Tiga dekade tradisi beli kaset PlayStation akan berakhir Januari 2028. Sony Interactive Entertainment resmi mengumumkan seluruh game baru di ekosistem PlayStation tidak akan lagi hadir dalam format fisik, dan keputusan ini membelah dua pihak secara keras: Wall Street bersuka cita, komunitas gamer mendidih.
Saham Sony di Bursa Tokyo melesat sekitar 8,6% sejak pengumuman pada 1 Juli, sementara saham yang diperdagangkan di NYSE ikut terkerek hampir 6% dalam periode yang sama. Logika pasarnya gamblang: tanpa disc, setiap transaksi game baru otomatis mengalir lewat PlayStation Store, di mana Sony berkuasa penuh atas harga dan margin. Perusahaan sendiri mengklaim format digital sudah mencapai hampir 80% dari total penjualan game penuh mereka tahun lalu. Angka yang patut dicermati, mengingat komunitas langsung merespons dengan skeptis.
Delapan Catatan Komunitas kini menempel di postingan pengumuman Sony di platform X, semuanya dinilai berguna oleh pengguna. Beberapa catatan itu mendebat angka 78/22 perbandingan digital versus fisik versi Sony, dengan argumen bahwa hitungan tersebut memasukkan DLC, game layanan live, dan judul yang memang sejak awal eksklusif digital. Data bocoran dari Insomniac yang sempat beredar bahkan menunjukkan porsi disc jauh lebih tinggi untuk game single-player besutan Sony sendiri. Pertanyaannya, kenapa Sony masih memilih diam?
Petisi di Change.org bertajuk "Don't Kill the Disc" sudah meraup lebih dari 166.000 tanda tangan terverifikasi hanya dalam beberapa hari setelah kampanye dimulai pada 1 Juli. Postingan pengumuman Sony tanggal 1 Juli melampaui 162 juta tayangan, angka yang bahkan menyalip tayangan trailer resmi perdana GTA 6. Masif.
Sid Shuman, Senior Director Sony Interactive Entertainment Content Communications, berdalih langkah ini semata mengikuti pergeseran perilaku konsumen. "Transisi ini akan memungkinkan kita untuk lebih selaras dengan bagaimana sebagian besar komunitas kita lebih suka mengakses dan bermain game hari ini," ujar Shuman. Ia menegaskan kebijakan ini tidak berlaku retroaktif, sehingga game yang sudah atau akan dirilis sebelum Januari 2028 dalam format disc tetap aman.
Framing "mengikuti konsumen" itulah yang justru dipersoalkan. Lucia Melcherts, Ketua organisasi perlindungan konsumen asal Belanda Stichting Massaschade & Consument, menyebut penghapusan disc bukan layanan, melainkan konsolidasi kekuasaan. "Tanpa cakram berarti tidak ada pasar barang bekas dan tidak ada alternatif selain PlayStation Store. Jadi mulai 2028, Sony sendiri yang menentukan harga sebuah game dan bahkan berapa lama Anda diizinkan untuk menggunakannya," kata Melcherts. Organisasinya mewakili sekitar 1,7 juta pengguna PlayStation di Belanda dan menggugat Sony lebih dari 400 juta euro, sekitar Rp8 triliun, dalam kasus yang mereka sebut "Fair PlayStation."
Ini bukan front hukum satu-satunya. Di Inggris, gugatan "PlayStation You Owe Us" yang diajukan Alex Neill masih bergulir di Competition Appeal Tribunal London, dengan nilai tuntutan mencapai 2 miliar pound sterling atau sekitar Rp44 triliun. Di Amerika Serikat, Sony sudah mencapai persetujuan awal atas gugatan class action terkait dugaan penetapan harga game digital yang tidak wajar.
Kekhawatiran soal kepemilikan digital makin menguat setelah Sony pada Juni lalu mengumumkan rencana menghapus film-film StudioCanal yang sudah dibeli pengguna dari akun PlayStation mereka mulai September nanti. Bagi banyak gamer, ini menjadi bukti nyata bahwa membeli konten digital bukan berarti memiliki, melainkan hanya menyewa lisensi yang bisa dicabut kapan saja, oleh siapa pun yang memegang server-nya.
Bersamaan dengan semua ini, Sony mengumumkan penutupan PlayStation Store untuk PS3 dan PS Vita secara bertahap. Tahap pertama dimulai Agustus 2026 di Meksiko, Honduras, dan Nikaragua, kemudian meluas ke Amerika Latin dan Timur Tengah akhir 2026, sebelum ditutup global pada Juli 2027. Shuman menyebut PS3 dan PS Vita tidak lagi mampu mendukung standar pemrosesan pembayaran modern yang dibutuhkan platform.
Sony sudah enam hari bungkam menghadapi gelombang protes ini. Yang belum jelas, apakah mereka akan bertahan diam sampai GTA 6 rilis tanpa disc November nanti, atau terpaksa angkat bicara sebelum api protesnya makin besar.