Kalau ada satu kolaborasi teknologi yang layak dicermati tahun ini, kemitraan antara Silicon Quantum Computing (SQC) dan AMD agaknya masuk daftar teratas. Perusahaan deep-tech asal Sydney, Australia itu mengumumkan kerja sama strategis dengan raksasa semikonduktor AMD untuk mengembangkan prosesor kuantum berbasis silikon, dengan target komersial yang sudah dipatok: 2033.
SQC bukan pemain baru. Lahir sebagai spin-off dari institusi akademis Australia, perusahaan ini sudah mengantongi pendanaan sebesar AU$180 juta atau sekitar Rp1,9 triliun, ditopang tim 85 insinyur yang khusus menggarap teknologi komputasi generasi berikutnya. Yang membuat mereka berbeda dari kompetitor global adalah metode fabrikasi yang, jujur saja, terdengar seperti sihir: menempatkan atom fosfor tunggal ke dalam silikon murni isotopik dengan akurasi 0,13 nanometer. Bukan main.
Presisi setingkat atom itu bukan sekadar pencapaian teknis untuk dipamerkan di jurnal ilmiah. Ini krusial untuk menekan noise, menjaga stabilitas qubit, dan memastikan sistem kuantum bisa beroperasi andal di luar laboratorium. Qubit, berbeda dari bit komputer biasa yang hanya mengenal nilai 0 atau 1, mampu berada dalam beberapa kondisi sekaligus. Kapasitas komputasinya pun berlipat-lipat dibanding mesin konvensional.
"Menghadirkan komputer kuantum skala komersial membutuhkan hardware paling modern di dunia serta hubungan yang kuat dengan penyedia hardware. Kami bangga menggunakan produk AMD, dan kami menjalani perjalanan ini bersama-sama," ungkap Michelle Simmons, Founder dan CEO SQC.
Peran AMD dalam proyek ini bukan sekadar nama besar yang ditempel di brosur. SQC mengintegrasikan platform AMD Zynq UltraScale+ RFSoC sebagai jembatan antara dunia kuantum dan klasik, memungkinkan kontrol serta pembacaan qubit secara real-time. Klaster prosesor AMD Ryzen Threadripper dipakai intensif untuk simulasi dan pemodelan perangkat lunak kuantum di balik layar.
Head of Software SQC Ramon Buckland menegaskan bahwa kendali penuh atas setiap aspek pulsa analog menjadi penentu keberhasilan seluruh sistem. "Dengan mengendalikan setiap aspek, hingga pulsa analog untuk kontrol qubit, kami memaksimalkan keandalan dan performa. Platform AMD memungkinkan kami mengirim instruksi ke qubit dengan kecepatan yang dibutuhkan komputasi kuantum," kata Buckland. Ia bahkan menambahkan pujian yang cukup jarang terdengar dari seorang insinyur hardware: ketika produk AMD diterima, firmware di-deploy dan semuanya langsung berjalan sempurna.
Alan Mujumdar, Lead of Hardware Team SQC, menyoroti sudut berbeda. "Fleksibilitas platform AMD tidak tertandingi. Itu pilihan paling jelas untuk kebutuhan kami karena mampu menyeimbangkan kemampuan analog dan digital secara mulus," sebut Mujumdar.
Teknologi ini bukan lagi eksperimen murni. SQC sudah meluncurkan sistem berbasis kuantum bernama "Watermelon" dan "Quantum Twins" untuk keperluan machine learning kuantum, dan sudah mulai diuji coba di sektor nyata. Perusahaan telekomunikasi menggunakannya untuk analisis kondisi jaringan dan mitigasi gangguan operasional. Di sektor keuangan, sistem ini membantu deteksi pencucian uang dan penilaian akun berisiko tinggi. Korporasi energi memanfaatkannya untuk mengoptimalkan distribusi daya dan memprediksi lonjakan beban listrik. Soal potensi di sektor pertahanan, agaknya masih terlalu sensitif untuk dirinci secara publik.
SQC bahkan sudah merancang sistem quantum machine learning yang diklaim mampu memangkas waktu pelatihan model AI sekaligus menekan konsumsi energi pusat data. Dua masalah yang tengah jadi mimpi buruk industri AI global. Pertanyaannya, berapa lama klaim ini bisa dibuktikan di skala produksi?
Simmons melihat masa depan komputasi bukan sebagai persaingan antara kuantum dan klasik, melainkan konvergensi keduanya bersama AI. "Pelanggan kami adalah perusahaan-perusahaan terbesar di dunia, dengan anggaran R&D yang besar dan fokus kuat pada teknologi frontier. Sistem kuantum, klasik, dan AI akan bekerja berdampingan. Komputasi heterogen adalah masa depan," tegasnya.
Ratusan desain chip diproduksi dan diuji setiap tahun, firmware diperbarui berkala. Dengan peta jalan sepresisi teknologinya sendiri, SQC dan AMD tampak paling siap menjawab pertanyaan yang sudah lama menggantung: siapa yang sampai duluan?