 nits, pengisian cepat 90W, RAM 12GB, hingga chipset 5G yang sebelumnya hanya ada di ponsel premium, semuanya kini masuk ke segmen entry dan mid-range. Masif, dan ini baru pertengahan tahun.
Mei 2026 saja mencatat belasan peluncuran resmi di Indonesia. Realme membombardir pasar dengan tiga varian C100 sekaligus: C100 standar dengan baterai 8.000 mAh dan chipset Helio G92 Max, C100i berkapasitas 7.000 mAh, serta C100x yang juga membawa baterai 8.000 mAh, sertifikasi IP64, dan klaim tahan jatuh dari ketinggian dua meter. Harga ketiganya bermain di kisaran Rp1 hingga 2 jutaan. Bukan angka kecil untuk spesifikasi seperti itu.
Vivo X300 Ultra dan iPhone 17e masuk dari ujung berlawanan, mewakili kelas premium. X300 Ultra membawa kamera utama 200 MP dengan sistem ZEISS Triple Prime Lenses, chipset Snapdragon 8 Elite Gen 5, RAM hingga 16GB, dan layar LTPO AMOLED 6,82 inci resolusi 2K dengan refresh rate 144Hz. iPhone 17e lebih ringkas: layar OLED 6,1 inci, chip Apple A19, bodi aluminium 170 gram, sertifikasi IP68, dan ketahanan baterai 26 jam pemutaran video.
Narasi yang paling menarik justru berlangsung di segmen Rp3 jutaan, yang sedang bertransformasi paling agresif. Standar baru yang terbentuk di sini bukan lagi soal chipset tercepat, melainkan kombinasi panel AMOLED dengan kecerahan ekstrem, baterai di atas 5.100 mAh, dan pengisian cepat mulai 45W hingga 90W. iQoo Z11 bahkan nekat menawarkan baterai 9.020 mAh dengan chipset Snapdragon 7s Gen 4. iQoo Z11x melengkapinya dengan Dimensity 7400 Turbo dan baterai 7.200 mAh. Pertanyaannya, berapa lama segmen lain bisa bertahan dengan standar lama?
Untuk gamer, pilihannya kini tidak karuan banyaknya. Tecno Pova 7 Neo menawarkan baterai 7.000 mAh dengan Dimensity 6080 5G yang diklaim sanggup bertahan 10 jam screen-on-time untuk gaming nonstop. Poco M8 Pro 5G masuk dengan penyimpanan 256GB dan touch sampling rate 360Hz yang memang terasa di game-game kompetitif. Redmi Note 15 5G memilih jalur lain: panel AMOLED 120Hz dengan manajemen RAM agresif via HyperOS.
Naik satu peringkat, POCO F7 menggabungkan Snapdragon 8s Gen 4 dengan baterai 6.500 mAh dan layar AMOLED 120Hz. Salah satu pilihan paling efisien dalam hal harga versus performa gaming mentah. Realme GT 7 di kisaran Rp8 jutaan bermain di posisi flagship killer, membawa chipset kelas atas dengan RAM 12GB bagi mereka yang menginginkan performa tinggi tanpa menyeberang ke puluhan juta rupiah.
Segmen yang kerap dilupakan adalah pengemudi ojek online. Ironis, karena merekalah pengguna paling demanding soal ketahanan perangkat, bukan demanding grafis, tapi berapa jam baterai bisa bertahan di tengah terik matahari sambil GPS aktif, navigasi berjalan, dan notifikasi pesanan terus masuk. Untuk kebutuhan itu, spesifikasi seperti vapor chamber cooling, IP rating, layar dengan kecerahan tinggi, dan fast charging minimal 33W jauh lebih relevan ketimbang skor AnTuTu.
Beberapa nama yang menonjol untuk kebutuhan tersebut: Vivo Y31d Pro dengan baterai 7.000 mAh dan 90W FlashCharge, Xiaomi Redmi 15 dengan teknologi baterai silikon-karbon dan layar 144Hz, serta Motorola G06 Power yang menawarkan daya tahan hingga 65 jam penggunaan normal di kisaran Rp2 jutaan dengan sertifikasi IP64.
Satu benang merah yang agaknya mengikat semua segmen tahun ini: kompetisi chipset antara MediaTek dan Qualcomm di kelas menengah semakin brutal, dan konsumenlah yang menang. MediaTek seri Dimensity mendominasi kelas entry hingga mid-range dengan manajemen termal yang stabil, sementara Snapdragon mulai turun kelas lebih agresif ke segmen Rp3-4 jutaan. Hasilnya, perangkat yang dulu cuma ada di angan-angan dengan anggaran terbatas kini sudah berderet di etalase.
Pertanyaannya bukan lagi soal apakah hp murah bisa dipakai gaming. Pertanyaan yang lebih relevan sekarang: fitur mana yang rela kamu korbankan?