Dua ratus kilogram sawi pahit membusuk di atas bak truk. Onas Sebayang, sopir pengangkut sayuran asal Kabupaten Karo, sudah muter dari satu SPBU ke SPBU lain sepanjang jalur Karo-Medan, tapi solar tak kunjung dapat. Perjalanan yang normalnya dua jam molor jadi lima jam. Sayuran yang ia beli Rp 4.000 per kilogram tidak laku meski dijual setengah harga, Rp 2.000. Kamis (16/7/2026), Onas bukan satu-satunya. Ia adalah potret dari krisis BBM yang tengah memukul Sumatera dari banyak sisi sekaligus.
Pemicunya sudah dijelaskan Wakil Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Taufik Aditiyawarman: terjadi pergeseran konsumsi besar-besaran ke Pertalite dan Biosolar setelah harga BBM nonsubsidi naik. Kapasitas distribusi dari terminal ke SPBU tidak siap mengimbangi. Keterlambatan pasokan memicu panic buying. Panic buying memperparah kelangkaan. Lingkaran setan yang klasik, tapi kali ini dampaknya bukan main.
Kepala Perwakilan Ombudsman Sumatera Utara Herdensi menilai kepanikan itu diperburuk oleh minimnya informasi. Pernyataan resmi bahwa stok nasional aman terasa hampa ketika di lapangan antrean mengular hingga beberapa kilometer. "Ketidakjelasan informasi membuat warga semakin panik," kata Herdensi. Ia mendesak Pertamina dan pemerintah menyampaikan perkembangan secara terbuka dan berkala, bukan sekadar meyakinkan publik bahwa situasi terkendali.
Pertamina memang sudah bergerak: menambah armada mobil tangki, mengoperasikan terminal BBM 24 jam, meningkatkan frekuensi distribusi ke SPBU. Di Deli Serdang, Polresta setempat menerjunkan personel ke titik-titik SPBU di jalur lintas Sumatera Utara, mengatur antrean kendaraan roda dua dan roda empat agar tidak tumpah ke badan jalan. Kapolresta Deli Serdang Kombes Pol Hendria Lesmana menegaskan petugas aktif memantau ketersediaan stok sekaligus melarang pengisian menggunakan jerigen ilegal yang kerap memperpanjang antrean. Situasi di sejumlah SPBU pun berangsur lebih tertib.
Tapi tertib di SPBU bukan berarti krisis selesai. Sektor transportasi sudah babak belur. Sekretaris Jenderal Organda Kurnia Lesani Adnan mencatat utilisasi angkutan darat anjlok sekitar 30 persen. Waktu tempuh Jakarta-Jambi yang lazimnya tiga hari dua malam kini molor jadi empat hari tiga malam, menurut Koordinator Asosiasi Sopir Logistik Indonesia Pulau Sumatera Sunaryono. Biaya logistik terkerek 3-5 persen, sementara perusahaan angkutan tidak punya ruang menaikkan tarif karena daya beli masyarakat memang sedang tidak bagus. Margin usaha menyusut. Distribusi barang ke pelosok ikut tersendat. Ada pula laporan sopir meninggal saat mengantre solar di SPBU, detail yang agaknya luput dari perhatian banyak pihak.
Yang ironis: di tingkat petani harga jatuh karena panen tidak bisa diangkut, sementara di kota harga pangan tetap tinggi karena pasokan menyusut. Pertanyaannya, berapa lama ketimpangan ini bisa ditanggung? Kelangkaan BBM sudah berubah rupa menjadi krisis ketahanan pangan.
Dari sudut kebijakan, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan Bisman Bhaktiar memperingatkan efek domino ke inflasi dan stabilitas sosial jika krisis tidak segera ditangani secara sistematis. Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menyebut fenomena ini cermin retak dari rendahnya sense of crisis pemerintah, dan mendesak evaluasi menyeluruh terhadap lembaga yang menangani distribusi energi sekaligus memastikan pendanaan BUMN strategis tetap memadai.
Menambah pasokan perlu, itu sudah jelas. Tapi kalau data dan pengalaman lapangan ini bisa dipercaya, masalahnya jauh lebih dalam dari sekadar kuota.