Sony tidak main-main soal audio kreator. Dalam satu gerakan, perusahaan Jepang ini memperkenalkan dua mikrofon berbeda segmen: ECM-W5, kit wireless yang terang-terangan membidik DJI, dan ECM-AX10, mikrofon audio spasial untuk pengguna smartphone yang mencari sesuatu lebih dari sekadar suara jernih.
ECM-W5 dibanderol US$400 atau sekitar Rp6,4 juta per kit. Angka itu langsung menempatkannya di atas DJI Mic 3 yang dijual US$259 dan DJI Mic Mini di US$99. Sony agaknya sadar positioning ini tidak mudah dijual, eh, tidak mudah dipasarkan, karena mereka perlu menawarkan lebih dari sekadar nama besar.
Kit ECM-W5 berisi satu receiver dan dua transmitter, mampu merekam audio 96kHz dari jarak hingga 500 meter dalam kondisi line-of-sight. Nilai jual utamanya ada di memori internal 64GB tiap transmitter, plus dukungan perekaman 32-bit float. Format ini memungkinkan kreator menangkap audio tanpa pusing mengatur gain, suara yang terlalu pelan maupun terlalu keras bisa diselamatkan di tahap pasca-produksi. Bagi videografer yang sering merekam di lokasi bising atau tak terduga, bukan fitur kecil ini.
Integrasi paling mulus jelas buat pengguna kamera Alpha. Receiver ECM-W5 terhubung lewat Multi Interface Shoe, yang menangani daya dan transfer data sekaligus tanpa kabel tambahan. Bagi yang tidak punya kamera Sony, adapter USB-C disertakan agar perangkat tetap bisa dipakai di smartphone atau PC. Mau tambah trek? Beli transmitter ECM-W5T seharga US$120 per unit secara terpisah, dan kit ini bisa merekam hingga empat trek sekaligus. Daya tahan baterai transmitter diklaim 11 jam, backplate magnetik disertakan untuk pemakaian di kaus, dan receiver standalone ECM-W5R juga tersedia pre-order di US$190.
Jujur saja, sulit membayangkan ECM-W5 jadi pilihan utama kreator yang tidak punya ekosistem Sony. DJI sudah terlalu kuat di segmen ini dengan harga yang jauh lebih kompetitif. Tapi buat pengguna Alpha yang selama ini harus "keluar ekosistem" untuk dapat mikrofon wireless layak, ECM-W5 bisa jadi jawaban yang mereka tunggu.
Lapangan berbeda. ECM-AX10 masuk dengan angle yang sama sekali berlainan: diperkenalkan 8 Oktober 2026 dengan harga US$249,99 atau sekitar Rp4,5 juta, Sony mengklaimnya sebagai mikrofon smartphone pertama yang memperoleh sertifikasi Eclipsa Audio. Konfigurasinya mengandalkan empat kapsul omnidirectional yang merekam suara dari segala arah, bukan hanya fokus ke depan seperti mikrofon konvensional.
Target penggunanya gamblang: kreator yang merekam festival musik, pertandingan olahraga, atau denyut kota, di mana karakter akustik lingkungan justru jadi bagian dari ceritanya. ECM-AX10 menyediakan tiga mode perekaman: Ambisonics, binaural, dan stereo. Mode Ambisonics memanfaatkan keempat kapsul untuk merekam representasi ruang suara menyeluruh dan bisa diekspor ke YouTube dalam format Eclipsa Audio melalui aplikasi Spatial Audio Video Tool. Mode binaural menghasilkan kesan tiga dimensi saat didengarkan lewat headphone. Stereo tersedia untuk kebutuhan sehari-hari.
24 gram. Segitu bobotnya, ringan untuk perangkat yang klaimnya segini besar. Koneksi USB-C langsung ke smartphone tanpa receiver terpisah, dilengkapi pelindung angin, kabel ekstensi, dan dudukan cold shoe. Ada juga akselerometer internal yang mendeteksi orientasi mikrofon agar arah audio bisa diselaraskan otomatis dengan video. Keluaran headphone 3,5 mm tersedia untuk monitoring langsung.
Satu catatan yang tidak boleh luput: dukungan perekaman video 4K lewat alur aplikasi baru dijadwalkan mulai Desember 2026, bukan saat produk pertama dikirim. Persyaratan sistem operasi juga tidak main-main, iOS 18 atau Android 14 ke atas, plus Sony menyarankan pengecekan daftar kompatibilitas resmi karena tidak semua model smartphone sudah diuji. Kalau data ini bisa dipercaya, produk ini baru "penuh" beberapa bulan setelah dijual.
Dua produk, dua taruhan. ECM-W5 adalah sinyal Sony bahwa mereka serius merebut segmen wireless yang selama ini dihajar DJI. ECM-AX10 bak kuda gelap, format audio spasial belum tentu semua kreator butuhkan hari ini, tapi bisa jadi standar produksi video beberapa tahun lagi. Pertanyaannya tinggal satu: apakah kreator Indonesia siap membayar preminya?