Qualcomm sedang bermain di dua meja sekaligus, dan keduanya terlihat menguntungkan.
Di sisi bawah, pasar HP Rp2 jutaan dengan chipset Snapdragon justru semakin ramai di pertengahan 2026. Bukan karena persaingan melonggar, tapi sebaliknya: makin banyak vendor yang serius menggarap segmen ini. Snapdragon 685, 680, 6s Gen 3, dan 4 Gen 2 kini jadi nama-nama yang akrab di rak toko dengan banderol di bawah Rp2,5 juta. Redmi Note 13 pakai Snapdragon 685 dengan layar AMOLED 120Hz, Realme C67 andalkan kamera 108MP di platform yang sama, sementara OPPO A60 dengan Snapdragon 680 bahkan sudah bersertifikasi tahan guncangan standar militer AS. Bukan spesifikasi kaleng-kaleng untuk harga segitu.
Sisi atasnya justru yang bikin kepala menoleh. Qualcomm resmi meluncurkan Snapdragon 8s Gen 4 dengan fabrikasi 4 nanometer, dan respons vendor global terbilang cepat sekali. OnePlus, Poco, iQoo, sampai Oppo langsung berebut posisi. Tujuannya jelas: menghadirkan performa kelas flagship dengan harga yang tidak bikin dompet menjerit, di saat harga komponen semikonduktor belum juga jinak.
OnePlus Nord 6 jadi salah satu yang paling agresif dari segi spesifikasi. Layar AMOLED 6,78 inci dengan refresh rate 165Hz dan kecerahan puncak 3.600 nits, baterai 7.500mAh dengan pengisian 80W untuk varian global, bahkan varian India mendapat kapasitas jumbo 9.000mAh plus fitur reverse wired charging 27W. Dukungan empat kali pembaruan Android utama berbasis Android 16 juga jadi nilai jual yang jarang ditonjolkan pesaing di kelas ini.
Poco F7 hadir dengan gaya khas Xiaomi: serba ekstrem. Layar AMOLED 6,83 inci dengan Dolby Vision, kecerahan 3.200 nits, pengisian 90W. Kapasitas baterainya dibedakan per pasar, eh, maksudnya: 6.500mAh untuk global, 7.550mAh untuk India. Strategi yang agaknya dihitung cermat berdasarkan kebiasaan konsumsi daya pengguna di masing-masing wilayah. Berjalan di Android 15, bukan Android 16.
iQoo Neo 10 ambil sudut berbeda. Fokusnya ke gamer mobile, dan fitur bypass charging-nya memungkinkan perangkat tetap dingin saat dipakai main sambil dicas, kombinasi yang selama ini jadi keluhan klasik pengguna ponsel gaming. Baterai 7.000mAh dengan SuperVOOC 120W, layar 144Hz, semuanya mengarah ke satu target pasar yang spesifik. Rapi sekali.
Oppo K13 Turbo Pro mungkin yang paling menarik dari sudut teknis. Vendor ini menanamkan kipas pendingin internal di dalam bodi untuk menjaga Snapdragon 8s Gen 4 dari thermal throttling. Langkah tidak lazim untuk ponsel non-flagship. Bisa jadi sinyal bahwa para produsen mulai serius mengatasi masalah panas yang kerap menghantui chipset performa tinggi di bodi tipis. Spesifikasi lainnya: layar AMOLED 6,8 inci, baterai 7.000mAh dengan pengisian cepat 80W, kamera utama 50MP.
Gambar besarnya begini: Qualcomm berhasil membangun ekosistem yang menekan harga di hampir semua segmen. Di kelas Rp2 jutaan, konsumen dapat chipset efisien dengan fitur yang dulu eksklusif kelas menengah atas. Di kelas yang lebih tinggi, Snapdragon 8s Gen 4 memungkinkan vendor menjual performa mendekati flagship tanpa banderol flagship. Pertanyaannya sekarang bukan lagi soal apakah HP murah bisa layak pakai. Pertanyaannya: seberapa lama batas antara "murah" dan "mahal" ini masih relevan?