Biaya lelang spektrum kali ini memang jauh lebih bersahabat. Tapi "lebih murah" tidak serta-merta berarti "tanpa beban", dan pelaku pasar yang mau masuk ke saham-saham telko perlu memahami bedanya.
Komdigi pekan lalu mengumumkan hasil seleksi pita frekuensi 700MHz dan 2,6GHz untuk jaringan bergerak seluler, menutup rangkaian proses yang sudah berjalan sejak April 2026. Tiga operator besar keluar dengan tambahan spektrum di tangan: Telkomsel, PT Indosat Tbk (ISAT), dan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL).
Di pita 700MHz, EXCL tampil paling agresif. Alokasi mereka terbesar: 30MHz atau setara 2x15MHz. Telkomsel dan ISAT masing-masing mengantongi 20MHz (2x10MHz). Angka ini tidak bisa diabaikan begitu saja, karena 700MHz adalah pita "emas" untuk 5G, frekuensi rendah dengan jangkauan luas dan penetrasi gedung yang jauh lebih baik dibanding pita menengah ke atas.
Soal harga, ada pergeseran yang cukup mencolok. Biaya tahunan pita 2,6GHz disepakati di kisaran Rp4,6 miliar hingga Rp6,8 miliar per MHz, amblas jauh dibanding lelang 2017 dan 2021 yang waktu itu tembus Rp18 miliar hingga Rp34 miliar per MHz. Selisihnya bukan kecil. Untuk pita 700MHz, fee-nya berkisar Rp25 miliar hingga Rp35 miliar per MHz, relatif sebanding dengan acuan lelang 2015-2016 di angka Rp33 miliar per MHz.
Jadi memang lebih ringan, setidaknya untuk komponen spektrumnya.
Masalahnya, spektrum baru bukan berarti infrastruktur baru datang sendiri. Setelah frekuensi di tangan, operator masih harus menggelontorkan capex untuk membangun atau mengupgrade BTS, memperluas backhaul, dan mengintegrasikan jaringan 5G yang sesungguhnya. Beban investasi itu belum selesai. Baru dimulai.
Di sinilah postur masing-masing emiten mulai terlihat berbeda. EXCL yang kini bersatu di bawah bendera XLSMART pasca merger dengan Smartfren membawa neraca dan skala capex yang sama sekali lain dibanding Telkomsel yang masih disokong kuat Telkom Group. ISAT sendiri sudah beberapa kuartal terakhir dalam mode agresif soal investasi jaringan, entah kebetulan atau tidak, beriringan dengan tekanan dari induk IOH untuk memperkuat posisi di pasar.
Analis Indo Premier Sekuritas, Aurelia Barus dan Belva Monica, melihat prospek emiten telekomunikasi masih menarik hingga akhir 2026. Argumen itu agaknya cukup masuk akal jika mempertimbangkan momentum pemerintah yang aktif membuka akses spektrum, termasuk sebelumnya di pita 1,4GHz untuk fixed broadband. Tapi "menarik" sebagai sektor tidak selalu berarti semua emiten di dalamnya bergerak bersamaan.
Pertanyaannya justru lebih spesifik dari itu: siapa yang punya ruang neraca cukup untuk memonetisasi spektrum baru ini lebih cepat, tanpa harus mengorbankan profitabilitas jangka pendek? Jawaban atas pertanyaan itulah yang akan memisahkan saham telko mana yang layak dicermati dari yang sebaiknya ditonton dulu dari pinggir lapangan.